Harga Bitcoin Terjun ke US$ 60.000, Pelaku Pasar Panik

Harga Bitcoin kembali mendekati US$ 60.000 setelah tekanan jual meningkat akibat konflik AS-Iran, kebijakan The Fed, hingga aksi jual Strategy.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 12:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah turun sekitar 3,5% pada perdagangan Rabu kemarin. Mata uang kripto terbesar di dunia itu kembali mendekati level psikologis US$ 60.000 di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan potensi aksi jual lanjutan dari perusahaan pemegang Bitcoin terbesar, Strategy.

Mengutip CoinMarketCap, Kamis (9/7/2026), tekanan terhadap Bitcoin muncul setelah perkembangan terbaru konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kenaikan harga minyak dunia.

Di saat yang sama, pasar obligasi Jepang kembali mengalami gejolak sehingga mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko, termasuk aset kripto.

Sebelumnya, Bitcoin sempat mencoba menembus kembali level US$ 64.500 pada awal pekan. Namun upaya tersebut gagal dan bertepatan dengan pelemahan indeks saham teknologi Nasdaq.

Meski pasar saham AS mulai pulih pada perdagangan Rabu, Bitcoin justru gagal bangkit dari kisaran US$ 62.000. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap aset digital ini berasal dari faktor lain di luar pergerakan pasar saham.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak mentah Brent yang naik dari sekitar US$ 68 menjadi US$ 74 per barel dalam sepekan. Kenaikan tersebut dipicu terganggunya pasokan energi setelah nota kesepahaman antara AS dan Iran resmi berakhir.

Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir setelah militer AS melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal.

 

 

Kebijakan The Fed

Kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi sehingga peluang Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil. Kondisi ini juga mengurangi kemungkinan adanya stimulus ekonomi baru.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai 69%, meningkat dibandingkan 42% sebulan sebelumnya. Ekspektasi tersebut membuat aset berisiko seperti Bitcoin kehilangan daya tarik karena belum dianggap sebagai instrumen lindung nilai yang efektif.

Sentimen pasar juga memburuk setelah Presiden Donald Trump pada KTT NATO meminta penghentian hubungan dagang AS dengan Spanyol. Trump menyebut salah satu sekutu utama tersebut sebagai "wasted cause" karena tidak memenuhi target baru belanja pertahanan.

Ketegangan perdagangan dikhawatirkan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global sekaligus meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dunia.

Obligasi Jepang

Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam tiga dekade. Investor menilai pemerintah berupaya mengubah mandat Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) agar lebih berorientasi pada penguatan ekonomi, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap independensi bank sentral.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Jepang merupakan pemegang terbesar surat utang pemerintah AS (US Treasury) di luar negeri. Jika tekanan terus berlanjut, dampaknya berpotensi meluas ke pasar keuangan global.

 

Aksi Jual Strategy

Tekanan terhadap Bitcoin juga berasal dari kabar aksi jual terbaru yang dilakukan Strategy. Perusahaan itu mengumumkan telah menjual Bitcoin senilai US$ 216 juta pada Senin.

Pengumuman tersebut mengejutkan investor karena transaksi dilakukan di luar program monetisasi senilai US$ 1,25 miliar yang sebelumnya diumumkan perusahaan. Dalam dokumen Form 8-K, Strategy menjelaskan program tersebut hanya mencakup dana yang digunakan untuk memperkuat cadangan kas perusahaan.

Investor kini mengkhawatirkan aksi jual Bitcoin akan terus berlanjut seiring upaya Strategy mengelola struktur modal dan kewajiban utangnya. Perusahaan diketahui memiliki kewajiban pembayaran dividen tahunan sekitar US$ 1,76 miliar serta utang konversi lebih dari US$ 3,8 miliar, dengan opsi pelunasan paling awal sebelum April 2027.

Di sisi regulasi, dokumen terbaru menunjukkan bank sentral India mendukung kebijakan yang mengarah pada pembatasan aktivitas aset kripto. Salah satu usulannya adalah melarang perbankan memiliki eksposur terhadap aset virtual demi menjaga stabilitas sistem keuangan. 

Berbagai faktor tersebut memperbesar tekanan terhadap harga Bitcoin sekaligus memperburuk sentimen pasar.Â