Sukses

Investasi Hyundai Rp 142 Triliun Mulai Terealisasi Awal 2022

Liputan6.com, Jakarta - Investasi dari konsorsium Hyundai untuk industri mobil listrik di Indonesia sebesar USD9,8 miliar atau sekitar Rp142 triliun ditargetkan bisa terealisasi sepenuhnya mulai awal 2022.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, dengan nilai investasi sebesar ini, maka diharapkan bisa menyerap puluhan ribu tenaga kerja lokal.

"Saya targetkan total USD 9,8 miliar ini semua start 2022 awal, semua harus jalan. Karena untuk baterai 10 Giga watt Hour (GwH) itu akan selesai konstruksi September 2022, dan mulai produksi 2023," kata dia dalam konferensi pers, Jumat (17/9).

Konsorsium Hyundai terdiri atas Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobis, dan LG Energy Solution yang bekerja sama dengan PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) selaku holding dari empat BUMN, yaitu PLN, Pertamina, MIND ID, dan Antam.

Sebelumnya Bahlil menyebut pembangunan Pabrik Baterai listrik di Karawang, Jawa Barat bakal menyerap banyak tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Dia memperkirakan, jika pabrik ini sudah berdiri setidaknya dapat mempekerjakan sebanyak 1.100 orang.

"Kalau sudah jadi beneran (pabriknya) tenaga kerja langsung di karyawan situ 1.100 orang," katanya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Penyerapan Tenaga Kerja

Belum lagi, terdapat sebanyak 13.000 orang juga terlibat di dalam masa konstruksi. Ini mulai dari sub kontraktor, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), bahan material, hingga orang yang punya alat beratnya. "Belum tidak langsung. Dan mulai kemarin langsung kerja. Alat saja sudah sekitar 50-an di sana," tandasnya.

Sebagai informasi saja, proses peletakan batu pertama atau groundbreaking Pabrik Industri Baterai Listrik berada di Karawang, Jawa Barat telah dimulai, Rabu (15/9) lalu. Adapun nilai investasi yang dilakukan oleh Hyundai untuk pembangunan pabrik ini sebesar Rp1,5 miliar atau setara dengan Rp21 triliun.

Kerja sama investasi itu juga merupakan salah satu tahap dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai USD9,8 miliar.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com