Surat Al-Baqarah Ayat 216 dan Hikmahnya, Ridha terhadap Qada dan Qadar Kunci Kebahagiaan

Surat Al-Baqarah ayat 216 mengandung konsep ketentuan Allah (qadha dan qadar)

Diterbitkan 24 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Baqarah ayat 216 mengandung konsep ketentuan Allah (qadha dan qadar) serta konsep kebahagiaan dalam Islam. Ayat ini meletakkan prinsip fundamental bahwa persepsi manusia tentang baik dan buruk sangatlah terbatas di hadapan ilmu Allah yang Maha Luas.

Merujuk Studi berjudul Pandangan Muhammad Quraish Shihab Tentang Ketentuan Allah karya Hasyim Saputra Simanjuntak, dkk, ayat ini merupakan kaidah yang erat kaitannya dengan keyakinan terhadap qadha dan qadar, di mana segala sesuatu yang terjadi pada manusia telah dicatat oleh Allah sebelum penciptaan dunia.

Dalam konteks lebih luas, ayat ini menjadi landasan positive thinking (husnu al-zhan) kepada Allah, yang terwujud dalam sikap tawakal dan keseimbangan hidup. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar memberikan perumpamaan yang menyentuh, "Laksana orang sakit meminum obat yang pahit, tidaklah seleranya suka meminum obat itu, tetapi untuk kesembuhannya, mesti ditelannya juga,”.

Hamka menjelaskan bahwa perintah perang turun di Madinah, sementara di Makkah umat Islam diperintahkan untuk memaafkan dan berlapang dada, karena perang pada hakikatnya tidak disukai oleh fitrah manusia.

Senada dengan itu, Syekh Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid menegaskan bahwa di balik jihad terdapat berbagai kebaikan mulai dari syahid, ghanimah, hingga pahala yang besar di sisi-Nya, sementara menjauhi jihad dapat mendatangkan malapetaka.

Teks Lengkap Surat Al-Baqarah Ayat 216

Arab: كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ ٢١٦

Latin: Kutiba 'alaikumul-qitālu wa huwa kur-hul lakum, wa 'asā an takrahū syai'aw wa huwa khairul lakum, wa 'asā an tuḥibbū syai'aw wa huwa syarrul lakum, wallāhu ya'lamu wa antum lā ta'lamūn.

Artinya: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 216

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir mengutip Ibnu Abbas yang mengatakan: "Ketika Allah mewajibkan jihad atas kaum muslimin, mereka merasa keberatan dan tidak suka sehingga turunlah ayat ini."

Al-Maraghi dalam tafsirnya menambahkan bahwa ayat ini turun pada tahun kedua Hijriah, ketika Rasulullah sudah hijrah ke Madinah dan Allah mengizinkan kaum muslimin untuk berperang melawan kaum musyrik yang menyerang mereka terlebih dahulu.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah mewajibkan jihad perang kepada kaum muslimin demi mempertahankan agama Islam dari kejahatan musuh-musuhnya. Jika pemimpin kaum muslimin memerintahkan seseorang untuk berjihad, ia harus berangkat. Ibnu Katsir juga menegaskan bahwa ungkapan 'asa an takrahu syai'an wa huwa khairun lakum berlaku umum mencakup semua perkara, tidak hanya perang. Adakalanya seseorang membenci sesuatu padahal sesuatu itu amat baik baginya.

Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menerangkan sesuatu yang tidak kita sukai belum tentu tidak baik untuk kita, terutama apa yang telah Allah tetapkan. Beliau menganjurkan untuk senantiasa menanamkan sikap tawakal, berserah diri kepada Allah, serta hidup seimbang, selalu optimis ketika ditimpa kesedihan dan tidak larut dalam kegembiraan ketika diberi kenikmatan hidup yang menjadikannya lupa diri.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengulas dengan bahasa yang sangat menyentuh hati: "Inilah penghiburan Allah kepada orang beriman. Jika engkau mendapat cobaan yang pahit, janganlah berputus asa. Sebab Allah yang Maha Mengetahui mungkin telah menaruh kebaikan yang besar di balik kepahitan itu, sedangkan engkau tidak tahu."

Hamka juga menekankan bahwa surga tidaklah semudah yang dimimpikan, dan perang adalah salah satu jalan berat yang harus ditempuh untuk mendapatkan ridha Allah.

Pesan Mendalam Surat Al-Baqarah Ayat 216

1. Keterbatasan Persepsi Manusia

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia sering menilai sesuatu sebagai buruk padahal secara keseluruhan hal itu sebenarnya baik. Ibarat lukisan titik-titik hitam, jika kita fokus hanya pada titik-titik hitam itu dan melupakan keindahan gambarnya, kita hanya akan melihat keburukannya. Namun jika kita melihat gambarnya secara holistik, kita akan memahami keindahannya.

