5 Program untuk Pulihkan Pendidikan Pascabencana Sumatera

Pemulihan pendidikan tak hanya menyasar sekolah, tetapi juga siswa dan guru yang terdampak bencana.

Diterbitkan 24 September 2026, 00:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Mendikdasmen meluncurkan lima program pemulihan pendidikan pascabencana di Aceh, Sumut, Sumbar.
  • Program meliputi pembangunan sekolah, sarana, bantuan guru, dukungan belajar, dan pendampingan psikososial.
  • Fokus memastikan pembelajaran berjalan, terutama bagi siswa kelas 12, dengan sebagian besar kembali ke sekolah asal.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkap program pemulihan bagi anak-anak, sekolah, serta guru atau tenaga pengajar pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus dilakukan.

Hal itu disampaikan Mu'ti bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera.

"Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ada lima program yang kami selenggarakan," ujar Mu'ti usai Rapat Koordinasi Perkembangan Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Provinsi Aceh, Sumut, Sumbar di Bidang Pendidikan yang berlangsung di Posko Satgas PRR, Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Dia memaparkan, program pertama adalah pembangunan kembali sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan ringan, rusak berat, maupun yang harus dibangun total karena kerusakan sangat parah. Mu'ti memastikan pembangunan fisik sekolah menjadi salah satu program pemulihan.

"Yang kedua adalah program pemenuhan sarana dan prasarana pembelajaran. Jadi, kami memberikan bantuan untuk sekolah-sekolah itu, pertama peralatan belajar seperti meja, kursi, laboratorium, dan sebagainya, kemudian buku-buku pelajaran, dan juga bantuan-bantuan untuk mendukung dan memastikan pembelajaran berlangsung sebagaimana mestinya," papar Mu'ti.

 

Program Selanjutnya

Program ketiga, lanjut Mu'ti, adalah bantuan untuk guru-guru dalam bentuk pelatihan dan insentif.

"Kami memberikan insentif untuk guru-guru yang terdampak maupun tenaga kependidikan yang terdampak, nanti angka-angkanya semua ada di sini," ucap dia.

Kemudian, lanjut Mu'ti, ada pula pelatihan kesiapsiagaan dan kemampuan mitigasi bencana, serta pelatihan psikososial bagi guru agar mereka dapat memberikan bimbingan dan konseling kepada murid-murid yang terdampak.

"Kemudian yang keempat adalah bantuan yang kami berikan kepada satuan pendidikan untuk mereka dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya dukungan kegiatan belajar, tidak semuanya harus kegiatan kurikuler, tentu juga kegiatan di luar itu dalam bentuk konseling dan sebagainya," kata dia.

Menurut Mu'ti, pihaknya akan melibatkan organisasi-organisasi mitra untuk memberikan pendampingan psikososial bagi murid, orang tua, dan guru yang terdampak bencana.

"Dan yang kelima, yang terakhir yang kami lakukan adalah bagaimana kami berusaha semaksimal mungkin agar semua kegiatan pembelajaran dapat terlaksana sebaik-baiknya, terutama adalah untuk kelas 12 yang nanti di bulan Oktober ini akan menyelenggarakan tes kemampuan akademik," kata dia.

Menurut Mu'ti, pihaknya telah melakukan pendataan dan memastikan murid-murid SMA dan yang sederajat dapat mengikuti tes kemampuan akademik pada Oktober mendatang dengan sebaik-baiknya, baik yang diselenggarakan di sekolah sendiri maupun menumpang di sekolah lainnya.

Dia pun memastikan sebagian besar siswa sudah dapat belajar di sekolah asalnya.

"Sebagian besar sekolah itu sudah belajar di sekolah asal, di sekolah sendiri, hanya ada beberapa sekolah yang memang masih menumpang di sekolah lain," jelas Mu'ti.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6