Catatan Joko Anwar Soal Dominasi Film Horor di Tangga Box Office Indonesia 2022, Haruskah Selera Penonton Di-Upgrade?

Joko Anwar mengingatkan bahwa film horor kini bukan lagi genre kelas B. Banyak film horor berkualitas yang berjaya di ajang festival. Berikut penuturannya.

Diterbitkan 12 Januari 2023, 12:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tahun 2022 yang baru saja lewat menyisakan sejumlah catatan menarik bagi Joko Anwar. Menengok tangga box office lokal, dari 15 film Indonesia terlaris, 10 di antaranya bergenre horor.

Film KKN di Desa Penari bertengger di posisi puncak dengan 10 juta penonton lebih. Pengabdi Setan 2: Communion membayangi di peringkat runner-up bersama lebih dari 6,39 juta penonton.

Bahkan dari peringkat ke-9 hingga 15, diisi film horor lokal lainnya seperti The Doll 3, Qodrat, Jailangkung: Sandekala, Qorin, Kuntilanak 3, Keramat 2: Caruban Larang, serta Pamali.

Dalam Bincang Liputan6, Joko Anwar menganggap sah-sah saja jika masyarakat Indonesia sepanjang 2022 menggandrungi film horor. Mengingat, horor bukan lagi genre kelas B. Simak petikan wawancaranya berikut ini.

 

First Class

Liputan6: Katanya selama horor masih disukai, berarti selera film masyarakat Indonesia perlu di-upgrade. Setuju, enggak?

Joko: Enggak. Film horor tuh sekarang sudah first class. Ketika The Exorcist jadi (nomine) Film Terbaik Oscar (tahun 1974) gitu kan sudah, membuktikan bahwa sebenarnya film ya film saja. Regardless the genre.

 

Liputan6: Dengan kata lain, selera publik soal genre film tak perlu dikotak-kotakkan, ya?

Joko: Enggak. Tapi seperti yang aku bilang, banyak orang mengira bikin film horor tuh gampang, sehingga banyak orang asal bikin film horor asal. Dari situ dapat reputasi bahwa film horor itu adalah film second class.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Horor Banyak Yang Bermutu

Liputan6: Banyak juga film horor berkualitas dan diganjar penghargaan, kan?

Joko: Actually, filmnya membutuhkan craftsmanship tinggi. Perempuan Tanah Jahanam juga jadi Film Terbaik FFI. Jadi sebenarnya enggak ada hubungannya (antara horor dengan selera penonton perlu di-upgrade). Film drama juga banyak yang enggak oke. Film komedi juga banyak yang iyuh... Sama saja, sih.

Liputan6: Ada enggak sineas luar negeri yang menginspirasi Anda dalam melahirkan karya baru termasuk horor?

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Joko: Oh, banyak. Terutama film horor yang aku bikin biasanya selalu penghormatan terhadap sineas-sineas yang sangat bermakna karyanya buat aku. Kayak di Pengabdi Setan 2 itu ada beberapa influences. Beberapa di antaranya ada film Don't Look Now, itu filmnya Nicholas Roeg tahun 1970-an, 1974. Kemudian ada sineas yang bahkan sound-nya juga aku minta izin untuk aku cantumkan di film Pengabdi Setan 2. Namanya Ruggero Deodato, film Raiders of Atlantis atau Atlantis Inferno.

Halaman
Show All
Wayan Diananto, Zulfa Ayu SundariTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan