Liputan6.com, Jakarta - Bacaan sholawat mahalul qiyam lengkap arab latin dan artinya menjadi salah satu amalan yang paling ditunggu dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini hidup subur di Indonesia, khususnya di kalangan Nahdliyin.
Praktik ini pertama kali dipopulerkan oleh Imam Tajuddin As-Subki (wafat 771 H), seorang ulama ahli hadis yang bergelar Hujjatul Islam. Suatu ketika, dalam sebuah majelis sholawat, beliau berdiri tanpa sebab yang jelas saat mendengar kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seluruh jamaah pun mengikuti, dan sejak saat itu tradisi berdiri saat pembacaan maulid menjadi bagian tak terpisahkan dari peringatan Maulid Nabi.
Di balik tradisi yang telah hidup ratusan tahun ini, terdapat berbagai makna mendalam dan kandungan pesan bagi umat Islam. Rahmawati dalam studi berjudul Analisis Al-Munada dalam Syair Mahallul Qiyam (Kitab Majmu’atul Mawalid) (2022). Rahmawati menemukan 20 munada dalam syair Mahallul Qiyam, dengan ragam makna mulai dari istighasah (permohonan pertolongan) hingga ta’ajjub (kekaguman).
Advertisement
Maka itu, penting bagi umat Islam untuk memahami bacaan sholawat mahalul qiyam lengkap arab latin dan artinya untuk menghidupkan makna cinta, rindu, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan pemahaman yang utuh, tradisi ini dapat menjadi sarana tafakkur dan peningkatan kualitas ibadah.
Bacaan Sholawat Mahalul Qiyam Teks Arab, Latin dan Artinya
صَلَّى اللهُ عَلى مُحَمَّدْ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
Latin: Shallallāhu ‘alā Muhammad, shallallāhu ‘alayhi wasallam.
Artinya: Allah bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW, Allah bershalawat dan mengucapkan salam sejahtera untuknya.
مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا، مَرْحَبًا جَدَّ الحُسَيْنِ مَرْحَبًا
Latin: Marhaban yā marhaban yā marhaban, marhaban jaddal Husaini marhaban.
Artinya: Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek dari Husain, selamat datang.
يَا نَبِى سَلَامْ عَلَيْكَ، يَا رَسُوْلْ سَلَامْ عَلَيْكَ
Latin: Yā nabī salām ‘alayka, yā rasūl salām ‘alayka.
Artinya: Wahai Nabi, salam sejahtera untukmu, wahai Rasul salam sejahtera untukmu.
يَا حَبِيْبْ سَلَامْ عَلَيْكَ، صَلَوَاتُ اللهْ عَلَيْكَ
Latin: Yā habīb salām ‘alayka, shalawātullāh ‘alayka.
Artinya: Wahai Kekasih, salam sejahtera untukmu, shalawat (rahmat) Allah untukmu.
اَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُوْرُ
Latin: Asyraqal badru ‘alayna, fakhtafat minhul budūru.
Artinya: Satu purnama telah terbit di atas kami, pudarlah jutaan purnama lain karenanya.
مِثْلَ حُسْنِكْ مَا رَأَيْنَا، قَطُّ يَا وَجْهَ السُّرُوْرِ
Latin: Mitsla husnik mā ra’aynā, qaththu yā wajhus surūri.
Artinya: Belum pernah kulihat seperti keelokanmu, wahai wajah yang gembira.
اَنْتَ شَمْسٌ اَنْتَ بَدْرٌ، اَنْتَ نُوْرٌ فَوْقَ نُوْرِ
Latin: Anta syamsun anta badrun, anta nūrun fawqa nūri.
Artinya: Kau bagai mentari, kau bagai bulan purnama, kau cahaya di atas cahaya.
اَنْتَ اِكْسِيْرٌ وَّغَالِى، اَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُوْرِ
Latin: Anta iksīruw wa ghālī, anta mishbāhus shudūri.
