Sukses

Ketahui Apa Itu Introvert

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang sering menyebut-nyebut bahwa dirinya termasuk orang yang introvert. Lantas, apakah introvert itu?

Melansir Forbes, Selasa (3/1/2023), introvert adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kepribadian seseorang yang secara alami berpaling ke dalam, menemukan kenyamanan paling dalam pikiran dan perasaan sendiri daripada rangsangan eksternal.

Psikolog Swiss Carl Jung pertama kali memperkenalkan gagasan introvert pada awal 1900-an. Jung menggunakan ide introvert sebagai cara untuk menggambarkan kepribadian seseorang dan cara berhubungan dengan dunia.

“Umumnya, introvert dianggap sebagai seberapa ramah seseorang atau tidak dan sekarang tampaknya terkait dengan rasa malu,” kata seorang terapis yang tinggal di Iowa. Laura Kinney Dover.

“Namun, Jung membandingkan ekstrovert dengan introvert dan menentukan arah umum energi psikis. Introvert dianggap memiliki yang diarahkan ke dalam pikiran mereka sendiri versus mereka yang secara konsisten berfokus ke luar pada objek eksternal,” tambah dia.

Ciri-Ciri Kepribadian Seorang Introvert

Introvert memiliki sifat intuitif, termasuk pendiam, pendiam, dan introspektif, kata seorang psikolog berlisensi dan psikoanalis bersertifikat yang berbasis di New York Michele Stefano Piccolo.

“Kami mengorientasikan diri ke ruang yang paling tidak membuat kami takut—belum tentu ruang yang paling menarik bagi kami,” kata Piccolo. Introvert kemudian dikenal ketika seseorang berinteraksi dengan lingkungannya dan orang lain melalui proses mental internal. Pikiran dan perasaan mereka menjadi panduan mereka untuk memahami dan bergerak melalui dunia.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Kekuatan Umum

Karena introvert sadar dan tertarik pada perasaan, mereka bisa menjadi pendengar yang sangat baik dan berempati. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa introvert dapat bekerja dengan baik dalam sebuah kelompok ketika harus saling berbagi ide. Sebab, orang introvert kurang terikat pada ide sendiri dan lebih bersedia untuk mendengar dan mempertimbangkan perspektif lain.

Selain itu, empati seorang introvert juga dapat mengarah pada hubungan yang bermakna. Namun, mereka biasanya berbagi perasaan dengan orang yang sangat mereka percaya.

Tantangan Umum

Penelitian di Jurnal SAGE mengidentifikasi korelasi antara introvert, rasa malu, dan neurotisme. Telah dibahas bahwa rasa malu dan introvert itu terpisah karena introvert "percaya diri dengan ketenangan mereka", tetapi mereka sering disalahartikan sebagai pemalu.

Sementara itu, sebuah studi tentang dinamika kelas mencatat siswa yang tidak berada dalam lingkaran dekat introvert mungkin melihat introvert sebagai orang yang tertutup. Terlebih lagi, studi mencatat bahwa introvert dapat menarik diri selama konflik, sehingga tidak memprioritaskan perasaan atau keyakinan diri sendiri. Terutama ketika berada di sekitar ekstrovert, introvert mungkin menjadi bahan pembicaraan dan mungkin harus menemukan cara kreatif untuk membuat pemikiran dan sudut pandang mereka didengar.

Keheningan dan introspeksi introvert sering dilihat sebagai kelemahan, sehingga introvert mungkin harus melawan praduga tentang aspek kepribadian mereka. Dalam dunia sosial, bersikap ramah dan riuh sering diinginkan, sehingga beberapa introvert bahkan mungkin merasa mereka perlu mengubah aspek kepribadian mereka agar lebih sesuai dengan preferensi masyarakat.

Tipe-Tipe Introvert

Pada 1980-an, peneliti Arnold Henjum menerbitkan sebuah teks yang membagi konsep introversi menjadi dua kategori: Tipe A dan Tipe B. Melakukan penelitiannya pada siswa dalam lingkungan pendidikan, ia mendefinisikan introvert Tipe A sebagai orang yang mandiri dan percaya diri. Sementara introvert Tipe B tampak pemalu dan pendiam.

Introvert tipe A dapat mencapai tujuannya dengan mudah sementara introvert tipe B membutuhkan bimbingan

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS