Anak Krakatau Erupsi Lagi Pagi Ini, Simak Detailnya

Anak Krakatau Kembali Erupsi 3 Kali Pagi Ini, Aktivitas Gempa Vulkanik Masih Tinggi

Diterbitkan 08 September 2026, 09:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gunung Anak Krakatau erupsi tiga kali pada 8 September 2026 pagi.
  • Visual letusan tidak teramati karena kondisi cuaca dan kabut tebal.
  • Abu vulkanik diprakirakan menjauhi Indonesia, namun waspada kualitas udara.

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Selasa (8/9/2026) pagi. Berdasarkan catatan MAGMA Indonesia (Multiplatform Application for Geohazard Mitigation and Assessment in Indonesia), sedikitnya tiga kali erupsi terjadi sejak pukul 05.08 WIB hingga 07.49 WIB.

Erupsi pertama tercatat pada pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 15 detik. Selanjutnya, erupsi terjadi pada pukul 05.34 WIB dengan amplitudo 44 mm dan durasi 10 detik.

Erupsi kembali tercatat pada pukul 07.49 WIB. Kali ini, amplitudo maksimum mencapai 48 mm dengan durasi 19 detik.

Dalam ketiga kejadian tersebut, visual letusan tidak teramati.

"Visual letusan tidak dapat diamati karena kondisi cuaca dan kabut yang menyelimuti kawasan gunung," kata Pengamat Gunung Api PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Anggi Nuryo Saputro.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Diprakirakan Menjauhi Indonesia

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

Prakiraan tersebut berdasarkan pemantauan BMKG pada Selasa (8/9/2026) pukul 04.00 WIB.

"Sebaran abu vulkanik GAK (Gunung Anak Krakatau) diprakirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia," demikian seperti dikutip dari laman Instagram BMKG.

Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 8 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sebaran abu vulkanik dari permukaan hingga ketinggian 6.000 ft (1,8 km) teramati bergerak ke arah selatan-barat daya, mencakup wilayah Samudera Hindia barat laut Banten.

Meski demikian, BMKG menyebut masih terdapat sebaran abu vulkanik yang menurunkan kualitas udara dan jarak pandang.

"Serta pada ketinggian tertentu dapat mengganggu aktivitas penerbangan," demikian.

"Masyarakat di wilayah yang terdampak memastikan informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan instansi terkait serta memperhatikan kondisi udara serta jarak pandang," sambungnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6