Tangis Ayah Dokter Icha Saat Minta Keadilan ke Gubernur NTT

Ayah Dokter Icha meminta keadilan kepada Gubernur NTT atas dugaan intimidasi yang dialami putrinya.

Diterbitkan 30 Juni 2026, 07:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ayah almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha, Gabriel Pakaenoni, tak kuasa menahan air mata saat Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena melayat ke rumah duka di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Minggu 28 Juni 2026. Di hadapan gubernur, Gabriel memohon agar putrinya memperoleh keadilan atas dugaan intimidasi yang dialami sebelum meninggal dunia.

Tangis keluarga ikut pecah ketika Gabriel memeluk Gubernur Melki yang datang bersama Ketua TP PKK NTT, Mindriyati Astiningsih Laka Lena. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan harapannya agar kasus yang menimpa putrinya diusut hingga tuntas.

"Bapak Gubernur, saya minta penegakan keadilan, kebenaran, perlindungan keamanan dan kenyamanan bukan hanya untuk anak saya, tetapi untuk seluruh tenaga kesehatan. Terlalu kejam dan sadis membunuh dan mengambil hidup anak saya. Anak kami ingin mengabdi untuk daerah ini, tetapi hidupnya berakhir seperti ini. Tolong kami, Bapak," ucapnya dengan suara bergetar.

Kesedihan juga menyelimuti sang ibu yang tak mampu membendung air mata saat mengenang putrinya.

"Bapak Gubernur, lihat anak ini. Terlalu cantik, Bapak. Hidupnya untuk TTU, tetapi dia juga mati untuk TTU," katanya.

Suasana semakin haru ketika adik almarhumah menyampaikan keinginannya untuk mengikuti jejak sang kakak menjadi seorang dokter.

"Bapak Gubernur, beta juga mau jadi dokter seperti kakak. Tolong bantu beta," ujarnya.

Kehadiran Gubernur Melki bukan sekadar menyampaikan belasungkawa. Di hadapan keluarga, ia menegaskan Pemerintah Provinsi NTT akan mengawal penuh proses hukum hingga seluruh fakta dalam kasus meninggalnya dr. Icha terungkap.

Melki mengungkapkan bahwa dugaan intimidasi terhadap dr. Icha sebenarnya telah diketahuinya sejak awal. Ia mengaku menerima laporan dari dokter spesialis toksikologi yang mendampingi dr. Icha selama menangani pasien.

"Saya sejak awal sudah dikontak oleh dokter ahli urologi yang melaporkan kepada saya bahwa dokter Icha mengalami intimidasi di TTU. Karena itu saya langsung meminta Bupati TTU dan Ketua DPRD TTU memberi perhatian khusus terhadap persoalan ini," ungkapnya, dikutip Selasa (30/6/2026).

Gubernur mengatakan dirinya bahkan telah meminta agar persoalan tersebut diselesaikan melalui dialog.

"Saya sempat meminta teman-teman yang bermasalah dengan dokter Icha agar segera menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, bertemu dan berdialog. Tetapi kemudian saya mendapat kabar dokter Icha meninggal dunia. Ini tentu sangat memukul kita semua," katanya.

 

Desak Proses Hukum

Melki menegaskan proses hukum harus berjalan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap dugaan keterlibatan tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

"Kita proses semuanya tanpa kecuali. Saya sudah melihat pernyataan Kapolres TTU dan kita akan mengawal agar proses hukum berjalan dengan baik sampai terang benderang siapa saja yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini," tegasnya.

Ia juga memastikan surat wasiat yang ditinggalkan dr. Icha, yang kini telah berada di tangan penyidik, akan menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan.

Menurut Melki, aparat penegak hukum juga perlu mendalami kemungkinan adanya faktor-faktor lain yang menjadi rangkaian penyebab hingga kasus tersebut berujung tragis.

"Kita biarkan proses hukum berjalan sambil kita kawal. Kita juga akan melihat apakah ada faktor-faktor lain yang menjadi akumulasi sehingga semuanya bisa diproses secara menyeluruh oleh kepolisian," ujarnya.

 

Lindungi Nakes

Dalam kesempatan itu, Gubernur kembali mengingatkan bahwa Undang-Undang Kesehatan memberikan perlindungan hukum kepada seluruh tenaga medis yang bekerja sesuai standar profesi.

"Tenaga medis, tenaga kesehatan dan dokter yang bekerja sesuai prosedur tidak boleh mengalami intimidasi, apalagi kekerasan, baik fisik maupun verbal. Siapa pun pelakunya, setinggi apa pun jabatannya, tetap bisa dipidana," tegas Melki.

Ia menambahkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, dr. Icha telah menjalankan seluruh prosedur medis sesuai ketentuan, termasuk berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi dalam menangani pasien.

Sebagai bentuk komitmen pemerintah, Pemprov NTT akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten TTU, DPRD TTU, Dinas Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta psikolog untuk memberikan pendampingan kepada tenaga kesehatan agar tetap merasa aman dalam menjalankan tugas.

"Kita ingin memastikan seluruh dokter, tenaga kesehatan, perawat dan bidan di NTT tetap bekerja dengan tenang setelah kasus dokter Icha ini. Pemerintah akan hadir memberikan perlindungan dan rasa aman bagi mereka," tutupnya.