Dua Pendaki Hilang di Semeru, Diduga Mendaki Tanpa Izin

​ Berdasarkan informasi awal, kedua pendaki berangkat menuju kawasan Semeru pada 31 Oktober 2026.

Diterbitkan 07 November 2026, 17:16 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dua pendaki muda berinisial BK (19) dan MWF (19) dilaporkan hilang di kawasan Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Keduanya diduga melakukan pendakian tanpa mengantongi izin resmi atau illegal hiking.

Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Banyuwangi telah mengerahkan tim gabungan untuk mencari keberadaan kedua pemuda tersebut.

Informasi kehilangan mereka diterima dari Kepala Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Ranu Pani pada Sabtu (7/11/2026) sore.

Berdasarkan informasi awal, kedua pendaki berangkat menuju kawasan Semeru pada 31 Oktober 2026. Namun, komunikasi dengan keduanya terputus sejak 2 November 2026 pukul 21.00 WIB.

Petunjuk awal keberadaan mereka diperoleh setelah sepeda motor sewaan yang digunakan dari Terminal Lumajang ditemukan terparkir di area ladang milik warga di Ranu Pani pada Jumat (6/11/2026).

Kepala Kantor SAR Banyuwangi, I Made Oka Astawa, mengatakan tim pencarian dari Pos SAR Jember dan Kantor SAR Banyuwangi telah diberangkatkan menuju lokasi.

"Tim Rescue Pos SAR Jember dan Kantor SAR Banyuwangi sudah kami berangkatkan menuju Ranu Pani. Operasi ini mengandalkan sinergi bersama unsur TNBTS, BPBD Lumajang, kepolisian, serta warga lokal," kata Oka kepada wartawan, Sabtu (7/11/2026).

Dalam operasi tersebut, tim SAR membawa sejumlah peralatan untuk mendukung pencarian di medan pegunungan. Peralatan yang disiapkan antara lain drone thermal untuk mendeteksi suhu tubuh dari udara, perlengkapan penyelamatan di hutan dan gunung, serta sarana medis untuk evakuasi.

"Hingga saat ini, proses pencarian intensif masih terus berlangsung di tengah cuaca lokasi yang terpantau cerah berawan," tambah Oka.

 

Gunung Semeru Kembali Erupsi

Di tengah operasi pencarian, aktivitas vulkanik Gunung Semeru juga dilaporkan meningkat. Gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami erupsi pada Sabtu (7/11/2026) dini hari, disertai luncuran awan panas guguran (APG) sejauh 5,5 kilometer.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, melaporkan erupsi terjadi pada pukul 00.11 WIB dengan durasi sekitar enam menit.

"Kolom letusan teramati setinggi kurang lebih satu kilometer di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut. Kolom abunya tampak tebal berwarna kelabu dan condong ke arah selatan serta barat daya," ujar Sigit.

Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 33 milimeter. Sehari sebelumnya, Jumat (6/11/2026) sore, Semeru juga meluncurkan awan panas guguran sejauh lima kilometer ke arah tenggara, tepatnya menuju Besuk Kobokan.

Meski aktivitas vulkanik meningkat, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, menyatakan aktivitas warga di lereng gunung masih berjalan normal.

"Aktivitas warga berjalan lancar karena zona merah rawan bencana erupsi sudah steril dari aktivitas masyarakat," kata Isnugroho.

Kendati demikian, BPBD Lumajang bersama Tim Reaksi Cepat, TNI, dan Polri tetap menyiagakan personel di Pos Pantau Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo untuk mengantisipasi peningkatan aktivitas vulkanik.