Liputan6.com, Jakarta - Bagi pembudidaya, mengetahui cara menghilangkan bau amis pada kolam lele bukan sekadar soal membuat area sekitar kolam tetap nyaman. Air yang mulai berbau biasanya menjadi tanda adanya sisa pakan, kotoran, bahan organik, atau hasil metabolisme ikan yang menumpuk. Jika dibiarkan, kondisi air dapat semakin menurun dan berpengaruh terhadap pemeliharaan lele.
Kolam lele memang tidak harus memiliki air yang jernih seperti akuarium. Lele dapat hidup di lingkungan air yang keruh, tetapi kualitas air tetap perlu dikelola agar tidak mengalami penurunan secara berlebihan. Bau yang semakin menyengat justru menjadi salah satu tanda bahwa pengelolaan kolam perlu diperhatikan kembali.
Karena itu, penanganannya sebaiknya tidak hanya berfokus pada menghilangkan bau yang tercium. Penyebabnya juga perlu dicari, mulai dari pola pemberian pakan, endapan di dasar kolam, pergantian air, hingga masuknya bahan organik dari lingkungan sekitar. Berikut beberapa langkah yang dirangkum Liputan6.com dapat dilakukan untuk membantu mengurangi bau pada kolam lele, Selasa (29/9/2026).
Advertisement
1. Buang Sebagian Air dan Endapan dari Dasar Kolam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351239/original/043030500_1789646690-bae91146-bad6-454b-bfc9-b4309b25331e.jpg)
Salah satu penyebab utama bau pada kolam lele adalah penumpukan bahan organik di dalam air. Sisa pakan, kotoran, dan lendir ikan dapat terakumulasi kemudian mengendap di dasar kolam. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menjelaskan bahwa pergantian air yang kurang teratur dapat membuat sisa pakan dan hasil metabolisme ikan menumpuk dan memicu bau tidak sedap.
Karena itu, ketika air mulai berbau kuat, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengeluarkan sebagian air kolam. Air dari bagian dasar menjadi perhatian penting karena endapan kotoran dan sisa pakan banyak terkumpul di area tersebut.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng juga menyebut perawatan kualitas air secara rutin sebagai salah satu cara menangani permasalahan air kolam yang berbau. Sementara itu, materi Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menyebut bahwa pada kondisi tertentu pergantian air dapat dilakukan sebanyak 30–50 persen.
Penggantian sebagian air tidak berarti seluruh air kolam harus langsung dikuras. Penggantian secara bertahap dapat menjadi pilihan agar kondisi lingkungan ikan tidak berubah secara mendadak. Setelah sebagian air dibuang, air baru dapat ditambahkan kembali sesuai kebutuhan kolam.
2. Kurangi Sisa Pakan yang Mengendap
Pakan yang tidak habis dimakan lele merupakan salah satu sumber masalah yang sering luput diperhatikan. Ketika jumlah pakan terlalu banyak, sebagian akan tertinggal di dalam air. Dalam kondisi tersebut, sisa pakan kemudian menjadi bahan organik yang dapat memperburuk kualitas air dan menimbulkan bau.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menyarankan pemberian pakan sesuai dosis agar pakan dapat dikonsumsi ikan dan tidak tersisa di perairan. Pemberian pakan berlebihan juga dapat menyebabkan lele memuntahkan kembali pakan, terutama ketika ikan mengalami stres.
Hal serupa dijelaskan dalam materi Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan. Pakan harus diberikan dengan takaran yang tepat dan tidak berlebihan. Jika setelah sekitar 10 menit masih terdapat pakan di permukaan, sisa tersebut dianjurkan segera diambil agar tidak mengendap dan menjadi sumber pencemar air.
Karena itu, jangan menjadikan banyaknya pakan sebagai ukuran bahwa lele akan tumbuh lebih cepat. Amati respons ikan ketika diberi makan. Pakan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan ikan, kemudian sisa yang terlihat segera diangkat.
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi bahan organik yang masuk ke dalam kolam sejak awal, sehingga upaya cara menghilangkan bau amis pada kolam lele tidak hanya dilakukan ketika air sudah telanjur berbau.
