Alasan Joko Anwar Interpretasi Ulang Cerita Rakyat Jadi Film Thriller Legenda Kelam Malin Kundang

Film ini menghadirkan reinterpretasi Joko Anwar terhadap cerita rakyat Malin Kundang melalui thriller penuh misteri dan emosi.

Diterbitkan 19 November 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Joko Anwar bersama Come and See Pictures kembali menghadirkan proyek terbaru bertajuk Legenda Kelam Malin Kundang, sebuah thriller yang menawarkan sudut pandang baru terhadap salah satu cerita rakyat paling populer di Indonesia.

Film garapan Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat ini mencoba membaca ulang legenda Malin Kundang lewat pendekatan yang lebih kelam dan emosional, menyoroti tema trauma lintas generasi.

Produksi film ini digarap oleh Come and See Pictures bersama Rapi Films dan Legacy Pictures, sementara Barunson E&A bertindak sebagai world sales agent.

Yang menarik, alih-alih mengangkat secara langsung cerita rakyat Malin Kundang, Joko Anwar melakukan interpretasi ulang dan menghadirkannya dalam genre thriller-misteri.

Legenda Kelam Malin Kundang mengajak penonton menebak identitas dan hubungan sebenarnya antara Alif dan keluarganya. Ketegangannya bukan hanya dari alur penuh teka-teki, tetapi juga dari tema besar mengenai trauma lintas generasi.

Produser, penulis, dan editor film ini, Joko Anwar, menegaskan bahwa film tersebut membuka ruang diskusi tentang hubungan keluarga.

“Hubungan antar generasi orangtua dan anak adalah hal yang paling relevan saat ini untuk kita bicarakan, dalam sebuah negara, kualitas Masyarakat ditentukan dari level unit terkecil, keluarga.,” kata Joko Anwar pada press screening dan press conference Jakarta, Senin (17/11/2025)

Ketegangan, Misteri, dan Luka Antar Generasi

Joko Anwar juga menyoroti bagaimana generasi sekarang masih menanggung warisan masa lalu.

“Kita semua sedang berhadapan dengan trauma yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Film ini menjadi pintu masuk untuk bisa mengingatkan bahwa terkadang kita harus melihat masalah kita sebagai individu sebagai kemungkinan bagian dari masalah yang ada dalam tatanan generasi sehingga ada generational gap,” lanjutnya.

Keberadaan para pemain turut menambah daya tarik film ini, mulai dari Rio Dewanto, Faradina Mufti, Vonny Anggraini, Jordan Omar, Sulthan Hamonangan, hingga Nova Eliza, Gambit Saifullah, dan Tony Merle.

 Dengan atmosfer yang intens dan penyajian visual khas rumah produksi tersebut, film ini diharapkan memberi pengalaman berbeda bagi penonton dalam melihat kembali legenda Malin Kundang.

Kolaborasi Dua Sutradara Muda

Film ini menjadi debut film panjang duo sineas muda, Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo, yang dipercaya Joko Anwar menggarap proyek dengan standar tinggi khas Come and See Pictures. Bagi keduanya, itu adalah tantangan besar sekaligus kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

“Come and See Pictures telah memproduksi film-film yang dicintai penonton. Untuk itu, kami harus menjaga level tersebut,” ungkap Rafki Hidayat. Tekanan itu mereka jawab dengan perencanaan matang dan komunikasi yang efektif bersama kru berpengalaman yang sebelumnya juga mengerjakan beberapa karya Joko. Kevin Rahardjo menambahkan bahwa sejak awal mereka telah membangun konsep secara detail untuk memastikan proses syuting berjalan lancar. “Sejak awal kami sudah merencanakan film ini dengan matang, kami membuat videoboard yang juga ini akan memudahkan saat proses syuting,” ujar Kevin Rahardjo. Ia juga menegaskan bagaimana diskusi teknis dilakukan untuk menjaga kualitas. “dalam proses menggarap film ini, dan menyutradarai berdua dengan Rafki, kami banyak berdiskusi baik itu teknis seperti treatment hingga shot agar prosesnya berjalan lancar. Kami ingin Legenda Malin Kundang menjadi film yang terbaik, bekerja sama dengan Come and See Pictures dan Joko Anwar tentu kami ingin tetap memberikan standar kualitas yang bagus,” tambahnya.

Halaman
Show All
Zikrah Nur Amalah, Ratnaning AsihTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan