Review Film Nobody 2: Bob Odenkirk Menggila Pol-polan dalam Taman Hiburan Brutal ala Timo Tjahjanto

Nobody 2 menghadirkan transformasi karakter Hutch Mansell yang telah menerima sisi lain dirinya.

Diterbitkan 16 Agustus 2025, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Transformasi Hutch ini dilipatgandakan dengan sinematografi saat menampilkan adegan pertarungan yang lebih raw dan kasar. Kamera tak cuma ikut berguncang, tapi juga berakrobat, sampai ikut tumbang ke tanah--seakan mengajak penonton untuk makin terisap masuk dalam pergulatan di atas layar.

Pertarungan pun dibuat makin brutal, dan penuh dengan adu jotos jarak dekat dengan beragam senjata--mulai parang hingga senapan api. Segala barang yang ada di jangkauan pun bisa dimanfaatkan jadi alat mematikan, mulai dari pipa hingga gerinda--mengingatkan pada gaya tarung ala Jackie Chan.

Kemampuan Bob Odenkirk--yang kini berusia 61 tahun--dalam mengeksekusi aneka aksi ini pun layak dapat acungan jempol.

Nuansa Musim Panas ala Timo Tjahjanto

Nobody 2 betul-betul jadi antitesis film-film jagoan Hollywood, tak cuma lewat karakter bapak-bapak sebagai protagonis. Film ini juga memghadirkan atmosfer cerah, hangat dan penuh warna ke atas layar, alih-alih menggelar visual yang dingin dan muram yang jadi formula khas genre ini.

Makin cocok dengan nuansa musim panas, medan pertempuran pun digelar di taman bermain. Aneka wahana khas mainan bocah pun disulap jadi senjata mematikan maupun jebakan untuk lawan. 

Gaya Hutch dan kawanannya menebar jebakan, langsung mengingatkan pada aksi Kevin McCallister di Home Alone--tapi berkali lipat lebih brutal. Dalam premiere film ini di Jakarta, Timo Tjahjanto yang duduk di bangku sutradara pun mengakui memang Home Alone jadi salah satu inspirasi perang dalam Nobody 2. 

Masuknya Timo Tjahjanto sebagai sutradara, jelas punya dampak besar. Ia meninggalkan sidik jarinya sepanjang durasi 1,5 jam. Tak cuma dalam hal porsi adegan brutal yang makin banyak, tapi juga bagaimana hal tersebut digambarkan. Kadang dengan cara kematian nyeleneh, tak jarang juga dengan menyisipkan humor penuh darah ke dalamnya. 

Di sisi lain, "kesaktian" Hutch menghajar para anggota mafia menghadirkan sesi kepuasan sendiri--meski plotnya terbilang standar. Karena, mungkin, diam-diam kita semua butuh katarsis untuk menyalurkan hasrat menggebuk para penjahat tapi tak punya kemampuan melakukannya. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Ratnaning Asih, Wayan DianantoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan