Sentimen yang Bayangi Wall Street Pekan Ini

Berikut sejumlah sentimen yang akan mempengaruhi wall street pada pekan ini.

Diterbitkan 24 November 2025, 16:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah data ekonomi akan terus dirilis pada pekan ini seiring pemerintah Amerika Serikat (AS) berupaya menyelesaikan tumpukan data ekonomi setelah penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS)  atau shutdown pemerintah AS. Selain data ekonomi yang membayangi wall street atau bursa saham AS, pelaku pasar juga akan hadapi laporan keuangan yang sepi dan perhatian untuk saham teknologi.

Mengutip Yahoo Finance, Senin (24/11/2025), data harga produsen September dari Biro Statistik Tenaga Kerja dan data penjualan ritel Biro Sensus untuk bulan yang sama akan menjadi sorotan. Kedua laporan akan dirilis Selasa di tengah serbuan data menjelang akhir pekan Thanksgiving. Investor juga akan mencermati data kepercayaan konsumen The Conference Board untuk bulan November, yang akan dirilis Selasa.

Dari sisi perusahaan, investor akan menghadapi pekan laporan keuangan yang relatif sepi. Alibaba Holdings (BABA), Dell Technologies (DELL), dan beberapa peritel termasuk Kohl's (KSS) dan Best Buy (BBY) akan menjadi sorotan utama kalender pekan ini. Bulan ini merupakan bulan yang berat bagi para investor yang optimistis terhadap teknologi.

Beberapa saham "Magnificent Seven", kripto, dan perusahaan yang berfokus pada AI seperti CoreWeave (CRWV) dan Oracle (ORCL) mengalami koreksi tajam dalam sebulan terakhir.

Meta (META) dan Oracle masing-masing telah kehilangan lebih dari 15% dan 25%, karena keduanya menyampaikan rencana untuk meningkatkan investasi AI. Saham Microsoft (MSFT) telah turun 9% dalam sebulan terakhir.

Saham Nvidia relatif stagnan selama periode tersebut, sementara perusahaan chip yang lebih kecil seperti AMD (AMD) dan Intel (INTC) telah turun mendekati 10%.

 

 

 

Nvidia jadi Perhatian

Laporan pendapatan Nvidia pada Rabu malam menawarkan banyak hal yang membuat para investor optimistis terhadap Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. CEO Nvidia Jensen Huang dengan singkat menepis kekhawatiran tentang gelembung AI dalam laporan pendapatan perusahaan, mengatakan kepada investor, "Kami melihat sesuatu yang sangat berbeda,” ujar Huang.

Setelah awalnya menguat, saham Nvidia melemah pada Kamis. Pada Jumat, saham Nvidia turun lagi 1%.

"Nvidia baru saja menegaskan kembali perannya sebagai jangkar sentimen pasar," tulis Kepala Pasar Modal di Direxion, Jake Behan.

Sambutan negatif terhadap laporan laba yang positif merangkum sentimen investor menjelang bulan terakhir tahun ini.

"Momentumnya tidak ada [pada Kamis] untuk melanjutkan reli, dengan berlalunya dua peristiwa risiko penting, keduanya dengan hasil positif, tidak kurang — tidak cukup untuk menghilangkan sentimen bearish yang mencengkeram pasar saat ini," tulis analis Capital.com, Kyle Rodda.

 

 

 

Kekhawatiran untuk Perusahaan Teknologi

Sementara itu, Kepala Investasi Northlight Asset Manament menuturkan, Chris Zaccarelli menuturkan, kekhawatiran bulan ini sebagian besar berpusat pada lonjakan belanja infrastruktur yang menurut perusahaan-perusahaan teknologi besar diperlukan untuk memenuhi permintaan kecerdasan buatan.

Ia khawatir lonjakan ini,  yang telah membuat para raksasa teknologi berkomitmen ratusan miliar dolar AS berubah menjadi gelembung.

"Namun sementara itu, perusahaan teknologi terbesar di dunia sangat menguntungkan dan mereka menginvestasikan kembali miliaran dolar ke pusat data, server, dan chip, dan pengeluaran tersebut nyata," kata Zaccarelli.

Investor institusional seperti dana lindung nilai dan dana pensiun telah menumpuk saham di perusahaan-perusahaan teknologi besar, dengan portofolio institusional menambahkan USD 348 miliar dalam kepemilikan Nvidia selama kuartal ketiga, menurut data regulasi yang dikumpulkan oleh LPL Financial. Total kepemilikan institusional untuk Nvidia dan Microsoft telah melampaui USD 2 triliun.