12 Ciri Orang yang Terlalu Membutuhkan Validasi, Kenali Tanda dan Kebiasaannya

Ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi dapat terlihat dari sulit mengambil keputusan, takut kritik, dan bergantung pada pujian. Kenali tandanya.

Diterbitkan 14 Agustus 2026, 21:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap orang tentu senang ketika mendapatkan pujian, apresiasi, atau pengakuan dari orang lain. Mendapatkan validasi juga merupakan bagian yang wajar dalam hubungan sosial karena manusia memiliki kebutuhan untuk merasa diterima dan terhubung dengan orang lain.

Namun, kebutuhan tersebut dapat menjadi kurang sehat ketika seseorang terlalu bergantung pada penilaian eksternal untuk merasa berharga atau yakin terhadap dirinya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi dapat terlihat dari kebiasaan mencari persetujuan, sulit menerima kritik, hingga merasa cemas ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan.

Dalam psikologi, kebutuhan manusia untuk merasa diterima dan terhubung dengan orang lain memang dianggap penting. Namun, manusia juga membutuhkan rasa otonomi, yaitu kemampuan merasa bahwa dirinya dapat memilih dan bertindak berdasarkan nilai atau keinginannya sendiri.

Karena itu, membutuhkan apresiasi dari orang lain tidak otomatis berarti seseorang memiliki masalah psikologis. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar penilaian orang lain memengaruhi harga diri, keputusan, dan keseharian seseorang.

1. Sering Meminta Pendapat untuk Hal-Hal Kecil

Salah satu ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi adalah terlalu sering meminta pendapat orang lain, bahkan ketika sebenarnya ia sudah mengetahui pilihan yang ingin diambil.

Misalnya, seseorang terus bertanya apakah pakaian yang dikenakan sudah bagus, apakah unggahan media sosialnya menarik, atau apakah keputusan sederhana yang dibuat sudah benar.

Meminta pendapat sesekali merupakan hal yang normal. Namun, apabila seseorang merasa tidak mampu menentukan pilihan tanpa persetujuan orang lain, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa rasa percaya terhadap penilaian diri sendiri sedang rendah.

2. Sulit Merasa Puas Tanpa Pujian

Orang yang terlalu membutuhkan validasi dapat merasa hasil usahanya belum cukup baik sebelum mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Contohnya, setelah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, ia justru terus memikirkan apakah atasan atau rekan kerja akan memujinya. Ketika tidak mendapatkan apresiasi, pencapaiannya sendiri terasa kurang berarti.

Pujian sebenarnya dapat menjadi bentuk umpan balik yang positif. Akan tetapi, kesejahteraan psikologis tidak hanya bergantung pada penghargaan eksternal. Teori Self-Determination menempatkan kompetensi, otonomi, dan keterhubungan sebagai kebutuhan psikologis penting bagi fungsi dan kesejahteraan manusia.

3. Terlalu Memikirkan Pendapat Orang Lain

Ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi juga dapat terlihat dari kebiasaan memikirkan penilaian orang lain secara berlebihan.

Seseorang mungkin terus mengulang percakapan dalam pikirannya dan bertanya-tanya apakah perkataannya membuat orang lain tidak suka. Ia juga bisa menjadi sangat berhati-hati dalam berperilaku karena takut dianggap aneh, salah, atau mengecewakan.

Mempertimbangkan perasaan orang lain tentu merupakan bagian dari hubungan sosial yang sehat. Masalah dapat muncul ketika kekhawatiran terhadap penilaian tersebut membuat seseorang sulit menjalani aktivitas secara nyaman.

4. Sulit Mengatakan "Tidak"

Orang yang terlalu membutuhkan validasi terkadang merasa harus selalu menyenangkan orang lain agar tetap diterima.

Akibatnya, ia mungkin menerima permintaan meskipun sedang lelah, tidak memiliki waktu, atau sebenarnya tidak setuju. Penolakan kemudian dianggap sebagai sesuatu yang dapat membuat orang lain marah atau menjauh.

Padahal, menjaga hubungan dengan orang lain tidak berarti harus selalu menyetujui semua permintaan. Hubungan yang sehat juga memberikan ruang bagi seseorang untuk menyampaikan kebutuhan dan batasannya.

