Catatan Joko Anwar Soal Dominasi Film Horor di Tangga Box Office Indonesia 2022, Haruskah Selera Penonton Di-Upgrade?

Joko Anwar mengingatkan bahwa film horor kini bukan lagi genre kelas B. Banyak film horor berkualitas yang berjaya di ajang festival. Berikut penuturannya.

Diterbitkan 12 Januari 2023, 12:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Joko: Oh, banyak. Terutama film horor yang aku bikin biasanya selalu penghormatan terhadap sineas-sineas yang sangat bermakna karyanya buat aku. Kayak di Pengabdi Setan 2 itu ada beberapa influences. Beberapa di antaranya ada film Don't Look Now, itu filmnya Nicholas Roeg tahun 1970-an, 1974. Kemudian ada sineas yang bahkan sound-nya juga aku minta izin untuk aku cantumkan di film Pengabdi Setan 2. Namanya Ruggero Deodato, film Raiders of Atlantis atau Atlantis Inferno.

Horor Indonesia Klasik

Liputan6: Konon ada beberapa film horor Indonesia klasik yang Anda sukai, apa saja tuh?

Joko: (Aku) suka beberapa film horor Indonesia klasik. Ya, ada Bayi Ajaib. Ada Dikejar Dosa tahun 1974. Dikejar Dosa tuh salah satu film horor yang powerful banget, walaupun enggak ada supernatural horror. Basicly it’s psychological. Jadi tahun 1970-an itu sebenarnya banyak film horor Indonesia psychological, bukan supernatural kayak seperti aku bilang: Dikejar Dosa, Nafsu Gila. They all psychological, dan sampai sekarang aku masih nonton.

 

Liputan6: Beberapa sineas di Indonesia menyebut bahwa problem paling mendasar dari industri kita itu adalah skenario. Menurut Anda?

Joko: Ya, itu betul.

 

Inkubasi Penulis Skenario

Liputan6: Apakah inkubasi (penulis skenario) ini satu solusi yang ditawarkan Bang Joko untuk yuk, regenerasi dimulai terus yuk.

Joko: Ya, itu salah satu yang paling bisa aku lakukan. Kalau menulis, kan inkubasinya itu tidak membutuhkan tools, ya. Kita bikin secara gratis, tetapi kita juga tidak mengeluarkan banyak biaya. Hanya waktu dan effort, gitu. Dan dalam waktu dekat kita akan bekerja sama dengan beberapa platform yang ternyata mereka sangat tertarik untuk men-support kegiatan kita. Jadi, in the future enggak akan merupakan hanya inkubasi penulisan skenario, tapi juga inkubasi directing dan beberapa profesi lain di perfilman Indonesia gitu.

 

Liputan6: Proyek berikutnya, apa Bang?

Joko: Next genre yang belum pernah bikin, Sci-Fi. Jadi satu project di LA. Film LA Project pertama aku dengan Village Roadshow, perusahaan yang memproduksi film-film kayak The Matrix, gitu akan kerja bareng aku untuk science fiction, film science fiction.

 

Film Hollywood Karya Anak Bangsa

Liputan6: Nanti di poster bakal dipasang tulisan “Film Hollywood karya anak bangsa,” dong?

Joko: Enggak! Malas banget. Mau bikin film di Hollywood, Cipete-wood itu sebenarnya sama saja.

 

Liputan6: Biar kayak orang-orang, Bang…

Joko: Ha ha ha! Aku sekarang di Cipete, kan. Bikin film di Cipete. Maksudnya bikin film di Cipete kita punya creative freedom bisa mengekspresikan apa yang kita ekspresikan, punya keleluasaan untuk membuat film seperti yang kita mau. Itu luar biasa. Itu privilese yang sangat luar biasa. Kalau syuting di Hollywood misalnya, itu kan akan harus mengikuti sistem mereka. Jadi dari tahun 2012 dapat tawaran banyak sekali dan akhirnya... Beberapa dari film-film tersebut sudah jadi film akhirnya. Dan ketika nonton: Tuh, kan benar kan aku nolak ha ha ha karena kurang oke.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan