Sukses

IMF Beri Kabar Baik, Jokowi Tak Ingin Terlena

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi tak ingin gegabah meskipun rilis terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi duniamembaik  di tengah ancaman resesi global.

RI 1 mengaku sudah menerima kabar bahwa ekonomi tidak segelap yang diperkirakan, tapi dia ingin negara tetap waspada. 

"Ya, tekanan global dari sisi ekonomi memang mereda. Tapi bukan berarti resesi tidak terjadi. Bisa saja belum," kata Jokowi saat ditemui di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (1/2/2023).

"Kuartal IV (2022) memang sudah mereda. Tadi pagi kita baru dapat informasi itu, tapi kita sendiri memang harus tetap optimis tapi tetap harus waspada," tegasnya. 

Sebelumnya, IMF lewat laporan World Economic Outlook (WEO) edisi Januari 2023 telah menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2023 dari 2,7 persen menjadi 2,9 persen. 

Salah satu indikatornya, pencabutan kebijakan Zero Covid-19 China yang diharapkan bakal mendorong kembali aktivitas masyarakat dan perputaran ekonomi di Negeri Tirai Bambu.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada 2023 diprediksi tumbuh lebih baik 0,4 poin menjadi 1,4 persen, di tengah ancaman efek kenaikan suku bunga bank sentral The Fed. Senada, IMF juga mendongkrak prediksi pertumbuhan ekonomi Eropa tahun ini 0,2 poin menjadi 0,7 persen.  

Prospek lebih cerah ditunjukkan berbagai negara berkembang (emerging market), yang diperkirakan ekonominya tumbuh 4 persen, naik dari 2022 sebesar 3,9 persen. 

2 dari 3 halaman

IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2023 Jadi 2,9 Persen

Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin 30 Januari  merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun ini. Akan tetapi, badan internasional itu juga memperingatkan bahwa suku bunga yang tinggi dan perang Rusia-Ukraina kemungkinan masih akan membebani aktivitas ekonomi.

Mengutip CNBC International, Selasa (31/1/2023) dalam pembaruan proyeksinya, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh 2,9 persen tahun ini–yang mewakili peningkatan 0,2 poin persentase dari perkiraan sebelumnya di bulan Oktober.

Namun, angka tersebut berarti penurunan dari ekspansi 3,4 persen pada 2022. Selain itu, IMF juga menurunkan proyeksi ekonomi untuk 2024 menjadi 3,1 persen.

"Pertumbuhan akan tetap lemah menurut standar historis, karena perjuangan melawan inflasi dan perang Rusia-Ukraina membebani aktivitas," kata Pierre-Olivier Gourinchas, direktur departemen penelitian di IMF, dalam sebuah posting blog. 

IMF menjelaskan, prospek ekonomi global menjadi lebih positif karena faktor domestik yang lebih baik dari perkiraan di beberapa negara, seperti Amerika Serikat.

"Pertumbuhan ekonomi terbukti sangat tangguh pada kuartal ketiga tahun lalu, dengan pasar tenaga kerja yang kuat, konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi bisnis, serta adaptasi yang lebih baik dari perkiraan terhadap krisis energi di Eropa," beber Gourinchas, yang juga melihat bahwa tekanan inflasi menurun.

Namun, gambaran pada ekonomi global ke depan tidak sepenuhnya positif. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan awal bulan ini bahwa ekonomi memang tidak seburuk yang ditakuti beberapa orang tetapi belum berarti sudah membaik.

"Kita harus berhati-hati," ujar Georgieva dalam panel yang dimoderatori CNBC di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.

 

3 dari 3 halaman

Saran IMF ke Bank Sentral di Seluruh Dunia

IMF juga memperingatkan beberapa faktor yang dapat memperburuk prospek ekonomi dalam beberapa bulan mendatang.

Hal ini salah satunya adalah kembali normalnya aktivitas ekonomi di China dapat terhenti, inflasi bisa tetap tinggi, juga perang Rusia-Ukraina yang berlarut-larut dapat mengguncang biaya energi dan pangan.

Penghitungan IMF mengungkapkan, sekitar 84 persen negara akan menghadapi inflasi yang lebih rendah tahun ini dibandingkan dengan tahun 2022, tetapi mereka masih memperkirakan tingkat rata-rata tahunan sebesar 6,6 persen pada tahun 2023 dan 4,3 persen pada tahun berikutnya.

Dengan demikian, lembaga yang berbasis di Washington, D.C. itu mengatakan salah satu prioritas kebijakan utama adalah agar bank sentral tetap menangani lonjakan harga konsumen.

"Komunikasi bank sentral yang jelas dan reaksi yang tepat terhadap pergeseran data akan membantu menjaga ekspektasi inflasi dan mengurangi tekanan upah dan harga," kata IMF dalam laporan terbarunya.

"Neraca bank sentral perlu dibuka dengan hati-hati, di tengah risiko likuiditas pasar," tambahnya. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.