Kisah Serda Ihsan dan Istri Sulap Gudang Pakan Sapi Jadi Ruang Belajar Anak

Dari tempat ini, mimpi kecil anak-anak desa hidup.

Diterbitkan 14 Juni 2026, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suara tawa anak-anak memecah sore di sebuah bangunan bercat hijau di Dusun Empat, Desa Toto Harjo, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur. Puluhan pasang sandal berjajar rapi di teras, seolah menjadi penanda bahwa harapan sedang bertumbuh di dalamnya.

Dari balik dinding sederhana itu terdengar gelak tawa dan suara anak-anak melafalkan huruf dan angka dengan lantang. Tak banyak yang tahu, ruang yang kini dipenuhi semangat belajar tersebut dulunya hanyalah gudang penyimpanan pakan sapi.

Berbekal ketulusan dan kerja keras, Serda Ihsanudin bersama sang istri, Umi Salamah, perlahan mengubah ruang yang dahulu menyimpan pakan ternak menjadi ruang belajar. Tempat mimpi kecil anak-anak desa hidup.

Perjalanan itu bermula empat tahun lalu dari permintaan seorang wali murid yang ingin anaknya mendapat bimbingan belajar tambahan di rumah Umi Salamah.

"Awalnya hanya satu anak. Lama-kelamaan bertambah menjadi dua, tiga, lalu empat anak dari lingkungan sekitar. Setelah saya berhenti mengajar di sekolah pada 2023, ternyata mereka tetap ingin belajar bersama saya," kata Umi Salamah, Minggu (14/6/2026).

Niat sederhana untuk tetap mengabdi melalui pendidikan kemudian tumbuh pelan-pelan, seperti benih yang disiram dengan kesabaran. Kini, lebih dari 50 anak usia pra-sekolah hingga sekolah dasar belajar bersama di tempat tersebut.

"Dulu bangunan ini gudang pakan sapi. Setelah dibersihkan suami, kami gunakan untuk belajar. Alhamdulillah sekarang muridnya semakin banyak, bahkan ada yang datang dari dusun dan desa lain," ujarnya.

Menurut Umi, masa kanak-kanak merupakan masa emas yang akan menentukan arah masa depan seseorang.

"Anak-anak itu sedang berada di masa emas. Kalau dibimbing dengan sabar dan telaten, mereka akan tumbuh percaya diri dan sadar bahwa mereka juga mampu meraih cita-cita," tuturnya.

Bagian Pengabdian Masyarakat

Di ruang sederhana itu, anak-anak tak hanya belajar membaca dan berhitung. Mereka juga dikenalkan pada sejarah, nilai kebersamaan, dan belajar bersosialisasi melalui permainan yang membuat masa kecil mereka tetap hidup.

Selain fokus pada pendidikan, Umi juga berupaya menjauhkan anak-anak dari ketergantungan terhadap gawai. Halaman rumah mereka dilengkapi ayunan, seluncuran, dan jungkat-jungkit agar masa kecil tak sepenuhnya direbut layar telepon genggam.

"Alhamdulillah, beberapa wali murid bilang setelah belajar di sini, anak-anak mereka jadi jauh berkurang bermain HP," katanya.

Di balik tumbuhnya ruang belajar itu, ada peran Serda Ihsanudin yang selalu mendukung langkah istrinya. Baginya, membantu pendidikan anak-anak desa merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat.

Ketika ruang tamu rumah tak lagi mampu menampung jumlah murid yang terus bertambah, Ihsanudin mencari cara dengan memanfaatkan gudang pakan sapi yang sudah tak terpakai.

"Karena belum mampu membangun gedung baru, gudang itu saya bersihkan, dicat, diberi karpet, lalu digunakan sebagai ruang belajar. Alhamdulillah sampai sekarang masih dipakai dan semakin ramai," katanya.

Lumbung Ilmu

Menjelang sore, setelah menyelesaikan tugas kedinasan, Serda Ihsanudin kerap masih mengenakan seragam loreng saat menemani sang istri mengajar di teras rumah.

Pemandangan itu mungkin tampak biasa. Namun di balik tembok sederhana bekas gudang pakan sapi tersebut, puluhan anak desa sedang belajar mengeja masa depan.

Ruang yang dahulu dipenuhi pakan ternak kini menjelma menjadi lumbung ilmu. Dari sana, harapan-harapan kecil tumbuh, satu per satu, di pelosok Lampung Timur.