Industri Reksadana Tumbuh 3,02% Selama Maret 2026

OJK mencatat per akhir Maret 2026, NAB reksadana tercatat mencapai Rp 695,71 triliun atau tumbuh sebesar 3,02% secara year to date (YtD).

Diterbitkan 02 April 2026, 18:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai aktiva bersih (NAB) reksadana masih mengalami pertumbuhan sepanjang awal 2026 meskipun di tengah tekanan pasar keuangan global dan tingginya volatilitas di pasar modal domestik.

OJK mencatat per akhir Maret 2026, NAB reksadana tercatat mencapai Rp 695,71 triliun atau tumbuh sebesar 3,02% secara year to date (YtD). 

“Kalau dilihat industri reksadana misalnya di tengah-tengah kondisi ini pun masih tercatat tumbuh dengan NAB yang mencapai angka Rp 695,71 triliun atau masih tercatat naik sebesar 3,02 persen secara year to date,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi,  dalam Konferensi Pers di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/4/2026). 

Menurutnya, capaian ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap instrumen investasi kolektif masih terjaga di tengah dinamika pasar. Selain itu, kata Hasan pertumbuhan ini menunjukkan ketahanan industri reksadana dalam menghadapi tekanan eksternal.

Meskipun pasar saham mengalami koreksi dan volatilitas meningkat, investor masih melihat reksadana sebagai instrumen yang relatif stabil dan terdiversifikasi.

“Tentu kita mencermati ya, dalam beberapa waktu terakhir, kita melihat bahwa pasar modal kita mengalami pergerakan yang cukup dinamis dan dengan tingkat volatilitas yang juga tercatat cukup tinggi. Ini tentu terkait juga dan seiring dengan tekanan geopolitik dan kondisi domestik dan global yang memang masih terus mengalami eskalasi,” jelasnya.

 

Nilai Transaksi Harian Saham

Selain itu, OJK mencatat rata-rata nilai transaksi harian saham selama Maret 2026 mencapai Rp 20,66 triliun, mencerminkan minat investor yang masih tinggi. Kondisi ini terjadi di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi cukup dalam. 

“Aktivitas transaksi saham misalnya tercatat masih terus menunjukkan angka yang solid dan tinggi dengan rata-rata nilai transaksi harian itu sudah ada di angka Rp 20,66 triliun selama bulan Maret 2026,” ujarnya.

Adapun OJK mencatat per 1 April 2026, IHSG berada di level 7.184,44 atau turun 16,91% secara year to date (YtD), seiring dengan tekanan eksternal yang berasal dari dinamika geopolitik dan kondisi ekonomi global.