Advertisement
3. Bersihkan Sampah Organik yang Masuk ke Kolam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572156/original/027679500_1777775998-Gemini_Generated_Image_t1vwait1vwait1vw.jpeg)
Selain pakan dan kotoran ikan, bahan organik dari luar kolam juga dapat memperburuk kondisi air. Daun kering, potongan tanaman, atau sampah organik yang jatuh ke permukaan kolam akan berada di dalam air dan perlahan mengalami penguraian.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menyebut dedaunan dan bahan organik lain yang mengendap sebagai salah satu faktor yang dapat menyebabkan bau pada kolam lele. Karena itu, lingkungan sekitar kolam juga perlu diperhatikan, bukan hanya airnya.
Jika kolam berada di bawah pohon, daun yang jatuh sebaiknya diambil secara berkala. Pembudidaya juga dapat menggunakan jaring sebagai penutup permukaan kolam untuk mengurangi masuknya daun dan sampah dari luar.
Langkah ini terlihat sederhana, tetapi cukup penting terutama pada kolam yang berada di halaman rumah. Sampah daun yang dibiarkan berhari-hari dapat menambah beban bahan organik di dalam air. Dengan mengambilnya secara rutin, sumber bau dapat dikurangi sebelum menumpuk.
4. Gunakan Probiotik untuk Membantu Menguraikan Bahan Organik
Ketika bau muncul karena banyaknya sisa bahan organik, pengelolaan mikroorganisme di dalam kolam juga dapat menjadi salah satu pendekatan. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menyebut penggunaan probiotik sebagai salah satu cara membantu mengatasi bau pada kolam lele.
Menurut sumber tersebut, mikroorganisme dalam probiotik dapat membantu menguraikan sisa pakan yang terdapat di dalam air budidaya sehingga bau busuk yang menyengat dapat dicegah.
Namun, penggunaan probiotik sebaiknya tidak dianggap sebagai pengganti kebersihan kolam. Jika sisa pakan terus diberikan secara berlebihan dan endapan tidak pernah dikeluarkan, penggunaan probiotik saja tidak menyelesaikan sumber masalah.
Prinsipnya adalah mengurangi bahan organik sekaligus membantu proses penguraiannya. Karena itu, pemberian probiotik sebaiknya tetap dibarengi dengan pengaturan pakan dan perawatan air secara rutin.
5. Tingkatkan Pergerakan Air dan Oksigenasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572154/original/010658000_1777775998-Gemini_Generated_Image_lrmvzolrmvzolrmv.jpeg)
Air yang terlalu tenang dapat membuat kondisi kolam semakin tidak ideal ketika banyak bahan organik menumpuk. Salah satu cara yang disebut Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng untuk membantu mengurangi bau adalah menggunakan kucuran air.
Kucuran dapat berasal dari air yang dipompa dari luar maupun dari dalam kolam. Cipratan air membantu proses pelepasan amonia sekaligus meningkatkan kadar oksigen di dalam air.
Penerapannya dapat disesuaikan dengan kondisi kolam. Pada kolam rumahan, misalnya, sirkulasi air dapat dibuat dengan sistem pompa yang menghasilkan aliran atau kucuran. Tujuannya bukan sekadar membuat air bergerak, tetapi membantu menciptakan kondisi air yang lebih terkelola.
Meski demikian, sistem kucuran tetap perlu disesuaikan dengan kondisi ikan dan fasilitas yang tersedia. Jangan sampai aliran air justru terlalu kuat sehingga membuat ikan terus-menerus terganggu. Perawatan pompa dan saluran juga perlu dilakukan agar sistem tidak menjadi sumber kotoran baru.
6. Atur Kepadatan Ikan dan Pola Perawatan Kolam
Bau juga berkaitan dengan banyaknya limbah yang dihasilkan di dalam kolam. Semakin banyak ikan yang dipelihara dalam ruang terbatas, semakin besar pula jumlah kotoran, urine, dan lendir yang masuk ke lingkungan air.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menyebut pengurangan padat tebar sebagai salah satu langkah pencegahan bau dan mencantumkan batas maksimal 300 ekor per meter persegi dalam materi yang dipublikasikan pada 2020. Angka tersebut sebaiknya dibaca sesuai konteks metode budidaya yang digunakan, karena kepadatan ideal dapat bergantung pada sistem kolam dan pengelolaan air.
Selain kepadatan, pola perawatan perlu dilakukan secara konsisten. Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan juga menekankan pentingnya saluran pembuangan yang baik serta membersihkan kolam sebelum digunakan kembali untuk mengurangi sisa kotoran dan makanan dari pemeliharaan sebelumnya.
