Sukses

Penjualan Sektor Farmasi Bakal Meningkat, Ini Pendorongnya

Liputan6.com, Jakarta - Penjualan sektor farmasi akan meningkat pada 2021 menjadi Rp 120,2 triliun atau USD 8,4 miliar dari periode 2020 sebesar Rp 110,6 triliun atau USD 7,6 miliar pada 2020.

Kenaikan penjualan farmasi ini berlanjut pada 2025 sebesar Rp 176,7 triliun atau setara USD 12,6 miliar dan Rp 297,9 triliun atau USD 22,5 miliar pada 2030.

Pertumbuhan penjualan itu dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau compounded annual growth rate (CAGR) atas investasi dalam 10 tahun sebesar 10,4 persen dalam mata uang lokal dan 11,5 persen dalam dolar AS.

Hal itu berdasarkan laporan Fitch Solutions yang dikutip Kamis (24/6/2021). Adapun sektor farmasi saat ini menyumbang sedikit dari total pengeluaran perawatan kesehatan dengan angka diharapkan naik menjadi 24,3 persen pada 2030.

Pengeluaran farmasi meningkat 0,7 persen pada 2020 menjadi 0,9 persen pada 2030. Pengeluaran per kapita untuk obat-obatan tetap rendah hanya mencapai USD 28 pada 2020, meski pun Fitch Solutions perkirakan angka pengeluaran per kapita untuk obat-obatan tetap USD 75 pada 2030.

"Populasi (penduduk-red) Indonesia dan urbanisasi yang meningkat, meningkatnya beban penyakit menular dan tidak menular, dan dukungan untuk perawatan kesehatan universal akan meningkatkan pengeluaran untuk obat-obatan,” demikian mengutip laporan tersebut.

Adapun skema perawatan kesehatan akan mendukung akses ke perawatan medis dan obat-obatan. Digulirkan Januari 2014, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) diproyeksikan oleh pemerintah menjadi skema asuransi nasional pada awal 2019.

"Sementara kami tidak mengharapkan pemerintah untuk mempertahankan laju peningkatan ini. Ini merupakan langkah maju penting bagi sektor ini,” dikutip dari laporan tersebut.

2 dari 3 halaman

Potensi Investasi Masih Lemah

Fitch Solutions mengharapkan obat generik menjadi penerima manfaat utama JKN karena pasien di bawah skema diharuskan memakai obat-obatan ini bila memungkinkan.

Faktor menarik dari spesifik industri ini akan lebih berpengaruh dalam jangka panjang. Namun, kurangnya kekayaan intelektual yang efektif dan peraturan terus menerus akan menghalangi produsen obat.

"Kami menyoroti prospek ekonomi dan peningkatan bisnis lingkungan akan menjadi tanda positif bagi pembuat kontrak asing, tetapi potensi investasi akan tetap lemah karena kondisi yang mendasari masalah yang terkait dengan industri,” tulis Fitch Solutions.

Oleh karena itu, dalam pandangan Fitch Solutions, ketertarikan pasar obat-obatan di Indonesia sebagian besar akan ditunjukkan oleh obat generik yang baru muncul dan produsen yang mapan.

Peluang bagi pembuat obat inovatif tetap dibatasi oleh pendapatan per kapita yang rendah, ketergantungan ekonomi pada beberapa industri dan sektor utama yang meningkatkan kerentanannya, serta kurangnginya infrastruktur kesehatan dan peraturan.

Pada saat yang sama, produsen obat dalam negeri akan terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mereka dalam menanggapi persaingan dari perusahaan India yang beroperasi secara regional.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini