Harga Emas Antam Pekan Depan Berpotensi Tembus Rp2,7 Juta/Gram

Harga emas Antam diprediksi berfluktuasi pekan depan, namun punya peluang emas untuk menembus level tertinggi hingga Rp2,72 juta per gram.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 15:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat komoditas dan emas, Ibrahim Asyuaibi memprediksi harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) masih berfluktuasi pekan depan. Pergerakan harga diperkirakan berada di rentang Rp 2.430.000 hingga Rp 2.720.000 per gram, mengikuti dinamika harga emas global.

Ibrahim mengatakan, harga emas antam sebelumnya ditutup di level Rp 2.614.000 per gram. Menurutnya, apabila harga mengalami pelemahan, level support pertama berada di Rp 2.590.000 per gram, sedangkan support berikutnya berada di Rp 2.430.000 per gram.

"Kemarin ditutup di Rp 2.614.000. Kalau seandainya turun, support pertama itu di Rp 2.590.000. Kemudian kalau turun lagi, support kedua itu di Rp 2.430.000,” kata Ibrahim kepada wartawan, Minggu (19/7/2026).

Namun, jika harga emas Antam mengalami kenaikan maka bisa menyentuh level Rp2.720.000 per gram.

Sementara itu, untuk pasar internasional, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia akan bergerak pada kisaran US$ 3.856 hingga US$ 4.149 per troy ounce dalam sepekan mendatang.

"Kalau untuk emas dunia sendiri, kemungkinan besar dalam sepekan ke depan ditransaksikan di US$ 3.856 per troy ounce sampai di US$ 4.149 per troy ounce," ucapnya.

Harga Emas Sepekan Anjlok 3%

Harga emas alami koreksi mingguan terbesar dalam enam minggu pada Jumat, 17 Juli 2026 waktu setempat. Tekanan terhadap harga emas dunia seiring meningkatnya konflik Amerika Serikat (AS)-Iran sehingga menekan harga minyak, menambah tekanan inflasi dan memperkuat potensi kenaikan suku bunga AS.

Mengutip CNBC, Sabtu (18/7/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.015,09 per ons, setelah menyentuh titik terendah sejak 1 Juli. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,7% menjadi US$ 4.018,80.

Logam mulia telah merosot 3% pada pekan ini, dan merupakan penurunan terbesar sejak 1 Juni 2026. Hal ini di tengah konflik Timur Tengah mengalahkan dukungan dari inflasi AS Juni yang lebih rendah yang dirilis pekan ini.

"Emas mulai bergerak naik hari ini setelah harga logam tersebut turun di bawah US$ 4.000 menarik minat pembeli," ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.

Waterer menuturkan, risiko geopolitik di Timur Tengah masih ada. Kekhawatiran inflasi dan imbal hasil menjadi kekuatan dominan yang menahan harga emas.

Harga minyak telah naik sekitar 12% pekan ini karena konflik AS-Iran yang meningkat menimbulkan kekhawatiran pasokan.

Lonjakan Harga Minyak dan Pengaruhnya ke Emas

Lonjakan harga minyak berisiko memicu kembali kekhawatiran inflasi, dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya kesulitan dalam lingkungan suku bunga tinggi. Hal ini karena investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menjadi kolega baru Ketua Fed Kevin Warsh pertama yang secara terbuka menyerukan kenaikan suku bunga. Wakil Ketua Fed, Philip Jefferson, juga mengisyaratkan terbuka untuk menaikkan suku bunga jika tidak ada perbaikan inflasi dalam waktu dekat.

Para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 73% pada Desember, menurut CME FedWatch Tool.

Diskon emas di India melebar ke level tertinggi dalam satu bulan pekan ini karena harapan akan harga yang lebih rendah membuat pembeli tetap waspada, sementara premi di China sebagian besar tetap stabil.

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6