6 Fakta Gandhi Fernando Garap Film Horor Penunggu Rumah: Buto Ijo, Rangkap 3 Jabatan Sekaligus!

Gandhi Fernando memproduksi film horor Penunggu Rumah: Buto Ijo. Ia merangkap tiga jabatan sebagai produser, penulis naskah, dan pemeran utama.

Diterbitkan 10 Januari 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

“Bagaimana bisa bertemu para penonton modern, zaman sekarang. Saya menggabungkan elemen horor, cerita keluarga, fantasi, dan memasukkan tokoh yang berprofesi sebagai kreator konten. Itu zaman now banget. Gen Z banget,” Gandhi Fernando menyambung.

 

3. Menulis Naskah Saat Pandemi Covid-19

Untuk sampai ke bioskop, Penunggu Rumah: Buto Ijo melewati proses panjang. Gandhi Fernando menulis skenario film ini saat pandemi Covid-19. Motivasinya kala itu ingin bikin film yang simpel, menghibur ala pop corn movie.

“Yang enggak neko-neko ceritanya, enggak terlalu banyak karakter tapi semua punya peran atau fungsi. Dari awal sampai akhir misinya bikin orang terhibur saja dengan plot twist yang semoga enggak tertebak,” paparnya, panjang.

 

4.  Paling Susah Jadi Produser

Merangkap tiga jabatan yakni produser, penulis naskah, dan pemain. Dari ketiga ini, mana yang paling susah? Kepada Showbiz Liputan6.com di Epicentrum XXI Jakarta Selatan pekan ini, Gandhi Fernando mengaku paling susah jadi produser.

“Capai banget, menunggu tanggal tayangnya lama ya, ha ha ha. Produser paling sulit. Kedua, lebih sulit menjadi aktor. Yang paling terakhir menulis skenario. Karena menulis skenario tu, saya merasa berada di dalam dunia sendiri,” jawab Gandhi Fernando.

 

5. Menulis Naskah Lewat Tengah Malam

Pada era pandemi Covid-19, pergerakan masyarakat dibatasi. Bahkan, publik menjalani kerja dari rumah alias work from home. Gandhi Fernando pun melakukannya. Naskah film Penunggu Rumah: Buto Ijo digarap di rumah lewat tengah malam.

“Di kamar. Fun fact, saat pandemi Covid-19 tidurnya enggak beraturan banget, aku menulis skenario di atas jam 12 malam terus. Jam 3 atau 4 dini hari, dan itu lumayan bikin merinding. Saya takut pas menulis naskah ini,” akunya.

 

6. Manajemen Waktu Adalah Kunci

Untungnya, tiga pekerjaan ini dilakukan pada waktu yang berbeda-beda. Menulis naskah dikerjakan dulu di fase praproduksi. Saat jadi pemain di lokasi syuting, tanggung jawab produksi diambil alih produser lain yakni Adnan Djani.

“Jadi saya terima beres di lokasi syuting dan fokus sebagai pemain. Baru setelah syuting, saya kembali menjadi produser untuk mengawal tahap pascaproduksi dan pendistribusian film,” Gandhi Fernando mengakhiri.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan