Hyundai Card Uji Pembayaran Lintas Negara Pakai Stablecoin

Hyundai Card menyelesaikan uji pembayaran lintas negara berbasis stablecoin untuk transaksi antarperusahaan.

Diterbitkan 10 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hyundai Card menyelesaikan uji coba perdana pembayaran antarperusahaan lintas negara menggunakan stablecoin. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya awal perusahaan jasa keuangan besar asal Korea Selatan dalam memanfaatkan teknologi blockchain untuk mendukung pengelolaan keuangan internal.

Mengutip laporan The Korea Times, Jumat (10/7/2026), pengujian tersebut berfokus pada penggunaan stablecoin untuk menyelesaikan pembayaran lintas negara antara Hyundai Card dan perusahaan afiliasinya.

Transaksi itu termasuk pembayaran antarperusahaan atau intercompany payment. Artinya, dana ditransfer antara entitas yang masih berada dalam satu kelompok perusahaan dan bukan dikirim kepada pelanggan maupun pedagang eksternal.

Pembayaran antarperusahaan lintas negara umumnya membutuhkan koordinasi berbagai mata uang, sistem perbankan, dan zona waktu. Dalam sistem perbankan konvensional, proses transfer internasional dapat membutuhkan waktu beberapa hari serta dikenai biaya yang relatif besar.

Kondisi tersebut membuat transaksi lintas negara menjadi salah satu bidang yang banyak dikembangkan perusahaan teknologi finansial untuk meningkatkan efisiensi.

Melalui keterangan resminya, Hyundai Card menyebut pengujian tersebut telah mencapai tingkat kesiapan untuk diterapkan dalam transaksi di dunia nyata.

Meski demikian, keberhasilan uji coba belum berarti sistem tersebut akan langsung digunakan secara luas. Hingga saat ini, perusahaan belum mengumumkan jadwal penerapan stablecoin untuk aktivitas pembayaran reguler.

 

Peningkatan Efisiensi Operasional

Transaksi antarperusahaan dinilai menjadi salah satu penggunaan yang sesuai untuk menguji pembayaran berbasis stablecoin. Jenis transaksi tersebut umumnya dilakukan secara rutin, memiliki nilai yang dapat diperkirakan, dan mengikuti kebijakan pengelolaan keuangan internal perusahaan.

Karakteristik itu membuat pembayaran antarperusahaan memiliki risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan penggunaan stablecoin untuk transaksi langsung dengan konsumen.

Penggunaan stablecoin dalam pembayaran lintas negara berpotensi memberikan sejumlah keuntungan, mulai dari mempercepat proses transaksi, meningkatkan transparansi biaya, hingga memberikan kepastian penyelesaian pembayaran.

Berbeda dengan perdagangan aset kripto yang berorientasi pada pergerakan harga, uji coba stablecoin untuk pengelolaan keuangan perusahaan lebih berfokus pada peningkatan efisiensi operasional di belakang layar.

Pengembangan tersebut menyasar salah satu kelemahan sistem perbankan konvensional, yakni proses transfer internasional yang masih membutuhkan waktu relatif lama.

Langkah Hyundai Card juga sejalan dengan meningkatnya minat perusahaan global terhadap pengembangan infrastruktur pembayaran berbasis blockchain.

Sejumlah perusahaan sebelumnya telah mengeksplorasi inovasi pembayaran melalui jaringan blockchain, termasuk XRP Ledger. Uji coba Hyundai Card menunjukkan meningkatnya ketertarikan korporasi terhadap sistem penyelesaian transaksi yang dapat diprogram secara digital.

 

Di Tengah Pengetatan Regulasi

Uji coba tersebut dilakukan ketika Korea Selatan tengah memperketat regulasi terkait transfer aset digital.

Pada akhir 2024, pemerintah Korea Selatan mulai mendorong kewajiban pelaporan transaksi stablecoin lintas negara sebagai bagian dari upaya mencegah tindak kejahatan keuangan.

Kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah menempatkan transaksi stablecoin sebagai salah satu fokus dalam pengawasan sistem keuangan.

Bagi Hyundai Card, penerapan stablecoin secara luas akan membutuhkan penyesuaian terhadap kewajiban pelaporan serta aturan pencegahan pencucian uang.

Uji coba yang dilakukan perusahaan umumnya menjadi tahap awal sebelum dilanjutkan dengan kajian kepatuhan, integrasi sistem, dan evaluasi terhadap biaya transaksi.

Di tingkat global, perkembangan regulasi juga akan menentukan penggunaan stablecoin oleh perusahaan. Uni Eropa, misalnya, terus menyesuaikan kerangka regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCA) untuk mengatur aktivitas aset digital.