Kisah Haru Jemaah Haji Tunanetra, Boneka Unta demi Cucu

Mbah Sarjo Utomo, jemaah haji tunanetra asal Indonesia, bersyukur telah menuntaskan rangkaian ibadah haji-nya.

Diterbitkan 02 Juni 2026, 18:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Mekkah - Terminal Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, mulai ramai oleh jemaah yang bersiap pulang ke Indonesia. Di antara deretan kursi ruang tunggu, seorang jemaah tunanetra, Sarjo Utomo, yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) 1 YIA, duduk tenang menanti panggilan masuk pesawat.

Setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah haji, dia kini hanya tinggal menunggu perjalanan terakhir menuju kampung halaman. "Sehat Alhamdulillah," ujarnya pada tim Media Center Haji di Jeddah pada Senin, 1 Juni 2026.

Perjalanan hajinya tahun ini tidak berlangsung ringan. Kondisi kesehatannya sempat menurun saat berada di Arafah. Batuk yang diderita semakin parah hingga membuat tubuhnya kehilangan tenaga.

"Di Arafah, batuk sangat berat sampai sempat pingsan, tapi terus kembali (baikan) lagi," dia bercerita.

Keterbatasan penglihatan yang telah lama dialaminya juga menghadirkan tantangan tersendiri selama menjalankan ibadah. Namun, kondisi itu tidak mengurangi tekadnya untuk menyelesaikan seluruh rangkaian haji.

Ketika jutaan jemaah bergerak menuju lokasi lontar jumrah di Jamarat, Mbah Sarjo memilih menggunakan mekanisme badal untuk pelaksanaannya.

Keputusan itu diambil demi keselamatan dirinya di tengah arus manusia yang sangat padat. "Saya tidak jalan sendiri karena jalannya berdesakan dan saya tidak melihat, nanti malah bahaya, jadi dibadalkan anak saya," ujarnya.

Meski menghadapi keterbatasan fisik dan sempat mengalami gangguan kesehatan, dia bersyukur seluruh proses ibadah dapat dijalani dengan lancar hingga akhir.

Menjelang kepulangan, kenangan yang paling membekas baginya justru bukan perjalanan panjang dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang paling dia ingat adalah kesempatan memanjatkan doa di Tanah Suci.

 

Boneka Unta untuk Cucu Tercinta

Dengan suara perlahan, dia mengaku banyak berdoa untuk dirinya sekaligus menyampaikan amanah dari orang-orang yang menitipkan harapan kepadanya. "Saya berdoa memohon maaf atas semua kesalahan saya," ujarnya.

Di tengah cerita tentang ibadah dan doa, ada satu hal yang membuat wajahnya tampak berbinar. Bukan soal oleh-oleh mahal atau barang berharga yang dibawa pulang, melainkan sebuah boneka unta yang telah disiapkan untuk cucunya.

"Ini bawa (boneka) unta untuk cucu. Cuma unta dan sedikit kurma karena keterbatasan dana," katanya sambil tersenyum.

Boneka itu menjadi barang yang paling dia jaga selama perjalanan pulang. Ia membelinya saat masih berada di Madinah setelah mendengar permintaan khusus dari sang cucu.

"Minta (boneka) unta yang besar, katanya untuk teman tidur," ujarnya.

Tak lama lagi, boneka unta tersebut akan sampai ke tangan pemiliknya. Sementara itu, sang kakek akan kembali ke rumah dengan cerita yang jauh lebih besar daripada oleh-oleh yang dibawanya.

Sebelum mengakhiri perbincangan, dia menyampaikan rasa terima kasih pada petugas haji yang mendampinginya selama berada di Arab Saudi. Baginya, bantuan yang diberikan membuat perjalanan ibadah menjadi lebih ringan.

"Saya terima kasih sekali pada semua pihak, PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) yang telah mendampingi perjalanan ibadah saya di Madinah dan Makkah," katanya.

Di tengah hiruk-pikuk bandara yang dipenuhi jemaah bersiap pulang, dia menunggu dengan sabar. Tak ada yang bisa dilihat matanya dari keramaian itu.

Namun, dia membawa pulang sesuatu yang tak kalah berharga: rasa syukur karena mampu menuntaskan ibadah haji, doa-doa yang telah dipanjatkan, dan menjemput kebahagiaan sederhana untuk seorang cucu yang sedang menanti boneka unta dari Tanah Suci.