Trump Ancam Negara yang Berbisnis dengan Iran Kena Tarif Impor 25%

Donald Trump menekankan jika kebijakan tarif impor bagi negara yang berbisnis dengan Iran berlaku segera, tanpa masa transisi.

Diterbitkan 13 Januari 2026, 16:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang peta perdagangan global dengan mengumumkan ancaman yang menyasar negara-negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Iran.

Dikutip dari CNBC, Selasa (13/1/2026), Trump mengancam negara mana pun yang berbisnis dengan Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen untuk seluruh aktivitas perdagangan mereka dengan Amerika Serikat.

"Tarif baru untuk impor dari mitra dagang Iran itu “berlaku segera,” unggah Trump melalui akun Truth Social miliknya.

Dia bahkan menekankan jika kebijakan tarif impor tersebut berlaku segera, tanpa masa transisi. “Keputusan ini bersifat final dan mengikat. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!” tulis Trump dalam unggahannya.

Langkah agresif ini menandai eskalasi signifikan dalam strategi ekonomi dan geopolitik Washington terhadap Teheran.

Namun hingga kini, Gedung Putih belum memberikan rincian teknis mengenai mekanisme penerapan tarif tersebut.

Seorang pejabat Gedung Putih bahkan menolak menjawab pertanyaan media terkait kebijakan baru ini, sehingga menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar dan mitra dagang internasional.

Kebijakan tarif ini muncul di tengah upaya nyata Trump untuk semakin mengisolasi Iran secara ekonomi.

Dampak Global dan Ketidakpastian Hukum

Pengumuman tarif baru ini juga datang di saat yang krusial, menjelang putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas sejumlah tarif besar yang diberlakukan Trump sebelumnya.

Sejumlah tarif, termasuk bea masuk “timbal balik” yang kontroversial dan tarif terkait dugaan perdagangan fentanyl, diberlakukan dengan dasar International Emergency Economic Powers Act (IEEPA).

Hingga kini, belum jelas apakah tarif 25 persen terhadap mitra dagang Iran juga akan menggunakan dasar hukum yang sama.

Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha global, terutama di sektor energi, manufaktur, dan perdagangan internasional.

Para analis menilai kebijakan ini berpotensi memperluas dampak ekonomi ke luar Iran, karena negara-negara yang memiliki hubungan dagang strategis dengan Teheran harus memilih antara mempertahankan akses ke pasar AS atau melanjutkan kerja sama ekonomi dengan Iran.

 

 

Gelombang Protes

Negara Timur Tengah yang kaya minyak itu saat ini tengah menghadapi gelombang protes anti-pemerintah berskala besar.

Laporan menyebutkan puluhan demonstran tewas dalam beberapa pekan terakhir, situasi yang turut memicu reaksi keras dari Washington.

Trump sebelumnya bahkan mengancam akan mengambil tindakan militer jika kekerasan terhadap demonstran terus berlanjut. 

Dia juga secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk menentang rezim yang berkuasa. “Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin tidak seperti sebelumnya. AS siap membantu,” tulisnya dalam unggahan terpisah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6