Liputan6.com, Jakarta: Lembaga swadaya masyarakat hak asasi manusia Imparsial meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk tim investigasi kasus kematian Munir. Tim ini perlu untuk memberi jawaban pasti dan akurat tentang penyebab kematian tidak wajar pejuang hak asasi manusia itu. Permintaan ini disampaikan Direktur Eksekutif Imparsial Rachlan Nashidik di Jakarta, Rabu (17/11).
Rachlan menduga Munir yang juga Direktur Eksekutif Imparsial ini adalah korban pembunuhan dengan latar belakang politik (political assasination). Karena itu, pembentukan tim khusus ini sangat penting. Sebenarnya, kata Rachlan, pembentukan tim khusus untuk kasus yang diduga berhubungan dengan unsur politik sudah lazim dilakukan, bahkan bukan hal baru di luar negeri.
"Presiden berjanji untuk memimpin langsung aksi penegakan hukum karena itu kami meminta tim ini mendapat legislasi dari Presiden," kata Rachlan. Yakni membentuk tim khusus dengan surat keputusan presiden. Dengan demikian, kata Rachlan, tim bertanggung jawab kepada presiden dan menjadi representasi dari otoritas presiden untuk mengetahui secara langsung duduk perkara hasil penyelidikan.
Kematian Munir pada 7 September silam terbilang kontroversial. Beberapa jam sebelum bertolak dari Bandar Udara Soekarno-Hatta Cengkareng, Banten, ke Amsterdam, Belanda, lewat Singapura, Munir dalam kondisi segar bugar. Namun, aktivis yang vokal mengkritik aksi militer dari Papua hingga Aceh ini meninggal tiga jam sebelum pesawat Garuda yang membawanya mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, ayah dua anak ini sempat muntah-muntah dan kejang-kejang. Hasil otopsi Badan Forensik Belanda menemukan kandungan racun arsenik dalam jumlah tidak wajar di tubuh Munir. Polri sudah membentuk tim khusus yang akan ke Belanda untuk menyelidiki lebih lanjut kasus ini. Menurut rencana, tim yang terdiri dari unsur dokter, kepolisian, departemen luar negeri, dan wakil keluarga Munir ini akan berangkat ke Belanda hari ini [baca: Besok, Tim Penyelidik Kasus Munir ke Belanda].(TNA/Erica Pandjaitan dan Irfan Efendi)
Rachlan menduga Munir yang juga Direktur Eksekutif Imparsial ini adalah korban pembunuhan dengan latar belakang politik (political assasination). Karena itu, pembentukan tim khusus ini sangat penting. Sebenarnya, kata Rachlan, pembentukan tim khusus untuk kasus yang diduga berhubungan dengan unsur politik sudah lazim dilakukan, bahkan bukan hal baru di luar negeri.
"Presiden berjanji untuk memimpin langsung aksi penegakan hukum karena itu kami meminta tim ini mendapat legislasi dari Presiden," kata Rachlan. Yakni membentuk tim khusus dengan surat keputusan presiden. Dengan demikian, kata Rachlan, tim bertanggung jawab kepada presiden dan menjadi representasi dari otoritas presiden untuk mengetahui secara langsung duduk perkara hasil penyelidikan.
Kematian Munir pada 7 September silam terbilang kontroversial. Beberapa jam sebelum bertolak dari Bandar Udara Soekarno-Hatta Cengkareng, Banten, ke Amsterdam, Belanda, lewat Singapura, Munir dalam kondisi segar bugar. Namun, aktivis yang vokal mengkritik aksi militer dari Papua hingga Aceh ini meninggal tiga jam sebelum pesawat Garuda yang membawanya mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam.
Sebelum menghembuskan napas terakhir, ayah dua anak ini sempat muntah-muntah dan kejang-kejang. Hasil otopsi Badan Forensik Belanda menemukan kandungan racun arsenik dalam jumlah tidak wajar di tubuh Munir. Polri sudah membentuk tim khusus yang akan ke Belanda untuk menyelidiki lebih lanjut kasus ini. Menurut rencana, tim yang terdiri dari unsur dokter, kepolisian, departemen luar negeri, dan wakil keluarga Munir ini akan berangkat ke Belanda hari ini [baca: Besok, Tim Penyelidik Kasus Munir ke Belanda].(TNA/Erica Pandjaitan dan Irfan Efendi)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375340/original/043230400_1792140162-Screenshot_2026-10-16_151345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364644/original/080112300_1791013312-IndonesiadangdutAwards2026Attire__ekotjandra_Hijab_stylist__suciaurelias_Makeup__riskymakeup__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/426872/original/181104bMunir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)