5. Sangat Terpengaruh oleh Kritik

Kritik dapat terasa jauh lebih berat bagi orang yang sangat bergantung pada penilaian eksternal.

Salah satu ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi adalah menganggap kritik terhadap suatu tindakan sebagai penilaian terhadap dirinya secara keseluruhan. Kritik sederhana seperti "hasilnya masih bisa diperbaiki" dapat diterjemahkan menjadi "saya tidak cukup baik".

Padahal, umpan balik dapat digunakan untuk mengevaluasi perilaku tertentu tanpa harus menentukan nilai seseorang secara keseluruhan.

6. Mood Mudah Berubah karena Respons Orang Lain

Respons dari lingkungan sosial juga dapat memengaruhi suasana hati secara signifikan.

Misalnya, seseorang merasa sangat senang ketika unggahannya mendapatkan banyak komentar positif, tetapi langsung merasa tidak berharga ketika respons yang diterima sedikit. Hal serupa dapat terjadi dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan romantis.

Perlu diingat bahwa ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi tidak dapat ditentukan hanya dari satu kebiasaan. Pola perilaku, konteks, frekuensi, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari perlu diperhatikan.

7. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Kebiasaan membandingkan pencapaian, penampilan, pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sosial dengan orang lain juga dapat menjadi tanda seseorang terlalu mengandalkan penilaian eksternal.

Media sosial dapat membuat proses perbandingan terasa semakin mudah karena seseorang dapat melihat pencapaian orang lain dalam waktu singkat. Ketika standar keberhasilan pribadi terus ditentukan berdasarkan apa yang dimiliki orang lain, kepuasan terhadap diri sendiri dapat semakin sulit diperoleh.

8. Mengubah Diri agar Disukai Orang Lain

Menyesuaikan diri dengan situasi sosial merupakan hal yang normal. Namun, ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi dapat terlihat ketika seseorang berulang kali mengubah pendapat, gaya, atau perilakunya hanya demi mendapatkan penerimaan.

Ia mungkin menyembunyikan pendapat sebenarnya karena takut berbeda. Dalam jangka panjang, kebiasaan seperti ini dapat membuat seseorang semakin sulit mengenali apa yang sebenarnya ia inginkan.

Self-Determination Theory menjelaskan bahwa otonomi berkaitan dengan pengalaman memiliki pilihan dan merasa bahwa tindakan berasal dari diri sendiri, bukan semata-mata karena tekanan eksternal.

9. Terus Mencari Kepastian dari Orang Lain"

Menurut kamu aku sudah benar?"

"Dia masih suka berteman denganku, kan?"

"Menurut kamu aku kelihatan aneh tidak?"

Pertanyaan seperti ini tidak selalu bermasalah. Semua orang terkadang membutuhkan reassurance atau penegasan dari orang terdekat.

Jennifer Crocker dkk dalam penelitian Contingencies of Self-Worth Scale (CSWS) di Journal of Personality and Social Psychology menjelaskan ketergantungan harga diri pada persetujuan orang lain pola tersebut patut diperhatikan. Terlalu membutuhkan validasi dapat membuat seseorang sulit mempercayai penilaian dirinya sendiri.

10. Merasa Bersalah Ketika Mengecewakan Orang Lain

Orang yang sangat bergantung pada penerimaan sosial dapat merasa bersalah ketika tidak memenuhi harapan orang lain.

Perasaan bersalah sesekali merupakan hal yang wajar, terutama ketika seseorang memang melakukan kesalahan. Namun, rasa bersalah yang muncul hanya karena menetapkan batas, berbeda pendapat, atau menolak permintaan orang lain merupakan hal yang perlu dicermati.

Kebutuhan untuk diterima dan terhubung dengan orang lain memang penting. Akan tetapi, kebutuhan tersebut idealnya berjalan bersama dengan kemampuan mempertahankan otonomi dan rasa kompetensi diri.

11. Menganggap Penolakan sebagai Cerminan Harga Diri

Penolakan dari seseorang tidak selalu berarti bahwa diri kita tidak berharga. Orang lain dapat menolak ajakan, ide, permintaan, atau hubungan karena berbagai alasan.

