Kisah Tunanetra Taklukan Batas hingga Sarjana

Dani dan Juwita membagikan kisah perjuangan kuliah sebagai penyandang tunanetra.

Diterbitkan 14 Agustus 2026, 21:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Namanya Dani. Dari luar, penampilan perempuan berkerudung itu tampak normal seperti kebanyakan orang. Namun, siapa sangka, Dani merupakan penyandang disabilitas tunanetra.

Dani menceritakan kondisinya dalam acara Pelatihan Strategi Pelayanan Prima yang Ramah Keberagaman Individu bagi Tenaga Kependidikan (Tendik) di Universitas YARSI, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Agustus 2026.

Dani merupakan penyandang tunanetra dengan penglihatan lemah atau low vision. Dia menggambarkan kondisi penglihatannya seperti melihat dari balik kaca yang berembun atau tertutup plastik.

Meski demikian, masih ada sejumlah benda yang dapat dilihatnya.

"Sebenernya ini saya lihat benda besar masih bisa, meja, kursi, mungkin tas, laptop gitu. Tapi untuk yang kecil, detail gitu saya tidak lihat. Wajah-wajahnya yang di sini saya juga tidak lihat," cerita Dani, dikutip Jumat, (14/8/2026).

Dani masih dapat melihat warna-warna dengan kontras kuat seperti merah dan biru. Namun, warna yang memiliki kemiripan, seperti merah cabai, marun, pink, atau cokelat muda, sudah sulit dibedakannya.

"Kalau melihat di tempat yang terang itu masih bisa, siang hari. Tapi penglihatan saya menurun ketika berada di tempat yang lebih gelap, misalnya sudah suasana magrib ke atas, itu biasanya saya sudah lebih kayak siluet melihatnya," ucap Dani.

Oleh karena itu, Dani lebih memilih bepergian dengan membawa tongkat khusus penyandang disabilitas agar mobilitasnya lebih aman.

Cerita Juwita

Berbeda dengan Dani, Juwita juga merupakan penyandang disabilitas tunanetra. Kondisi Juwita saat ini sudah buta total atau totally blind.

Sebelum kehilangan penglihatannya secara total, Juwita juga sempat mengalami low vision seperti Dani.

"Kalau tadi Dani melihatnya di balik kaca yang ada embunnya atau ada uapnya, kalau saya, jadi saya tuh punya fase penurunan penglihatan dari umur 10 tahun sampai umur 20 tahun. Itu saya sempat pernah low vision sampai di umur 20 tahun itu, tapi saya sekarang total. Jadi ini sekarang pandangannya gelap, tapi bukan yang hitam banget, lebih cenderung ke abu-abu," cerita Juwita.

Sama seperti Dani, Juwita selalu membawa tongkat lipat khusus penyandang disabilitas. Dia mengaku membutuhkan pendamping, mengingat kondisinya yang merupakan penyandang tunanetra total.

"Untuk mobilitas saya juga pakai tongkat lipat. Tapi ketika saya di dalam ruangan, sudah ada pendamping, tongkat bisa dilepas seperti ini (melipat). Ini (tongkat) bisa masuk tas atau di pinggir tas biasanya," cerita Juwita.

 

Tetap Bisa Kuliah hingga Lulus

Meski memiliki keterbatasan penglihatan, semangat Dani dan Juwita untuk menempuh pendidikan tidak patah. Keduanya tetap bisa menjalani pendidikan tinggi hingga lulus kuliah.

Menurut Dani, masyarakat perlu memahami bahwa penyandang tunanetra tidak selalu memiliki kondisi mata yang tertutup atau tidak dapat melihat sama sekali. Dalam kasusnya, meski matanya tetap terbuka, penglihatannya sangat terbatas.

Dia berharap, jika ada seseorang dengan pandangan mata yang tidak fokus, masyarakat tidak langsung menganggap orang tersebut sedang melamun atau tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Bisa jadi, orang tersebut merupakan penyandang tunanetra dengan kondisi low vision.

Dani bahkan pernah mengalami kejadian yang membuatnya tidak nyaman saat berkuliah.

"Dosennya bilang gini, kamu ngeliatin apa? Ngeliatin cicak. Itu langsung awkward juga, diam semua teman-teman. Terus yang duduk paling depan dekat media dosen bilang, 'Pak, maaf itu memang matanya begitu'. 'Oh, iya maaf ya,' kata dosen itu. Tapi sudah awkward, suasananya enggak nyaman dan itu membekas saya," kata Dani.

Saat kuliah, Dani dan Juwita tetap membutuhkan bantuan orang lain. Namun, keduanya dapat mengikuti perkuliahan dengan bantuan teknologi.

Hal itu diceritakan Juwita. Dia menggunakan laptop dan ponsel yang dilengkapi fitur pembaca layar atau screen reader.

