Kinerja Jababeka: Pendapatan Naik 16%, Laba Bersih Turun 38%

Jababeka (KIJA) mencatat pendapatan sembilan bulan 2026 naik 16 persen, tetapi laba bersih turun 38 persen karena beban refinancing Senior Notes.

Diterbitkan 08 November 2026, 12:17 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 4.254,9 miliar atau Rp 4,25 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Capaian ini tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3.674,7 miliar.

Meski pendapatan tumbuh positif, laba bersih perseroan terkoreksi 38 persen menjadi Rp 391,7 miliar dari sebelumnya Rp 634,6 miliar.

Manajemen membeberkan bahwa penurunan laba bersih tersebut disebabkan oleh beban satu kali (one-off charge) pada kuartal II 2026. Langkah strategis ini diambil perseroan saat mengganti Senior Notes berdenominasi Dolar AS menjadi fasilitas pinjaman bank berdenominasi Rupiah.

Beban tersebut meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen lindung nilai (hedging), serta amortisasi dipercepat atas Senior Notes yang sejatinya jatuh tempo pada 2027.

"Langkah ini diharapkan memberikan manfaat keuangan jangka panjang, meskipun berdampak sementara terhadap kinerja keuangan pada periode berjalan," tulis manajemen Jababeka dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).

Secara operasional, laba bruto konsolidasian KIJA naik 7 persen menjadi Rp 1.577,8 miliar dari Rp 1.472,8 miliar. EBITDA perseroan juga terkerek 4 persen menjadi Rp 1.362,4 miliar, dengan posisi saldo kas konsolidasian mencapai Rp 3.153,7 miliar.

 

Rincian Kinerja Pilar Bisnis Properti dan Infrastruktur

Pilar Land Development & Property mencatatkan pendapatan Rp 1.914,8 miliar, melonjak 17 persen dari periode sebelumnya. Penjualan tanah dan bangunan pabrik tumbuh agresif hingga 291 persen menjadi Rp 126,0 miliar dari Rp 32,2 miliar. Penjualan tanah matang turut menyumbang Rp 1.629,5 miliar, sementara penjualan tanah dan rumah tumbuh 18 persen menjadi Rp 77,8 miliar.

Pilar Infrastruktur memberikan kontribusi pendapatan berulang (recurring income) terbesar mencapai Rp 2.242,5 miliar atau 53 persen dari total pendapatan perseroan.

Segmen ketenagalistrikan mengumpulkan Rp 1.505,2 miliar seiring meningkatnya konsumsi listrik tenant di kawasan industri Kendal dan Cikarang. Segmen jasa dan pemeliharaan tumbuh 33 persen menjadi Rp 525,6 miliar, sedangkan Cikarang Dry Port menyumbang Rp 211,8 miliar.

Adapun pilar Leisure & Hospitality mengontribusikan pendapatan Rp 97,6 miliar, di mana bisnis lapangan golf menyumbang sekitar 65 persen.

 

Ekspansi Investor Asal Tiongkok dan Prospek 2027

Sampai dengan kuartal III 2026, marketing sales pilar Pengembangan Lahan & Properti Jababeka menembus Rp 1,52 triliun.

Di Kawasan Industri Kendal, investor global dan lokal terus mengekspansi lahan. Produsen peralatan rumah tangga asal Indonesia membeli lahan 9,7 hektare, diikuti produsen baterai asal Tiongkok (7 hektare), serta produsen kulit sintetis asal Tiongkok (6 hektare). Sementara di Cikarang, lahan industri terserap oleh perusahaan tekstil lokal, sektor ketenagalistrikan, serta importir bahan bangunan asal Tiongkok.

Manajemen menegaskan bahwa realisasi transaksi sangat bergantung pada pertimbangan komersial masing-masing investor yang saat ini cenderung lebih berhati-hati.

"Kondisi pasar saat ini mendorong investor untuk mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dalam menentukan keputusan investasi," jelas pihak Jababeka.

Menghadapi tantangan tersebut, Jababeka memfokuskan strategi pada penguatan sales pipeline serta konversi peluang bisnis. Perseroan optimistis prospek bisnis properti industri jangka menengah akan jauh lebih kondusif pada 2027 mendatang.