Nilai Pasar Tembus Rp 351 Triliun, Mampukah Pemasaran Influencer Keluar dari Media Sosial?

Pasar pemasaran influencer kini bernilai USD 21 miliar. Namun, di tengah tantangan algoritma dan transparansi data media sosial.

Diterbitkan 06 November 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Influencer kini bukan lagi sekadar strategi perusahaan untuk menyasar generasi muda di media sosial. Influencer telah menjadi sebuah industri yang menjelma menjadi kekuatan besar dalam dunia periklanan digital dengan nilai pasar yang diproyeksikan mencapai USD 21 miliar atau sekitar Rp 351 triliun (estimasi kurs Rp 16.722 per USD) pada tahun ini.

Namun, di tengah ketergantungan pada platfrom seperti Instagram, tiktok dan Youtube , muncul pertanyaan mampukah pemasaran influencer tumbuh melampaui media sosial?

Dikutip dari CNBC, Kamis (6/11/2025), menurut laporan terpadu dari Nova, perusahaan AI kreatif yang berfokus pada solusi iklan display sosial, jawabannya adalah selama mereka berani keluar dari batasan algoritma media sosial dan memanfaatkan kekuatan web terbuka.

Popularitas pemasaran influencer tumbuh seiring meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap konten asli. Generasi muda kini cenderung skeptis terhadap iklan tradisional, dan survei menunjukkan 49% konsumen terpengaruh oleh rekomendasi influencer saat mengambil keputusan pembelian.

Lonjakan pengguna aktif di media sosial turut mempercepat. Platfrom berbasis video seperti Youtube dan tiktok memungkinkan influencer membangun hubungan yang lebih personal dengan audiens mereka.

Format video pendek, yang menggabungkan hiburan dan edukasi, terbukti menjadi medium paling efektif dalam menarik perhatian konsumen.

 

Ketergantungan pada Platform Sosial Jadi Tantangan

Meski potensinya besar, pemasaran influencer juga menghadapi berbagai hambatan dari platform tempat mereka beroperasi. Nova mencatat bahwa akses data yang terbatas dan kurangnya transparansi menjadi kendala utama bagi merek untuk mengukur efektivitas kampanye.

Banyak platform media sosial membatasi alat pihak ketiga dan pelacakan eksternal, membuat merek harus bergantung pada metrik internal yang belum tentu objektif.

Selain itu, perubahan algoritma dan kenaikan biaya iklan membuat jangkauan organik semakin sulit diraih. Akibatnya, banyak merek kini mempertimbangkan strategi baru untuk memaksimalkan hasil kampanye tanpa bergantung sepenuhnya pada platform sosial.

Strategi Baru untuk ROI Lebih Tinggi

Menurut Nova, salah satu cara paling efektif bagi merek untuk meningkatkan laba adalah memanfaatkan kembali konten influencer di luar media sosial. Konten yang awalnya dibuat untuk TikTok atau Instagram, misalnya, dapat dioptimalkan untuk berbagai kanal digital di Web Terbuka mulai dari situs berita, blog, hingga platform iklan programatik.

Strategi ini tidak hanya memperluas jangkauan, tetapi juga menekan biaya produksi kreatif yang biasanya cukup besar.

Selain itu, media sosial dapat berfungsi sebagai “laboratorium pengujian” bagi merek. Konten yang terbukti berhasil di sana bisa diperluas ke platform lain dengan hasil yang lebih terukur dan biaya distribusi lebih rendah.

Menyeimbangkan Sosial Media dan Web Terbuka

Meski begitu, Nova menekankan bahwa media sosial tetap memiliki peran penting sebagai wadah utama interaksi influencer dengan pengikutnya. Namun, dengan algoritma yang terus berubah dan biaya iklan yang meningkat, mengandalkan satu ekosistem saja bukanlah strategi jangka panjang yang ideal.

Dengan memperluas kampanye ke Web Terbuka, merek dapat menjangkau audiens baru di luar batas algoritma media sosial, sekaligus memperoleh metrik fidelitas yang lebih transparan dan kontrol yang lebih besar terhadap distribusi konten.

Pemasaran influencer telah berevolusi jauh melampaui sekadar unggahan bersponsor di media sosial. Di era digital yang semakin kompleks, masa depan strategi ini terletak pada kemampuan merek untuk beradaptasi dan menyeimbangkan penggunaan media sosial dengan kekuatan Web Terbuka.

Dengan pendekatan yang tepat, konten influencer tak hanya bisa viral di timeline tetapi juga menggerakkan keputusan pembelian di seluruh ekosistem digital.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

  • liputan6
    Influencer adalah salah satu istilah dalam bisnis yang memanfaatkan kemampuannya untuk memengaruhi seseorang.
    Influencer