Artinya: Kau bagai emas murni yang mahal harganya, kaulah pelita hati.
يَا حَبِيْبِيْ يَا مُحَمَّدُ، يَا عَرُوْسَ الْخَافِقَيْنِ
Latin: Yā habībī yā Muhammad, yā ‘arūsal khāfiqaini.
Artinya: Wahai kekasihku wahai Muhammad, wahai pengantin dua arah timur dan barat.
يَا مُؤَيَّدُ يَا مُمَجَّدُ، يَا اِمَامَ الْقِبْلَتَيْنِ
Latin: Yā mu’ayyad yā mumajjad, yā imāmal qiblataini.
Artinya: Wahai orang yang teguh iman dan terpuji, wahai imam dua kiblat.
يَا كَرِيْمَ الْوَالِدَيْنِ، يَا بَشِيْرُ يَا نَذِيْرُ
Latin: Yā karīmal wālidaini, yā basyīru yā nadzīru.
Artinya: Wahai Nabi yang kedua orang tuanya mulia, wahai pembawa berita gembira dan peringatan.
يَا مُجِيْرُ مِنْ سَعِيْرٍ، يَا غِيَاثِى يَا مَلَاذِى
Latin: Yā mujīru min sa’īr, yā ghiyātsī yā malādzī.
Artinya: Wahai penyelamat dari api neraka, wahai penolongku dan pemberi kenikmatan.
فِيْكَ يَا بَدْرُ تَجَلَّى، قَطُّ يَا جَدَّ الْحُسَيْنِ
Latin: Fīka yā badru tajallā, qaththu yā jaddal Husaini.
Artinya: Padamu wahai bulan yang menampakkan diri, wahai kakeknya Hasan Husain.
يَا وَلِيَّ الْحَسَنَاتِ، يَا رَفِيْعَ الدَّرَجَاتِ
Latin: Yā walīyal hasanāti, yā rafī’ad darajāti.
Artinya: Wahai Allah yang memiliki kebaikan, wahai Allah yang meninggikan derajat.
رَبِّ فَارْحَمْنَا جَمِيْعًا، بِجَاهِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنِ
Latin: Rabbi farhamnā jamī’an, bijāhi sayyidil mursalīn.
Artinya: Wahai Rabbi sayangilah kami semua, dengan kemuliaan penghulu para rasul.
Makna Mendalam Bacaan Sholawat Mahallul Qiyam
Bacaan sholawat mahalul qiyam lengkap arab latin dan artinya mengandung makna yang sangat dalam dan berlapis. Menurut penelitian Rahmawati, setidaknya terdapat empat kategori makna utama dalam syair ini: istighasah (8 makna), ta’ajjub (8 makna), tahasur (2 makna), dan nudbah (1 makna).
1. Istighasah
Istighasah adalah permohonan pertolongan ketika dalam keadaan sukar dan sulit. Ungkapan seperti “Yā mujīru min sa’īr” (Wahai penyelamat dari api neraka) dan “Yā ghiyātsī yā malādzī” (Wahai penolongku dan pemberi kenikmatan) adalah bentuk istighasah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai perantara pertolongan Allah. Ini bukan berarti meminta pertolongan kepada selain Allah, melainkan bertawassul melalui kemuliaan Nabi.
2. Ta’ajjub
Ta’ajjub adalah rasa kekaguman terhadap keagungan Nabi Muhammad SAW. Ungkapan seperti “Mitsla husnik mā ra’aynā” (Belum pernah kulihat keelokan sepertimu) dan “Anta syamsun anta badrun” (Kau bagai mentari, kau bagai bulan purnama) mengekspresikan kekaguman yang tidak terhingga terhadap keindahan lahir dan batin Rasulullah.
3. Tahasur
Tahasur adalah duka cita atau penyesalan, yang muncul ketika merenungkan betapa besar cinta Nabi kepada umatnya namun umat sering melupakan beliau.
4. Nudbah.
Sedangkan nudbah adalah ratapan kerinduan, seperti yang terlihat dalam bait “Yā ghiyātsī yā malādzī” yang mengandung kerinduan mendalam.
Kandungan Bacaan Sholawat Mahallul Qiyam
Bacaan sholawat mahalul qiyam lengkap arab latin dan artinya mengandung beberapa pesan utama yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW
Seluruh teks Mahallul Qiyam adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada Rasulullah. Panggilan “Yā nabī”, “Yā rasūl”, dan “Yā habīb” adalah bentuk munada (panggilan) yang menunjukkan kedudukan Nabi yang mulia. Menurut analisis Rahmawati, terdapat 20 munada dalam syair ini, yang menunjukkan betapa intensnya komunikasi spiritual dengan Nabi.
2. Syukur atas Kelahiran Nabi
Bait “Asyraqal badru ‘alayna” (Telah terbit purnama di atas kami) adalah ungkapan syukur atas kelahiran Nabi yang membawa cahaya Islam. Bulan purnama menjadi metafora bagi kehadiran Nabi yang menerangi kegelapan zaman.
3. Pengakuan atas Kemuliaan Nabi
Bait “Anta iksīruw wa ghālī” (Kau bagai emas murni yang mahal harganya) mengakui bahwa Nabi adalah makhluk paling mulia, melebihi seluruh ciptaan Allah. Kemuliaan ini tidak hanya dalam aspek fisik, tetapi juga dalam akhlak dan kedekatan beliau dengan Allah.
4. Tawassul dan Doa
Bagian akhir syair, “Rabbi farhamnā jamī’an bijāhi sayyidil mursalīn”, adalah doa memohon rahmat Allah dengan perantaraan kemuliaan Nabi. Ini menunjukkan bahwa Mahallul Qiyam bukan hanya pujian, tetapi juga sarana doa dan permohonan kepada Allah.
5. Ekspresi Kerinduan
Bait “Yā habībī yā Muhammad, yā ‘arūsal khāfiqaini” adalah puncak ekspresi kerinduan umat kepada Nabi. Panggilan “pengantin dua arah timur dan barat” menggambarkan Nabi sebagai sosok yang paling dicintai dan dinanti kehadirannya.
Hikmah Memahami Bacaan Sholawat Mahallul Qiyam
1. Meningkatkan Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW
Memahami makna bacaan Mahallul Qiyam membuat seseorang tidak hanya melafalkan, tetapi juga merasakan cinta yang mendalam kepada Nabi. Habib Muhammad bin Farid Al-Muthohar menyatakan bahwa mahallul qiyam adalah saat-saat di mana seseorang bisa menyambut Nabi Muhammad SAW. Kecintaan ini kemudian termanifestasi dalam perilaku sehari-hari yang meneladani akhlak Nabi.
2. Menumbuhkan Rasa Syukur atas Nikmat Terbesar
Kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah nikmat terbesar bagi umat manusia. Dengan memahami bacaan Mahallul Qiyam, seseorang dapat merenungkan betapa besar karunia Allah yang telah mengutus Nabi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin menyatakan bahwa berdiri saat mendengar kelahiran Nabi adalah bentuk istihsan (anggapan baik) sebagai penghormatan kepada Rasulullah.
3. Memperkuat Ukhuwah dan Kebersamaan
Mahallul Qiyam dilakukan secara berjamaah, dengan semua jamaah berdiri bersama-sama. Ini menciptakan ikatan emosional dan spiritual yang kuat di antara sesama muslim. Momen ini menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan dan merasakan kebersamaan dalam mencintai Nabi.
4. Meningkatkan Kekhusyukan dalam Beribadah
Berdiri sambil melantunkan sholawat dengan penuh penghayatan membuat hati menjadi lebih khusyuk dan fokus. Allah SWT memuji orang-orang yang berdzikir dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 191. Mahallul Qiyam adalah bentuk dzikir kolektif yang dilakukan dengan penuh kesadaran.