Namun, ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi dapat terlihat ketika penolakan langsung diterjemahkan sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

Cara berpikir seperti ini membuat pengalaman sosial yang sebenarnya biasa menjadi terasa jauh lebih personal.

12. Terlalu Bergantung pada "Like" dan Komentar

Media sosial memungkinkan seseorang mendapatkan umpan balik secara cepat. Karena itu, jumlah like, komentar, atau respons dapat menjadi sumber validasi yang mudah diakses.

Tidak masalah jika seseorang merasa senang ketika unggahannya mendapat respons positif. Yang perlu diperhatikan adalah ketika angka tersebut menjadi ukuran utama untuk menentukan apakah dirinya menarik, sukses, atau berharga.

Dalam konteks psikologi, orientasi yang sangat dikendalikan oleh penghargaan atau persetujuan eksternal berbeda dengan motivasi yang lebih otonom, yaitu melakukan sesuatu karena memang dianggap penting atau sesuai dengan nilai pribadi.

Cara Menyikapi Kebutuhan Validasi

Memiliki beberapa tanda di atas bukan berarti seseorang dapat langsung disebut memiliki gangguan mental tertentu. Ciri orang yang terlalu membutuhkan validasi lebih tepat dipahami sebagai pola perilaku yang perlu dilihat secara menyeluruh.

Salah satu langkah yang dapat dicoba adalah mulai membedakan antara meminta masukan dan membutuhkan persetujuan. Masukan membantu seseorang mempertimbangkan informasi sebelum mengambil keputusan, sedangkan ketergantungan pada persetujuan dapat membuat seseorang merasa tidak mampu memutuskan tanpa orang lain.

Cobalah pula menanyakan kepada diri sendiri sebelum mencari pendapat orang lain: "Apa sebenarnya yang saya pikirkan?", "Apa yang saya inginkan?", dan "Apakah keputusan ini sesuai dengan nilai saya?"

Membangun rasa kompetensi juga dapat membantu. Alih-alih hanya mencari pujian, seseorang dapat mengevaluasi proses, usaha, keterampilan yang berkembang, dan hal yang berhasil dipelajari. Dalam Self-Determination Theory, kompetensi dan otonomi merupakan bagian dari kebutuhan psikologis dasar yang berkaitan dengan fungsi dan kesejahteraan.

Jika kebutuhan akan validasi sudah sangat mengganggu pekerjaan, hubungan, pengambilan keputusan, atau keseharian, berbicara dengan psikolog dapat menjadi pilihan yang lebih tepat. Penilaian profesional diperlukan untuk memahami penyebab dan pola yang mendasarinya, bukan sekadar menyimpulkan kondisi seseorang berdasarkan daftar tanda di internet.

Pertanyaan Seputar Orang yang Terlalu Membutuhkan Validasi

1. Apakah terlalu membutuhkan validasi berarti seseorang memiliki rasa percaya diri yang rendah? Belum tentu. Kebutuhan validasi dapat berkaitan dengan rasa percaya diri, tetapi juga bisa dipengaruhi pengalaman hidup, pola hubungan, lingkungan sosial, atau kebiasaan mencari kepastian dari orang lain. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan kondisi psikologis seseorang hanya berdasarkan satu perilaku.

2. Apakah kebutuhan validasi bisa berubah seiring waktu? Bisa. Pola mencari validasi dapat berubah ketika seseorang semakin mengenali dirinya, membangun kepercayaan terhadap kemampuan sendiri, dan belajar mengambil keputusan tanpa selalu bergantung pada penilaian orang lain. Perubahan juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman baru.

3. Bagaimana cara mengetahui bahwa kebutuhan validasi sudah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari? Perhatikan dampaknya. Kebutuhan validasi patut mendapat perhatian lebih apabila membuat seseorang terus-menerus cemas terhadap penilaian orang lain, sulit mengambil keputusan, menghindari aktivitas tertentu, atau mengalami masalah dalam pekerjaan dan hubungan. Jika dampaknya cukup berat atau berlangsung lama, konsultasi dengan psikolog dapat membantu memahami penyebab dan pola perilakunya.