Bahlil Kantongi Identitas Penyebar Isu Munaslub Golkar

Bahlil menegaskan tidak akan mundur menghadapi pihak-pihak yang dinilainya berupaya memecah belah Golkar.

Diterbitkan 07 November 2026, 17:22 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Bahlil Lahadalia peringatkan pengganggu soliditas Golkar lewat hoaks Munaslub.
  • Ia tahu penyebar isu dan tak akan mundur hadapi upaya pecah belah partai.
  • Bahlil minta kader loyal, tak terprovokasi, dan jaga marwah organisasi.

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia memperingatkan pihak-pihak yang berupaya mengganggu soliditas partai melalui penyebaran flyer hoaks terkait Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub).

Bahlil mengaku telah mengetahui kelompok yang menyebarkan isu tersebut. Ia menegaskan tidak akan mundur menghadapi pihak-pihak yang dinilainya berupaya memecah belah Golkar.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat memberikan sambutan dalam pelantikan DPD Partai Golkar Maluku, Sabtu (7/11/2026).

Ia mengatakan, persoalan yang menyangkut partai merupakan masalah marwah organisasi sehingga tidak boleh dijadikan permainan politik.

“Karena bicara partai, itu marwah partai. Ketua umum partai itu marwah. Jadi saya tidak mau mundur dari orang-orang kayak gini nih, enggak bisa. Masa atas nama sebuah demokrasi ngomongnya ngawur?” kata Bahlil.

Bahlil kemudian menyinggung beredarnya flyer yang memuat isu Munaslub Golkar. Ia menyebut informasi tersebut sebagai hoaks dan mengaku telah mengetahui pihak-pihak yang menyebarkannya.

“Jadi itu kira-kira Bapak Ibu semua, dan seiring dengan itu, ada juga flyer hoaks-hoaks itu yang mau bikin macam-macam. Abu Leke kelas tinggi lagi ini. Saya sudah tahu orang-orang itu, saya sudah tahu, kalian pikir saya orang kampung enggak ngerti? Aku paham,” ujarnya.

Bahlil menduga ada pihak yang menggunakan strategi divide et impera atau politik adu domba untuk merusak persatuan Golkar.

Ia pun mengingatkan kader agar tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga loyalitas terhadap pimpinan serta partai.

“Jadi kalau kita bawahan, taat sama atasan, loyalitas sama atasan, totalitas. Dan itu adalah ciri kita orang Timur, bukan ciri pengkhianat, kita enggak ada itu pengkhianat dalam diri kita,” tegasnya.

Untuk menggambarkan sikapnya menghadapi tekanan politik, Bahlil mengibaratkan perjuangannya seperti pelaut yang pantang mundur setelah mengembangkan layar. Ia mengaku memegang teguh filosofi tersebut dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Dan kita mempunyai falsafah pelaut ini, sekali layar berkembang, pantang surut untuk kembali,” ucapnya.

 

Bahlil Siap Melawan

Bahkan, Bahlil mengaku lebih memilih menghadapi pertarungan politik daripada mengkhianati perjuangan.

“Saya punya prinsip mati di medan perang jauh lebih berharga dan bermartabat daripada menjadi pengkhianat atau kembali dalam pertarungan. Enggak ada itu,” ujarnya.

Bahlil juga memperingatkan pihak-pihak yang mencoba menghasut masyarakat agar tidak bermain-main dengan situasi tersebut.

Ia mengklaim telah terbiasa menghadapi berbagai tekanan, termasuk pesan bernada ancaman yang diterimanya melalui WhatsApp.

“Saya ini bukan lahir di ruangan AC. Saya ini sejak SMP kelas 1 sudah tahu bagaimana cara hidup susah di terminal. Jadi jangan lagi ajarin saya kesusahan. Yang kalian ajarin saya adalah kesenangan, bukan kesusahan. Kalau susah saya ajarin kalian,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6