Denyut Baru Budidaya Ikan Klamono

Sebelumnya, warga hanya mengandalkan air hujan dan pasokan sungai secara manual. Namun saat kemarau panjang tiba, proses pengambilan air dari sungai terhambat oleh jarak kolam yang cukup jauh.

Diterbitkan 26 September 2026, 08:25 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 22 kolam budidaya ikan milik warga di Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, kembali diaktifkan.

Pengaktifan ini terwujud setelah Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi dari Universitas Brawijaya bersama masyarakat setempat berhasil mengatasi krisis air akibat kemarau berkepanjangan.

TEP UB dan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) setempat menyediakan unit pompa air beserta selang sepanjang 300 hingga 400 meter. Fasilitas ini digunakan untuk mengalirkan air secara langsung dari Sungai Klasafet menuju kolam-kolam warga. Ketua Pokdakan, Alda Frida, mengungkapkan bahwa ketersediaan air merupakan salah satu tantangan terbesar bagi aktivitas budidaya di Klamono, terutama saat memasuki musim kemarau.

"Ketersediaan air adalah kendala besar dalam pengembangan budidaya ikan di Klamono. Dengan adanya pompa ini, kami berharap masyarakat lebih mudah mendapatkan dan mengalirkan air dari sumber terdekat ke kolam budidaya," ujar Alda, Minggu (27/9/2026).

Sebelumnya, warga hanya mengandalkan air hujan dan pasokan sungai secara manual. Namun saat kemarau panjang tiba, proses pengambilan air dari sungai terhambat oleh jarak kolam yang cukup jauh. Anggota TEP Universitas Brawijaya, Gilang Nur, menjelaskan bahwa kebutuhan bantuan pompa ini teridentifikasi setelah timnya berdiskusi langsung dengan sejumlah kelompok pembudidaya.

"Kendala utamanya memang di masalah air. Maka dari itu, kami menghadirkan pompa air yang dilengkapi selang sekitar 300 sampai 400 meter supaya masyarakat di Klamono terbebas dari keterbatasan air," kata Gilang, Senin (28/9).

Pemasangan pompa dan penarikan saluran air dilakukan secara gotong royong. Program ini merupakan bagian dari aksi TEP di kawasan transmigrasi untuk memberikan solusi konkret berbasis kebutuhan riil masyarakat di lapangan.

 

Berikan Kontribusi Konkret

Inisiatif tersebut sejalan dengan arahan Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang meminta agar temuan TEP tidak berhenti pada tahap pemetaan masalah saja.

"Jangan sampai teman-teman Ekspedisi Patriot sudah turun ke lapangan dan mendengarkan masyarakat, lalu berhenti di masalah. Kita harus menghadirkan solusi terbaik, relevan, feasible, dan masuk akal," tegas AHY saat berdialog dengan peserta TEP 2026 di Jayapura, Jumat (17/9).

Hal senada disampaikan Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Ia terus mendorong para peserta TEP untuk memberikan kontribusi nyata di daerah penugasan.

"Harus ada sesuatu yang dikerjakan, ada dampaknya, dan ada manfaatnya," pesan Iftitah saat melepas TEP pada 31 Juli lalu.