"Jadi saya kalau belajar dulu, pakainya laptop dengan pembaca layar. Jadi laptopnya biasa, HP-nya juga sama, tapi itu semuanya sudah dilengkapi sama pembaca layar. Kalau di laptop harus diinstal dulu. Kalau di HP mau Android ataupun iOS itu sudah ada pembaca layarnya, tinggal diaktifkan," ucap Juwita.

Dia juga tetap dapat mengakses berbagai produk Microsoft seperti PowerPoint maupun dokumen PDF, selama materi tersebut berbentuk teks.

"Saya bisa mengakses PowerPoint. Yang penting PowerPoint-nya basic-nya teks, bukan dari Canva. Karena kalau dari Canva itu gambar, kita enggak bisa baca. Kemudian PDF bisa," kata Juwita.

"Tapi ada jenis PDF yang scan hasilnya foto, JPEG, dan teman-temannya itu tidak bisa dibaca, harus di-OCR. Jadi kalau misalnya teks di Word, dikonversi ke PDF, teks, itu bisa. Itu namanya aksesibilitas digital," sambung dia.

 

Cara Lain untuk Memudahkan

Dani kembali bercerita mengenai pengalamannya saat menjalani perkuliahan. Menurut dia, dosen perlu menyediakan fasilitas atau materi yang dapat diakses mahasiswa dengan gangguan penglihatan, termasuk penyandang low vision.

Dani juga mengingatkan mahasiswa penyandang disabilitas agar tidak malu meminta bantuan apabila memang membutuhkannya.

"Karena saya dulu low vision, saya waktu kuliah itu masih lebih baik dari hari ini, dulu masih pakai kaca pembesar kalau baca buku. Nah, dulu kalau ujian, itu saya minta fotokopinya diperbesar. Jadi, ukurannya yang bisa terbaca oleh penglihatan saya dan dibantu oleh kaca pembesar itu masih bisa," ucap dia.

"Jadi, selain pengguna screen reader, tapi kan ada low vision yang mungkin masih manual membacanya, mungkin dia akan lebih nyaman menggunakan large print. Large print seperti itu nanti mungkin ada request butuh pembesaran materi perkuliahan, misalnya. Nah, mungkin itu perlunya ya, ada disabilitas ketika mahasiswa butuh hal-hal seperti itu bisa request," sambung Dani.

Juwita juga berharap para dosen dapat memberikan akomodasi yang layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Menurut dia, akomodasi bukan berarti memberikan perlakuan istimewa, melainkan memastikan setiap mahasiswa mendapatkan akses yang sama.

"Jadi definisi akomodasi yang layak itu bukan mengistimewakan, tapi memberikan akses yang sama," ucap dia.

Juwita juga menceritakan pengalamannya ketika harus mengikuti mata kuliah fotografi. Sebagai penyandang tunanetra total, dia menyadari ada bagian dari mata kuliah tersebut yang sulit diikuti.

Sebelum perkuliahan dimulai, Juwita terlebih dahulu berdiskusi dengan dosen untuk mencari bentuk penilaian yang dapat disesuaikan dengan kondisinya.

"Jadi dulu ada mata kuliah fotografi. Saya sebelum mulai kelasnya sudah ketemu sama dosennya. Kemudian saya, sebelum kelas mulai, saya bilang, 'Pak, saya ada gangguan penglihatan, saya tunanetra, kan kalau ikut hunting foto itu enggak bisa,'" kata dia.

"Tapi untuk menyesuaikan pengambilan penilaian untuk mata kuliah ini, saya kira-kira bisa diganti sama apa ya, Pak? Coba anaknya ditanya dulu, kira-kira kamu kepikiran apa? Karena waktu itu saya mengajukan, nanti saya setiap minggu, atau setiap berapa minggu sekali, saya bikin makalah, Bapak boleh kasih ininya. Terus Bapaknya setuju, oke. Nanti kalau ujian, nanti saya kasih soal," sambung Juwita.

Jangan Berasumsi, Selalu Bertanya

Dani mengingatkan masyarakat agar tidak langsung berasumsi ketika melihat penyandang disabilitas membutuhkan bantuan.

Menurut dia, orang yang menggunakan tongkat khusus tunanetra belum tentu selalu membutuhkan pertolongan. Karena itu, langkah terbaik adalah menanyakan terlebih dahulu apakah bantuan diperlukan.

"Ketika ada orang ngeluarin tongkat, berarti dia butuh bantuan. Apakah benar begitu asumsi yang sebaiknya kita gunakan atau tidak? Nah, jangan asumsi, selalu bertanya, jadi jangan langsung, tapi ketika dia mengeluarkan tongkat, bisa ditawarkan, butuh bantuan tidak?" kata Dani.

"Ditanya, jadi jangan langsung, dilihat dulu situasinya apakah dia celingak-celinguk kayak orang lagi cari sesuatu. Dan itu kadang-kadang bingung. Makanya bisa mulai disamperin, ditanya, apakah butuh bantuan?" tutup Dani.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6