2. Allah Maha Mengetahui sedangkan Manusia Tidak

Penggalan akhir ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam: bahwa keterbatasan pengetahuan manusia justru menjadi pintu masuk menuju kebahagiaan sejati. Ketika manusia mengakui keterbatasannya dan menyerahkan segala urusan kepada Allah Yang Maha Mengetahui, di sanalah kebahagiaan sejati bersemayam.

3. Keseimbangan Emosi (Tawazun).

Ayat ini mengajarkan manusia untuk hidup proporsional—tidak kehilangan optimisme ketika didera kesedihan dan tidak pula larut dalam kegembiraan sampai melupakan daratan.

Lima Hikmah Memahami Surat Al-Baqarah Ayat 216

1. Tawakal dan Ridha terhadap Ketetapan Allah

Ibnu al-Qayyim dalam Madarij Al-Salikin menjelaskan bahwa di antara rahasia ayat ini adalah ia menghendaki seorang hamba untuk menyerahkan urusan kepada Dzat yang mengetahui akibat segala perkara serta ridha dengan apa yang Ia pilihkan dan takdirkan untuknya. Sikap ini melahirkan ketenangan batin yang tak tergoyahkan oleh badai kehidupan.

2. Optimisme dalam Menghadapi Ujian

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada hal yang mendatangkan manfaat dan kebahagiaan kecuali ia harus melakukannya walaupun ia anggap itu berat dan menyakitkan. Orang yang beriman diajarkan untuk selalu optimis ketika ditimpa kesedihan, karena yakin bahwa di balik setiap cobaan tersimpan hikmah yang agung.

3. Keseimbangan Hidup (Tawazun)

Quraish Shihab menekankan bahwa ayat ini mengajarkan manusia untuk hidup seimbang—tidak berlebihan dalam kegembiraan dan tidak berlarut dalam kesedihan. Seseorang yang sedang menikmati kebahagiaan hidup hendaknya tidak bergembira sampai batas lupa diri, karena bisa jadi di balik kenikmatan itu ada hal yang mudarat.

4. Berserah Diri kepada Allah (Tawakkul)

Tawakkal bukan berarti malas berusaha, melainkan mengoptimalkan ikhtiar kemudian menyerahkan hasilnya sepenuhnya kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Orang yang bertawakkal dengan benar akan merasakan kebahagiaan yang tidak bergantung pada hasil yang diperoleh, melainkan pada proses yang dijalani dengan penuh keikhlasan.

5. Syukur dalam Segala Keadaan

Implementasi paling konkret dari ayat ini adalah membiasakan diri bersyukur setiap hari—bersyukur bukan hanya ketika mendapat yang diinginkan, tetapi juga bersyukur atas sesuatu yang tidak diinginkan, karena yakin ada hikmah di baliknya.

 

Pertanyaan Seputar Al Baqarah 

1. Apa makna "boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu"?

Maknanya adalah bahwa persepsi manusia tentang baik dan buruk sangat terbatas. Sesuatu yang tampak buruk bagi manusia bisa jadi mengandung kebaikan yang besar, sementara sesuatu yang tampak baik bisa jadi mengandung keburukan yang tersembunyi. Allah Maha Mengetahui sedangkan manusia tidak mengetahui.

2. Mengapa Allah mewajibkan perang dalam Surat Al-Baqarah ayat 216?

Allah mewajibkan perang sebagai sarana perlindungan terhadap agama dan jiwa kaum muslimin. Jika kaum muslimin tidak melakukan perang, musuh akan menghancurkan mereka, mengambil tanah dan kemerdekaan mereka. Namun, perang dalam Islam bukanlah tujuan, melainkan upaya terakhir untuk menghentikan kezaliman.

3. Apa hubungan ayat ini dengan konsep takdir?

Ayat ini erat kaitannya dengan keyakinan terhadap qadha dan qadar. Segala sesuatu yang terjadi pada manusia telah dicatat oleh Allah 50.000 tahun sebelum penciptaan dunia. Ketika seseorang menerima takdir yang tidak disukainya dengan sabar dan tawakal, ia akan merasakan ketenangan batin.

4. Bagaimana menerapkan pesan ayat ini dalam kehidupan sehari-hari?

Penerapannya meliputi: berbaik sangka kepada Allah dalam setiap ujian, tidak berlebihan dalam kegembiraan dan kesedihan, menjadikan sabar sebagai jalan menuju kebahagiaan, membangun kebiasaan syukur, dan menguatkan tawakkal sebagai fondasi hidup.

5. Apa pandangan Buya Hamka tentang ayat ini?

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa ayat ini adalah penghiburan Allah kepada orang beriman. Jika mendapat cobaan pahit, jangan berputus asa, karena Allah yang Maha Mengetahui mungkin telah menaruh kebaikan besar di balik kepahitan itu. Hamka menganalogikannya dengan obat pahit yang harus diminum demi kesembuhan.