Sukses

Sri Mulyani: Seluruh Dunia Harus Kerja Sama Cegah Pandemi Berikutnya

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, setiap negara punya strategi sendiri agar ekonomi bisa cepat pulih dari berbagai tekanan yang ada saat ini. Namun ia berharap strategi tersebut tidak membatasi suatu negara untuk bekerja sama dengan negara lain. Alasannya, kerja sama antar negara merupakan salah satu kunci sukses untuk bangkit dan pulih bersama. 

Sri mulyani bercerita, saat ini ada bertumpuk tantangan bagi pertumbuhan ekonomi. Pertama tentu saja pandemi Covid-19 yang belum selesai. Kedua konflik geopolitik antara Rusia dengan Ukraina. Selain itu masih ada beberapa tantangan lainnya. 

“Pertama pada pandemi. Ini adalah krisis yang sangat mahal bagi kita semua. Jadi kita harus bekerja sama mencegah pandemi berikutnya,” ungkap Sri Mulyani pada ASEAN+3 Finance Minister and Central Bank Governors Meeting 2022 secara virtual, Kamis (12/5/2022).

Sri Mulyani mengatakan, Indonesia sebagai pemegang Presidensi G20 bekerja sama dengan World Health Organization (WHO) dan Bank Dunia. Kerja sama tersebut yakni berusaha membentuk mekanisme pembiayaan multilateral baru untuk mendukung kerja WHO dan lembaga internasional lainnya.

“Sehingga kita akan mampu mengatasi pencegahan pandemi, kesiapsiagaan, dan respon kesenjangan pembiayaan,” jelas dia.

Ada juga kerja sama yang berkaitan dengan bauran kebijakan. Dari sisi fiskal semua negara berusaha mempercepat konsolidasi untuk melindungi masyarakatnya. Baik itu dari pandemi maupun dari inflasi, daya beli, dan kemakmuran.

Dia pun memastikan Indonesia akan terus bekerja keras untuk melakukan reformasi struktural dan memulihkan kesehatan APBN.

“Kerja sama itu diperlukan. Sementara di satu sisi kita harus melindungi ekonomi kita sendiri dan masyarakat tidak berarti dan tidak boleh menghalangi kita untuk bekerja sama,” pungkasnya.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Presidensi G20 Indonesia Jadi Penentu Transformasi Ekonomi Dunia

Sebelumnya, Indonesia resmi memegang Presidensi Group of Twenty (G20) tahun 2022. Mengangkat tema Recover Together, Recover Stronger untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 2022, Indonesia menyoroti pentingnya kebijakan global untuk menghilangkan disparitas, menjembatani kesenjangan, dan meningkatkan produktivitas ekonomi yang berkelanjutan. KTT G20 tahun 2022 akan berfokus pada respons multi-segi untuk COVID-19 dari perspektif global.

Dalam Sherpa Track G20 yang membahas isu ekonomi non-keuangan, transformasi ekonomi menjadi salah satu isu prioritas yang diidentifikasi oleh Development Working Group (DWG) G20.

Isu lainnya termasuk pembangunan inklusif dan berkelanjutan, ketahanan, dan multilateralisme. Untuk mencapai transformasi ekonomi, ekosistem pengetahuan dan inovasi yang kuat memainkan peran penting dengan menggunakan pendekatan ekonomi berbasis pengetahuan.

Untuk membawa pengetahuan ke agenda kebijakan global, kelompok keterlibatan Think 20 (T20) menyatukan think tank dan lembaga penelitian yang diakui secara global untuk mengembangkan rekomendasi kebijakan berbasis penelitian yang secara resmi diserahkan kepada para pemimpin G20 untuk dipertimbangkan.

Dalam rangka mencapai transformasi ekonomi dan mempromosikan pembuatan kebijakan berbasis bukti, T20 Indonesia, Katadata, dan Knowledge Sector Initiative (KSI) menyelenggarakan webinar tingkat tinggi dengan tema Presidensi G20 Indonesia: Transformasi Ekonomi untuk Penguatan dan Pemulihan Bersama.

 

3 dari 4 halaman

Perhatian Internasional

Kepresidenan G20 Indonesia menempatkan Indonesia pada garis depan fokus dan perhatian internasional, terutama terkait dengan kebijakan ekonomi dan sosial. Dalam konteks ini, Australia merupakan mitra penting bagi Indonesia dalam mencapai upayanya untuk mendorong komitmen kolektif global untuk mempercepat pemulihan ekonomi global yang inklusif.

Membuka diskusi, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Penny Williams PSM, menyatakan dukungan negaranya terhadap Presidensi G20 Indonesia.

"Australia sangat mendukung Presidensi Indonesia pada G20 tahun ini untuk memperkuat ekonomi global dan memastikan pemulihan pasca pandemi COVID-19, sehingga dapat tercapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (atau SDGs) kita," kata dia dikutip Jumat (25/2/2022).

"Australia juga menyambut baik upaya Indonesia untuk berfokus pada hasil yang nyata dan berdampak pada tiga prioritas utama, yaitu menata kembali arsitektur kesehatan global, transformasi berbasis digital, dan transisi energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sebagai mitra erat, Australia siap untuk bekerja sama dengan pemangku kepentingan di Indonesia untuk mensukseskan agenda G20 Indonesia," lanjut William.

4 dari 4 halaman

Transformasi Ekonomi

Sementara itu, Deputi Bidang Perekonomian Kementerian PPN/Bappenas, Amalia Adininggar Widyasanti yang mewakili Menteri PPN/Bappenas, Suharso Monoarfa menyampaikan saatnya Indonesia membangun kembali lebih baik, tidak berpuas diri dengan pemulihan ekonomi, namun harus mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Kita harus meredesain transformasi ekonomi Indonesia pasca COVID-19, tidak hanya kembali ke masa sebelum krisis, namun lebih baik dari sebelum krisis. Transformasi ekonomi ini adalah titik penting kita untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045. Peningkatan kualitas pendidikan, riset, inovasi, pengetahuan, dan kebijakan berbasis bukti adalah penting untuk meningkatkan daya saing,” jelas dia.

Integrasi isu-isu kebijakan utama seperti transformasi ekonomi dan kebijakan sosial penting untuk menghasilkan kebijakan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif. Amalia juga menyampaikan bagaimana isu prioritas DWG, khususnya transformasi ekonomi, mendukung pencapaian agenda G20.

Diantaranya dengan mengimplementasikan enam strategi besar transformasi ekonomi Indonesia yang terdiri dari sumber daya manusia yang kompetitif, produktivitas ekonomi, ekonomi hijau, transformasi digital, integrasi ekonomi domestik, dan pemindahan ibu kota.