5. Mendidik Adab dan Penghormatan
Tradisi ini mengajarkan umat Islam untuk memiliki adab kepada orang yang mulia. Dalam hadis, Rasulullah SAW memerintahkan sahabat Anshor untuk berdiri saat kedatangan pemimpin mereka, dan Sayyidatina Fatimah berdiri ketika Nabi hadir. Dengan membiasakan diri berdiri untuk menghormati Nabi, seseorang juga belajar menghormati ulama, orang tua, dan sesama.
Pertanyaan Seputar Mahallul Qiyam
1. Apa hukum berdiri saat membaca Mahallul Qiyam?
Hukum berdiri saat Mahallul Qiyam adalah sunnah menurut mayoritas ulama Ahlussunnah. Syaikh Yusuf An Nabhani dalam Jawahirul Bihar menyatakan bahwa berdiri saat kisah kelahiran Nabi bisa dianggap sunnah, bahkan tergolong bid’ah hasanah karena mengandung pengagungan kepada Nabi. Namun, sebagian ulama Muhammadiyah berpandangan bahwa tidak ada tuntunan khusus, sehingga tidak perlu dilakukan.
2. Apakah Mahallul Qiyam ada dalilnya dalam Al-Qur’an dan Hadis?
Dalil utama Mahallul Qiyam adalah hadis tentang berdiri untuk menghormati pemimpin (HR. Abu Dawud) dan hadis tentang Fatimah yang berdiri saat Nabi datang. Selain itu, QS. Ali Imran ayat 191 menyebutkan berdzikir dalam keadaan berdiri. Para ulama juga mengutip praktik Imam Tajuddin As-Subki yang pertama kali memprakarsai tradisi ini.
3. Mengapa harus berdiri saat membaca Mahallul Qiyam?
Berdiri saat Mahallul Qiyam adalah bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW yang seakan-akan hadir di tengah majelis. Habib Muhammad bin Farid Al-Muthohar menyatakan bahwa mahallul qiyam adalah saat-saat jamaah menyambut kedatangan Nabi. Berdiri juga merupakan ekspresi kebahagiaan atas kelahiran Nabi dan simbol penyambutan tamu agung.
4. Apa saja makna yang terkandung dalam bacaan Mahallul Qiyam?
Berdasarkan penelitian Rahmawati, terdapat empat makna utama: istighasah (8 makna), ta’ajjub (8 makna), tahasur (2 makna), dan nudbah (1 makna). Istighasah adalah permohonan pertolongan, ta’ajjub adalah kekaguman, tahasur adalah duka cita, dan nudbah adalah ratapan kerinduan.
5. Siapa yang pertama kali memprakarsai Mahallul Qiyam?
Imam Tajuddin As-Subki (wafat 771 H), seorang ulama ahli hadis bergelar Hujjatul Islam, adalah yang pertama kali memprakarsai tradisi berdiri saat pembacaan maulid. Beliau adalah ulama yang sederajat dengan Imam An-Nawawi dan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Tradisi ini kemudian diikuti oleh ulama-ulama setelahnya dan menjadi bagian dari budaya Islam di Indonesia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5426401/original/044620800_1764304062-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-28T112538.162.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360171/original/015599500_1790593922-Cek_Fakta_-_Sri_Mulyani_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5290555/original/019424000_1753145219-1000011471.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382022/original/048339900_1760524874-Sholawat_dan_Berdzikir.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360402/original/071471500_1790645343-1001131637.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4758315/original/039700600_1709260395-front-view-person-reading-from-holy-book.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360317/original/039305200_1790610625-1000649678.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360329/original/070542700_1790611124-0L5A1623.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360327/original/087698600_1790610887-0L5A1683.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360368/original/012694700_1790635614-IMG-20260928-WA0094.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360288/original/092956400_1790607345-timnas_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360363/original/016919600_1790635026-474337.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360361/original/012138900_1790634421-IMG-20260928-WA0086_1.jpg__1_.jpg)