Pada kolam yang akan digunakan untuk siklus berikutnya, pembersihan menyeluruh menjadi kesempatan untuk mengangkat sisa endapan yang tidak terbuang selama masa pemeliharaan. Dengan demikian, kolam tidak memulai siklus baru dengan membawa terlalu banyak kotoran dari periode sebelumnya.
Advertisement
Jangan Hanya Menghilangkan Bau, Cari Sumber Masalahnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563981/original/012884100_1776922519-4f958b67-0d43-4929-abe6-051f88bde8ae.jpg)
Bau amis atau bau tidak sedap pada kolam lele sebaiknya dipandang sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa. Bisa jadi penyebabnya adalah sisa pakan yang terlalu banyak, kotoran dan lendir yang menumpuk, bahan organik dari luar kolam, atau pergantian air yang tidak teratur.
Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng menekankan bahwa manajemen kualitas air penting untuk menjaga kondisi kolam tetap baik dan tidak berbau. Sementara itu, materi Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menekankan bahwa kualitas air, pemberian pakan, saluran pembuangan, dan kebersihan kolam perlu diperhatikan selama masa budidaya.
Dengan demikian, cara menghilangkan bau amis pada kolam lele paling efektif dilakukan sebagai rangkaian perawatan, bukan satu tindakan yang dilakukan sesekali. Kurangi sumber bahan organik, ambil sisa pakan, bersihkan sampah yang masuk, rawat kualitas air, dan lakukan penggantian sebagian air ketika kondisi kolam membutuhkannya.
Kebiasaan tersebut juga membuat pembudidaya lebih mudah mengetahui perubahan kondisi kolam. Perubahan bau, warna air, nafsu makan, maupun perilaku ikan dapat menjadi tanda bahwa kualitas lingkungan perlu diperiksa kembali.
Tanya Jawab Seputar Membersihkan Kolam Lele
1. Mengapa kolam lele bisa berbau amis atau menyengat?
Bau dapat muncul akibat penumpukan sisa pakan, kotoran, lendir ikan, urine, dan bahan organik lain di dalam kolam. Pergantian air yang tidak teratur juga dapat memperparah penumpukan tersebut.
2. Apakah seluruh air kolam harus dibuang ketika mulai bau?
Tidak selalu. Salah satu langkah yang disebut dalam sumber adalah membuang sebagian air, terutama bagian yang membawa endapan dari dasar kolam, kemudian menggantinya dengan air baru. Dalam materi Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan, pergantian air pada sistem yang dibahas dapat dilakukan sekitar 30–50 persen ketika terdapat tanda seperti air bau atau kualitas air menurun.
3. Apakah sisa pakan harus diambil dari kolam?
Ya. Sisa pakan yang tidak termakan sebaiknya segera diambil, terutama jika masih terlihat di permukaan. Materi Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menyebut sisa pakan setelah pemberian makan perlu segera diambil agar tidak mengendap dan menjadi sumber masalah kualitas air.
4. Apakah probiotik dapat digunakan untuk membantu mengurangi bau kolam?
Menurut Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, probiotik dapat membantu menguraikan sisa pakan di dalam air sehingga bau busuk yang menyengat dapat dicegah. Namun, penggunaannya tetap perlu dibarengi dengan pengaturan pakan dan perawatan kualitas air.
5. Kapan kolam perlu dibersihkan secara menyeluruh?
Pembersihan menyeluruh penting dilakukan sebelum kolam digunakan untuk siklus budidaya berikutnya. Dinas Perikanan Kabupaten Pamekasan menyarankan kolam dibersihkan untuk mengurangi kotoran dan sisa makanan dari pemeliharaan sebelumnya.
Â
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5426401/original/044620800_1764304062-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-28T112538.162.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360171/original/015599500_1790593922-Cek_Fakta_-_Sri_Mulyani_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5290555/original/019424000_1753145219-1000011471.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5549190/original/072118900_1775606309-ternak_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493236/original/031043500_1770198385-Buncis_Bawang_Putih_Goreng_Kriuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360387/original/004149700_1790642777-8a984fa6-2157-42ed-948f-19a03e7608df.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360388/original/013400100_1790643017-Gemini_Generated_Image_cda7y4cda7y4cda7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360189/original/052736200_1790595485-HL_rumah_pojok.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327428/original/003039500_1787108731-sumonzia-haworthia-10234681_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4760686/original/028550500_1709519432-fresh-squid_1339-6215.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302553/original/050368900_1784593827-72ece33b-86ec-446f-a450-457c77f9b788.jpg)