Bukan Obat, Air Sinkhole Sumbar Ternyata Mengandung Bakteri Berbahaya dan Tak Layak Konsumsi

Tak hanya melihat sinkhole, warga yang datang juga mengambil air tersebut karena mereka percaya memberi kasiat dan mengobati berbagai penyakit.

Diterbitkan 12 Januari 2026, 14:53 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sumatera Barat dihebohkan dengan terjadinya sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. Peristiwa alam tersebut sontak membuat warga di provinsi ini berbondong-bondong ke lokasi tersebut.

Tak hanya melihat sinkhole, warga yang datang juga mengambil air tersebut karena mereka percaya memberi kasiat dan mengobati berbagai penyakit.

Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, menyampaikan bahwa air yang berada di kawasan sinkhole di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua mengandung bakteri berbahaya, khususnya Escherichia coli (E-Coli).

Ia menjelaskan, temuan tersebut diperoleh dari kajian awal Badan Geologi serta hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Dari pemeriksaan itu, kualitas air diketahui tidak memenuhi standar kesehatan karena tingginya kandungan bakteri.

Kemudian, tingkat keasaman air atau pH juga tercatat berada di bawah angka 6,5, sehingga dinilai tidak aman untuk dikonsumsi.

“Air ini sebaiknya tidak digunakan sebagai air minum. Kondisinya kurang lebih sama seperti air sungai yang tidak diolah,” ujar Vasko, Senin (12/1/2026).

Oleh sebab itu meminta masyarakat agar tidak salah memahami keberadaan air di area sinkhole. Menurutnya hal ini sepenuhnya merupakan fenomena geologi alamiah, dan tidak ada kaitannya dengan kepercayaan mistis maupun klaim khasiat penyembuhan.

“Air ini sama sekali tidak memiliki manfaat untuk kesehatan atau penyembuhan penyakit,” katanya.

Bakteri E-Coli dalam Jumlah Tinggi

Di sisi lain, masyarakat juga diminta untuk mematuhi zona pengamanan yang telah ditetapkan aparat kepolisian. Garis polisi dipasang dengan jarak aman minimal 50 meter dari tepi lubang karena struktur tanah di sekitar lokasi masih rawan mengalami pergerakan atau amblasan.

Berdasarkan hasil pengukuran sementara, kandungan zat terlarut (TDS) dan kadar besi (Fe) dalam air masih berada pada ambang yang relatif aman. Namun, keberadaan bakteri E-Coli dalam jumlah tinggi menjadi alasan utama mengapa air tersebut tidak boleh digunakan tanpa melalui proses pengolahan yang memadai.

Untuk mengantisipasi risiko terhadap warga, Pemerintah Provinsi Sumbar bersama Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Badan Geologi, dan instansi terkait telah melakukan pemantauan lapangan serta kajian lanjutan guna memastikan kondisi di sekitar lokasi tetap aman.