Tato Bisa Jadi Alat Sensor Wearable di Masa Depan

Ilmuwan menemukan inovasi dari tinta konduktif bisa menjadi tato elektronik untuk memantau tubuh.

Diterbitkan 19 Juli 2026, 15:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ilmuwan di Pennsylvania State University mengembangkan inovasi pada tinta konduktif yang bisa digunakan langsung ke kulit dengan desain warna-warni. Setelah kering akan beralih fungsi menjadi alat sensor pemantau tubuh.

Inovasi itu dipaparkan dalam makalah yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Dilaporkan sebelumnya, perangkat epidermal elektronik yang menempel pada kulit melalui metode tato elektronik telah ada lebih dari satu dekade. Tato elektronik tersebut menempel ke kulit tanpa perekat, hampir tidak terasa di kulit, dan dipasang layaknya tato elektronik.

Mengutip Ars Technica, Minggu (19/7/2026), hal ini memungkinkan pengukuran listrik dan lainnya, seperti alat pengukur suhu tubuh dan regangan, menggunakan polimer super tipis dengan komponen sirkuit tertanam di dalamnya.

Namun, tato elektronik ini memiliki batasan, di mana mereka tidak berfungsi dengan baik pada permukaan melengkung dan berbulu, serta memerlukan desain penempatan elektroda disesuaikan sesuai area lebih luas, mengingat biosignal tersebar di berbagai tempat.

Dengan demikian, ilmuwan lebih kreatif dengan mengembangkan tinta konduktif berbahan dasar polimer pada 2024. Tinta tersebut bisa dicetak di kulit kepala manusia untuk mengukur gelombang otak, bahkan jika mereka memiliki rambut. Suatu saat memungkinkan melakukan perekaman otak (EEG) di luar rumah sakit, di samping penggunaan lainnya.

Larry Cheng, insinyur mesin dari Penn State, serta salah satu penulis makalah ilmiah, telah meneliti alat sensor tubuh selama lebih dari 10 tahun, dari rekam otak, jantung, hingga otot.

Menggunakan bahan kaku seperti besi atau logam membuat perekaman menjadi stabil, tetapi akan mudah terlepas atau tergeser saat bergerak, terutama saat berolahraga.

Hidrogel menjadi bahan alternatif dalam beberapa tahun, karena dapat menyerap air, mengembang, dan meregang menyesuaikan kulit tubuh saat bergerak. Namun, bahan ini cenderung cepat rusak dan kehilangan manfaatnya pada penggunaan jangka panjang.

Semudah Cat Wajah

Keringat atau rambut juga bisa mengurangi akurasi perekaman biosignal. Hal ini dikarenakan sensor yang di pasaran dibuat di pabrik dan kemudian ditempelkan ke kulit, menciptakan celah udara sehingga sensor sulit terbaca.

Cheng beserta timnya menemukan solusinya pada tinta konduktif. Mereka mencampurkan beberapa bahan polimer dan aditif asam yang berbeda ke dalam larutan etanol alkohol berbahan dasar air. Bahan-bahan utamanya berupa PEDOT:PSS, menghantarkan listrik bersamaan dengan DBSA yang juga berfungsi sebagai pelemas pada tinta.

Tim Cheng menyingkat nama tinta menjadi WE-PPD, karena dinilai hampir mirip dengan cat wajah. Awalnya, tinta ini hampir transparan, namun bisa dicampur dengan pewarna makanan dengan desain dan warna apapun. Desainnya pun menjadi lebih personal.

Karena cairan menempel pada kulit, sehingga menyerap ke sela-sela kulit terdalam dan menghasilkan perekaman sinyal lebih baik. Bahkan, bisa digabungkan dengan bahan perak berpori.

 

Sudah Diuji pada Manusia

Tato sensor ini telah diuji coba pada manusia di laboratorium dan dapat mendeteksi detak jantung saat treadmill atau angkat beban, mengendalikan robot, serta merekam otak melalui rambut.

Cheng menyebutkan tato ini dapat dipakai ulang dengan mencuci bersih setelah dipakai, lalu digambar lagi. Lebih praktis dan ramah di kantong dibandingkan dengan alat sensor utama dengan harga fantastis.

Teknologi ini sudah mengajukan permohonan paten sementara, namun masih perlu beberapa peningkatan. Contohnya ketika di dalam mesin pemindai MRI, kulit pasien dapat terluka karena tingkat panasnya.

Ke depan, tinta ini kemungkinan meluas dan dapat digunakan pada tanaman untuk memantau kesehatan tumbuhan dan pertanian.