Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 15.000, Buyback Melesat Rp 25.000

Harga emas Antam hari ini, Kamis (2/7/2026), berbalik menguat ke level Rp 2.640.000 per gram. Harga buyback juga melonjak.

Diterbitkan 02 Juli 2026, 09:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Kamis (2/7/2026) berbalik arah menguat. Harga emas Antam hari ini naik Rp 15.000 per gram, setelah pada perdagangan Rabu kemarin sempat turun sebesar Rp 5.000.

Mengutip laman Logam Mulia, harga emas antam hari ini dipatok Rp 2.640.000 per gram. Pada perdagangan kemarin, harga emas Antam ditetapkan sebesar Rp 2.625.000 per gram.

Sementara itu, harga buyback (beli kembali) emas Antam juga ikut naik dengan nilai yang lebih besar. Harga buyback emas Antam hari ini menguat Rp 25.000 menjadi Rp 2.345.000 per gram.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga yang berlaku jika pemilik emas menjual kembali emasnya kepada Antam. Dengan demikian, Antam akan membeli emas tersebut seharga Rp 2.345.000 per gram dari masyarakat.

Sebelumnya, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026, yakni sebesar Rp 3.168.000 per gram. Sementara itu, harga buyback pada saat rekor tersebut berada di level Rp 2.989.000 per gram.

Informasi mengenai harga emas Antam ini bersumber langsung dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga data yang disajikan memiliki tingkat akurasi dan kredibilitas yang tinggi bagi masyarakat.

Berikut adalah daftar harga emas Antam terbaru untuk berbagai pecahan:

  • Emas 0,5 gram: Rp 1.370.500
  • Emas 1 gram: Rp 2.640.000
  • Emas 2 gram: Rp 5.220.000
  • Emas 3 gram: Rp 7.805.000
  • Emas 5 gram: Rp 12.975.000
  • Emas 10 gram: Rp 25.895.000
  • Emas 25 gram: Rp 64.612.000
  • Emas 50 gram: Rp 129.145.000
  • Emas 100 gram: Rp 258.212.000
  • Emas 250 gram: Rp 645.265.000
  • Emas 500 gram: Rp 1.290.320.000
  • Emas 1.000 gram: Rp 2.580.600.000.

Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah Didorong Pernyataan Ketua The Fed

Harga emas dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Rabu setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan. Sentimen positif juga datang dari pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang menilai risiko inflasi mulai mereda.

Dikutip dari CNBC, Kamis (2/7/2026), harga emas di pasar spot naik 2,1% menjadi US$ 4.089,49 per ounce, setelah sehari sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak November 2025. Pada kuartal II 2026, logam mulia tersebut juga mencatatkan kinerja negatif.

Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,6% ke level US$ 4.103,10 per ounce.

Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan bahwa pelemahan data tenaga kerja swasta AS menjadi pemicu utama kenaikan harga emas. Di sisi lain, komentar Ketua The Fed mengenai inflasi turut mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS sehingga meningkatkan daya tarik emas.

"Emas mengalami kenaikan yang cukup baik. Data lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal, sementara komentar Ketua The Fed bahwa inflasi mulai menurun membuat imbal hasil obligasi turun dan mendorong pasar emas yang sebelumnya lesu kembali bergairah," kata Wong.

Ia menambahkan, harga emas berpotensi membentuk dasar penguatan dalam jangka pendek, kecuali jika laporan ketenagakerjaan nonpertanian (non-farm payrolls/NFP) yang dirilis Kamis nanti menunjukkan hasil yang jauh lebih kuat dari ekspektasi.

Risiko Inflasi AS

Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan ekspektasi maupun risiko inflasi dalam beberapa pekan terakhir mulai menurun. Meski demikian, ia kembali menegaskan komitmen bank sentral AS untuk membawa inflasi kembali ke target 2%.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga umumnya mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen keuangan lainnya.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang, berdasarkan alat pemantau CME FedWatch.

Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran juga menggelar pembicaraan teknis di Doha pada Rabu. Kedua negara berupaya mencapai kesepakatan terkait kelancaran pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mengamankan gencatan senjata yang berkelanjutan, menurut seorang pejabat Iran.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6