Sukses

Bos WhatsApp: Spyware Pegasus Dimanfaatkan untuk Incar Pejabat Sekutu AS

Liputan6.com, Jakarta - Bos WhatsApp mengungkap, individu yang memiliki jabatan tinggi di posisi keamanan nasional yang bersekutu dengan Amerika Serikat (AS), menjadi target dari pemerintah yang menggunakan spyware Pegasus NSO.

Menurut Chief Executive WhatsApp, Will Cathcart, mereka dan pejabat senior pemerintah di seluruh dunia menjadi incaran spyware Pegasus asal Israel itu dalam 1.400 serangan terhadap pengguna WhatsApp di 2019.

Hal itu disampaikan oleh Cathcart kepada The Guardian, tak lama usai pengungkapkan serangan tersebut oleh Pegasus Project, kolaborasi 17 media yang melakukan investigasi terhadap perusahaan Israel NSO.

Dikutip Selasa (27/7/2021), Cathcart menyebut dirinya melihat kesejajaran antara serangan ke pengguna WhatsApp di 2019, serta laporan tentang kebocoran data besar-besaran yang jadi pusat Pegasus Project.

"Laporan itu cocok dengan apa yang kami lihat dalam serangan yang kami kalahkan dua tahun lalu, itu sangat konsisten dengan apa yang kami bicarakan saat itu," kata Cathcart.

Cathcart mengatakan, selain pejabat tinggi pemerintahan, jurnalis dan hak asasi manusia juga menjadi sasaran dari serangan tahun 2019. Selain itu, banyak target dalam kasus WhatsApp, yang tidak memiliki bisnis yang diawasi dengan cara atau bentuk apapun.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini

2 dari 4 halaman

Bahaya Infeksi Spyware

Cathcart pun mengatakan, kejadian ini harus menjadi peringatan bagi keamanan di internet. "Ponsel bisa jadi aman untuk semua orang atau tidak aman untuk semua orang," katanya.

Saat spyware Pegasus NSO menginfeksi ponsel, klien pemerintah bisa menggunakannya untuk mengakses percakapan telepon, pesan, foto, lokasi individu, serta mengubah telepon menjadi alat pendengar portabel dengan memanipulasi perekamnya.

Kala WhatsApp mengumumkan dua tahun lalu pengguna mereka telah menjadi sasaran malware NSO, dikatakan sekitar 100 dari 1.400 target adalah anggota masyarakat sipil, jurnalis, pembela hak asasi manusia, dan aktivis.

WhatsApp juga menyebut, celah yang membuat pengguna ditargetkan tersebut sudah diperbaiki.

Cathcart pun menyebut dirinya sudah membahas serangan 2019 itu dengan pemerintah di dunia. Ia juga memuji Microsoft dan industri teknologi lainnya yang berbicara tentang bahaya malware tersebut.

3 dari 4 halaman

Ajak Apple Bersuara

Cathcart juga mengajak agar Apple, yang ponselnya dianggap rentan infeksi spyware itu, untuk mulai bergabung dan melakukan pendekatan seperti mereka.

"Bersuaralah, bergabunglah. Tidak cukup hanya mengatakan, sebagian besar pengguna kami tidak perlu khawatir tentang hal ini. Tidak cukup mengatakan 'oh ini hanya ribuan atau puluhan ribu korban,'" katanya.

Sementara, NSO mengatakan klien mereka secara kontrak berkewajiban menggunakan Pegasus untuk menargetkan penjahat dan menyelidiki tuduhan pelecehan seksual.

Mereka menyebut, tidak memiliki pengetahuan bagaimana klien pemerintah menggunakan spyware atau siapa yang mereka targetkan, kecuali jika perusahaan meminta penyelidikan atas tuduhan kesalahan.

"Kami melakukan yang terbaik untuk membantu menciptakan dunia yang lebih aman," kata seorang juru bicara NSO.

"Apakah Tuan Cathcart memiliki alternatif lain yang memungkinkan penegak hukum dan badan intelijen untuk secara legal mendeteksi dan mencegah kejahatan pedofil, teroris dan penjahat menggunakan platform enkripsi ujung ke ujung?"

"Jika demikian, kami akan senang mendengarnya," kata NSO.

(Gio/Ysl)

4 dari 4 halaman

Infografis Waspada WhatsApp Rentan Dibobol Hacker