Liputan6.com, Jakarta Profesor di bidang ilmu Filsafat Intelijen, AM Hendropriyono menuturkan jika ingin ilmu filsafat menjadi satu ilmu yang menarik bagi generasi muda sekarang, maka kuncinya adalah bagaimana ilmu filsafat mampu menjadikan sesuatu itu nyata lewat implementasinya.
“Jangan hanya dipikirkan saja. Tapi coba diaplikasikan di lapangan. Hidup saya ini bisa berubah menjadi bagus, apakah dengan filsafat bisa atau enggak?” kata Hendro usai gelaran pembacaan ‘Deklarasi; Manifesto dan Diskusi Filsafat Intelijen’ di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (18/8/2025).
Menurutnya, selama ini ilmu filsafat kurang diminati karena selalu membahas masalah-masalah prinsip. Bahkan lebih buruknya lagi masalah-masalah tersebut hanya ada di tataran ide, bukan di operasionalnya.
Advertisement
Karenanya supaya menjadi bisa diimplementasikan, ilmu filsafat harus menjadi pikiran dan prinsip yang bisa dijabarkan dalam tataran profesional.
“Siapa harus berbuat apa, bagaimana caranya, dan apa saja sasarannya supaya tujuan hidup tercapai,” tuturnya.
Dalam pemikirannya, Hendro menegaskan untuk bisa mencapai tujuan hidup manusia, yang paling pertama harus diketahui adalah membaca tantangan. Kedua adalah mengetahui ancaman.
Jika memang sudah mengetahui kedua hal tersebut, Hendro meyakini setiap mahasiswa filsafat akan mengetahui langkah yang jelas harus berbuat apa, lantas bagaimana mencapainya dan menetapkan sasarannya demi apa.
“Yang kita ajarkan bukan hanya kebenaran, tetapi kecepatan dan ketepatan. Benar belum tentu tepat. Jika sasaran sudah dibidik, apakah mengenainya? Jika ini bisa dilakukan filsafat, maka akan mudah untuk mencapai tujuan hidupnya,” katanya.
Sebagai satu-satunya kampus yang memiliki mata kuliah filsafat Pancasila, fakultas Filsafat UGM layak dianggap sebagai satu-satunya kampus yang memiliki fakultas filsafat yang mumpuni. Saat ini banyak kampus yang tidak benar-benar memiliki fakultas filsafat, ada yang sudah diturunkan menjadi program studi atau malah hanya peminatan saja.
“Kita sudah merasakan akibat kehilangan filsafat sebagai prinsip intelektual kita. Makanya kita dibohongi terus, diadu domba terus. Hancur terus, kita selalu kalah. Berapa kali perang kalah terus. Karena kita tinggalkan, karena kita sudah tidak bisa mikir. Bisanya kita terus berkelahi saja. Barang yang tidak penting tidak diperdebatkan terus-terus seperti obat nyamuk bakar itu. Muter terus,” tegasnya.
Manifesto filsafat intelijen disebut Hendro, sebagai bentuk protes para akademisi agar ilmu filsafat dilepaskan dari kegiatan intelijen yang mengarah ke bentuk kejahatan teror.
Hendropriyono menggambarkan intelijen sekarang telah bertransformasi bukan lagi sekadar instrumen negara, melainkan telah berkembang menjadi kekuatan otonom yang mampu mempengaruhi lanskap geopolitik global.
Alih-alih menjaga disintegrasi.,kehilangan kompas moralnya, bertransformasi menjadi kekuatan yang memproduksi ilusi, memanipulasi proses demokrasi, serta merusak institusi lokal demi stabilitas semu yang berpihak pada kepentingan hegemoni.
Sejarah menunjukkan ketika lembaga intelijen diberikan kekuasaan tanpa kendali etik, maka yang muncul bukan sekadar penyalahgunaan wewenang, melainkan juga krisis global yang menggerus legitimasi negara, kepercayaan publik dan stabilitas internasional.
“Maka dari itu, sangat penting untuk merefleksikan kembali akar moral dan fondasi filosofis dari praktik intelijen,” tulisnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111045/original/054516000_1783054306-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-03T114409.776.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8968722/original/090452400_1782980277-cek_fakta_-_tenaga_pendamping_masyarakat.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5319435/original/070594200_1755515767-WhatsApp_Image_2025-08-18_at_17.30.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9105249/original/065305000_1783042685-por7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111027/original/077801500_1783052609-AP26183730218725.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9108027/original/057222500_1783044209-063_2284404573.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111051/original/091108400_1783054834-063_2284419230.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9107326/original/029939500_1783043802-063_2284407272.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262484/original/068324800_1781816932-AP26169744189345-Swiss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8706226/original/084990600_1782782102-mahrez.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342603/original/068582000_1757396190-AP25248015186096.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9102315/original/016806000_1783041300-063_2284404120.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5363057/original/012614000_1758880226-WhatsApp_Image_2025-09-26_at_16.48.04.jpeg)