Kebakaran Hutan Kalbar Meluas, Tembus 48 Ribu Hektare

Angka tersebut merupakan akumulasi data pemantauan SiPongi dan hasil pengukuran langsung BNPB.

Diterbitkan 15 September 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Total 48.536,73 ha lahan terbakar di Kalbar, akumulasi data SiPongi dan BNPB.
  • BNPB mencatat 19 titik api baru, 80 ha belum padam pada 15 September 2026.
  • Helikopter Jepang belum bisa beroperasi karena jarak pandang rendah di bawah 1 km.

Liputan6.com, Jakarta - Luas lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) telah mencapai lebih dari 48.536,73 hektare (ha). Angka tersebut merupakan akumulasi data pemantauan SiPongi dan hasil pengukuran langsung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di lapangan.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan data SiPongi mencatat luas lahan terbakar di Kalbar lebih dari 38.310 hektare hingga 31 Juli 2026. Sementara itu, pengukuran BNPB di lapangan menemukan tambahan luas lahan terbakar lebih dari 10.224 hektare.

“Kami sampaikan bahwa di Kalimantan Barat lahan terbakar sebesar 38.310 hektar lebih. Sedangkan yang kami ukur berdasarkan realita di lapangan 10.224 hektar lebih, sehingga total terbakar sebesar 48.536,73 hektar,” kata Berton dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).

BNPB juga mencatat 19 titik kebakaran di Kalbar pada 14 September 2026, dengan estimasi luas lahan terbakar lebih dari 261 hektare. Tim gabungan kemudian melakukan pemadaman melalui operasi darat dan udara.

Satuan tugas darat berhasil menangani lebih dari 175 hektare, sedangkan operasi water bombing memadamkan lebih dari 5 hektare lahan. Namun, hingga akhir pemadaman masih terdapat lebih dari 80 hektare lahan yang belum tertangani.

“Sehingga ada sejumlah 80 hektar lebih yang belum dipadamkan hari ini, hari Selasa 15 September 2026,” ucapnya.

 

Kendala Jarak Pandang

Selain luas wilayah yang terbakar, penanganan karhutla di Kalbar juga menghadapi kendala jarak pandang. BNPB mencatat jarak pandang di sejumlah wilayah berada di bawah 1 kilometer, antara lain Mempawah, Pontianak, Melawi, Sambas, Ketapang, Kubu Raya, Sintang, Kapuas Hulu, dan Singkawang.

Kondisi tersebut membuat bantuan helikopter Jepang yang telah tiba di Kalbar belum dapat digunakan untuk operasi pemadaman. Helikopter baru akan dioperasikan ketika jarak pandang berada pada kisaran 3.500 hingga 5.000 meter.

“Kami bisa sampaikan bahwa bantuan helikopter Jepang saat ini sudah tiba di Kalimantan Barat, namun belum dapat dioperasikan karena memang visibility sangat rendah,” kata Berton.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6