Dicor Hari Ini, Retak Lagi Esok: Lingkaran Setan Warga Jalan Amblas Pulo Gadung

Setiap kali selesai dicor, retakan kembali muncul.

Diterbitkan 07 Juli 2026, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap kali selesai dicor, retakan itu kembali muncul.

Begitulah yang dialami Risky, warga Jalan Kayu Mas Utara atau yang dikenal sebagai Jalan Cinta, RT 011/RW 03, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Jalan yang berada tepat di depan rumahnya amblas sejak Lebaran 2026. Sejak saat itu pula, ia harus berkali-kali memperbaiki bagian depan rumahnya dengan biaya sendiri.

Jalan sepanjang kurang lebih 100 meter tersebut diduga amblas akibat aktivitas pengerukan kali yang menggunakan alat berat berukuran besar. Dampaknya tak hanya merusak badan jalan, tetapi juga merembet hingga ke rumah-rumah warga yang berada di sekitarnya.

Rumah Risky menjadi salah satu yang terdampak paling parah.

Saat peristiwa itu terjadi, Risky justru sedang berada di kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga. Kabar mengenai kerusakan rumahnya baru ia terima dari tetangga.

"Itu kan pas lebaran, satu hari atau dua hari itu saya dikabarin tetangga sebelah suruh langsung datang ke Jakarta, katanya rumah depan saya longsor," cerita Risky kepada Liputan6.com, Senin (6/7/2026).

Namun saat itu ia belum bisa langsung kembali ke Jakarta karena masih memiliki agenda keluarga selama mudik.

"Saya masih bingung, belum langsung ke Jakarta. Mungkin seminggu dulu, karena masih ada acara di rumah karena emang lagi pulang kampung, mudik lebaran," sambung dia.

 

Tembok Ambrol, Ayam Masuk ke Celah Jalan

Sesampainya di Jakarta, pemandangan yang ditemuinya membuatnya terkejut. Tembok bagian depan rumah sudah retak dan sebagian ambrol. Celah antara rumah dan jalan yang terus melebar bahkan membuat ayam-ayam dagangannya terperosok ke lubang di sekitar saluran.

"Pas sampai sini, ini (tembok) udah teretak, udah ambrol. Tapi ambrol ini, ini makin lebar terus. Jadi ayam itu kan, saya belanja ayam, ayam sampai masuk ke sini (lobang jalan amblas)," kata dia.

Menurut Risky, retakan yang semula hanya selebar satu jari terus membesar seiring waktu.

"Awalnya itu cuma segini, sejenggal gini, satu jari, lalu lama-lama dua jari, tiga jari, sampai ayam bisa masuk. Jadi terus, ini sebenarnya enggak amblas, cuma jalannya naik karena yang di sana amblas miring, jadi sini miring. Terus tembok ini, bawahnya kan nggak kuat, jadi ikutin jalan," sambung Risky.

 

3 Kali Dicor, 3 Kali Retak Lagi

Tak ingin kerusakan semakin parah, Risky memutuskan memperbaiki sendiri bagian depan rumahnya. Namun upaya itu belum membuahkan hasil.

Beton yang baru dicor selalu kembali retak hanya dalam hitungan hari.

"Efeknya ayamnya pada nyelip ke selokan. Terus ini dicor sendiri. Udah dicor, cornya retak lagi, ngecor lagi, retak lagi, ngecor lagi. Ini kalau nggak salah udah ketiga kali (dicor) ini yang terakhir buat nutupin lubang. Tadinya nggak ada retak sama sekali? Nggak ada sama sekali," kata Risky.

Ia mengaku khawatir kerusakan akan terus meluas karena tepat di bawah bagian rumah tersebut terdapat saluran air.

"Bawahnya ini selokan. Takutnya kalau makin ambrol, bawahnya selokan. Ini bisa habis," sambung dia.

Menurut Risky, beberapa waktu lalu tanah di sekitar rumahnya masih terus bergerak sehingga retakan baru terus bermunculan. Namun dalam beberapa hari terakhir, pergerakan itu mulai berkurang.

"Jadi kan ini dicor, sehari dua hari langsung retak lagi. Kalau yang sebelah ini udah dicor nih, jalan sama teras langsung retak lagi, sehari dua hari langsung retak lagi. Kayaknya udah beberapa hari ini enggak gerak sih," kata dia.

Meski demikian, kekhawatiran belum benar-benar hilang. Selain mengancam rumah, jalan amblas juga mengganggu usaha penjualan ayam yang menjadi sumber penghidupan keluarganya.

"Harapannya segera diperbaiki, soalnya ayam mau lewat juga susah. Angkutan ayam kan biasanya dari sana nih langsung ke sini. Harus putar lagi kalau mau menempatkan ayam," tutup Risky.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6