Lawan Aset Amerika, BI Ungkap Strategi Gaet Modal Asing

Bank Indonesia tebar insentif diskon biaya hedging hingga 30% demi pikat modal asing dan amankan pasokan dolar AS di dalam negeri.

Diterbitkan 23 September 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyiapkan kebijakan insentif biaya lindung nilai (hedging) demi menarik aliran modal asing (inflow) ke dalam negeri. Langkah ini menjadi strategi utama BI untuk menandingi daya tarik aset Amerika Serikat di tengah era suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer).

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa kondisi higher for longer di AS telah memicu kenaikan indeks dolar AS (DXY) serta imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Akibatnya, aset AS menjadi sangat memikat bagi investor global, yang berpotensi memicu tekanan arus modal keluar (outflow) dari negara berkembang.

"Dengan kondisi higher for longer di Amerika, DXY naik, USD yield naik, itu menyebabkan aset di Amerika menjadi menarik. Nah, ini yang tentunya harus bisa kita counter," kata Destry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Kantor BI, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Destry menyampaikan bahwa BI sebelumnya mengandalkan kebijakan suku bunga untuk meredam ketidakpastian global dan risiko outflow. BI tercatat menaikkan BI-Rate secara bertahap sebesar 100 basis poin sepanjang Mei hingga Juli 2026 (masing-masing 50 bps, 25 bps, dan 25 bps).

Namun, BI kini tidak lagi mengandalkan suku bunga sebagai instrumen tunggal. Bank sentral mengarahkan kebijakan yang lebih spesifik dan terukur melalui pemberian diskon biaya hedging.

"Sekarang kita coba kebijakan baru yang targeted. Itu apa? Bagaimana kita bisa mendorong inflow masuk," ujar Destry.

Diskon Makin Besar untuk Tenor Panjang

Dalam skema ini, investor asing yang menanamkan modalnya perlu mengonversi valuta asing ke rupiah. Investor biasanya memanfaatkan transaksi swap atau Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk memagari risiko nilai tukar sebelum menempatkan dana pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Guna memikat investor menanamkan modal dalam jangka lebih lama, BI memberikan potongan biaya yang kian membesar pada tenor panjang: 

  • Transaksi Swap: Diskon premi sebesar 15% untuk tenor 3 bulan, 20% untuk tenor 6 bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan.
  • Transaksi DNDF: Diskon lebih tinggi, yakni 25% untuk tenor 6 bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan.

Melalui insentif DNDF ini, investor didorong untuk menjual pasokan dolar AS di pasar domestik sehingga ketersediaan valuta asing di dalam negeri semakin melimpah.

"Kalau dia makin longer naruh di sini, baik itu swap ataupun DNDF sampai ke satu tahun, maka kita berikan insentif yang lebih besar," tutur Destry.

Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga

BI mencatat aliran modal asing secara tahun berjalan (year to date) sebenarnya telah mengalir deras ke instrumen SBN dan pasar saham. Mendasari optimisme ini, indikator ekonomi dalam negeri pun terus menunjukkan pemulihan positif. Konsumsi masyarakat dan aktivitas bisnis berkembang pesat, neraca perdagangan Juli 2026 tetap surplus, serta defisit transaksi berjalan (current account deficit) terjaga stabil di level 1,46%.

Kombinasi insentif hedging ini diharapkan dapat menjaga pasokan pasokan valuta asing secara berkelanjutan sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

"Inilah yang sangat dibutuhkan dalam rangka menambah supply dolar dan menjaga nilai tukar rupiah kita," pungkas Destry.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6