Sukses

Kurang Tidur Selama Puasa Ramadan Seperti Kondisi Jetlag, Kenapa?

Liputan6.com, Jakarta Membangun dan menjaga pola tidur yang baik selama Ramadan adalah langkah penting untuk beradaptasi dengan kebiasaan di bulan suci.

Sepanjang Ramadan, umumnya orang akan mengalami perubahan pola tidur di siang hari karena harus terjaga lebih larut untuk salat tarawih dan salat malam.

Melansir laman Hamad.qa, kondisi perubahan pola tidur selama Ramadan ini sebanding dengan ganggulan pola tidur ritme sirkadian tubuh yang biasa dialami oleh orang-orang yang bepergian melintasi beberapa zona waktu. Mereka yang bepergian itu biasanya mengalami disritmia sirkadian yang lebih dikenal dengan jet lag.

Hal itu disebabkan oleh perubahan jadwal tidur dan bangun yang bisa meningkatkan gangguan jam biologis seperti delayed sleep phase syndrome (DSPS) atau gangguan ritme sekresi melatonin.

Sederhananya, ketika seseorang mengalami perubahan pola tidur, mereka bisa merasakan mengantuk, sakit kepala dan mood swing.

 

 

2 dari 3 halaman

Hindari Makan Berlebih

Makan berlebih--terutama makanan manis berkalori tinggi atau berlemak, berat badan bertambah, dispepsia, dan ganggaun kolon juga bisa meningkatkan risiko gangguan tidur saat Ramadan.

Melatonin adalah hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pineal (kelenjar endokrin kecil) di otak. Melatonin membantu mengatur hormon lain dan menjaga ritme sirkadian tubuh. Dalam kondisi gelap, tubuh memproduksi lebih banyak melatonin. Sementara, produksi melatonin akan menurun di siang hari. Paparan cahaya atau menonton TV di malam hari bisa mengganggu siklus normal melatonin dan menyebabkan insomnia.

3 dari 3 halaman

Paparan Cahaya

Meski demikian, seseorang bisa menyeimbangkan waktu tidur dan ibadah mereka di bulan Ramadan dengan menyesuaikan jadwal tidur. Individu yang memiliki pola tidur buruk kemungkinan besar akan mengalami insomnia dan gangguan jam biologis kronis selepas Ramadan.

Agar pola tidur tetap terjaga, sebaiknya orang menyesuaikan jadwal tidur dan bangun mereka secara bertahap selama beberapa hari. Terutama pada hari-hari akhir libur Lebaran agar pola mereka membaik ketika waktunya kembali bekerja atau bersekolah.

Paparan cahaya selama setidaknya satu jam setelah bangun pagi membantu memulihkan kembali jadwal tidur normal. Cahaya adalah agen paling tepat untuk kembali menyinkronkan jam tubuh internal yang mengatur ritme sirkadian dan membantu mengurangi hormon tidur (melatonin) dalam darah. Menyibakkan tirai kamar di pagi hari cukup untuk mendapatkan paparan cahaya agar tubuh lebih terjaga.