Kapan Hujan Abu Anak Krakatau Berhenti?

Hingga saat ini, masyarakat masih bertanya-tanya sampai kapan hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau akan berlangsung.

Diterbitkan 08 September 2026, 07:52 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Aktivitas vulkanik tersebut memicu sebaran abu ke sejumlah wilayah.

Kondisi ini membuat masyarakat yang terdampak bertanya-tanya, sampai kapan hujan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau akan berlangsung dan kapan kondisi kembali normal?

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono menjelaskan, waktu berhentinya hujan abu vulkanik tidak bisa dipastikan secara tepat. Sebab, durasi erupsi sangat bergantung pada aktivitas magma dan tekanan di dalam tubuh gunung api.

"Letusan baru akan benar-benar berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi sudah habis dan tekanan di dalam dapur magma sudah tenang kembali," jelas Daryono, Selasa (8/9/2026).

Selama kantong magma di bawah gunung masih mendapat pasokan magma dari kedalaman bumi, aktivitas erupsi yang membawa abu masih dapat berlanjut. Intensitasnya pun bisa berubah-ubah, terkadang melemah dan kemudian kembali menguat.

Mengapa Pasokan Magma Bisa Berhenti?

Daryono menjelaskan, pasokan magma baru akan berhenti ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan tenaga. Tanpa dorongan yang cukup kuat, magma di dalam saluran gunung api akan mendingin dan mengeras hingga akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya.

Saat kondisi tersebut terjadi, gunung api dapat kembali stabil dan tidak lagi mampu menyemburkan material ke permukaan.

"Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yg mulai menyusut (deflasi)," jelasnya.

Daryono mengatakan waktu berakhirnya erupsi sulit diprediksi secara pasti hingga hitungan jam, tanggal, atau bulan.

Perut bumi berada jauh di bawah permukaan dan merupakan sistem alam yang sangat kompleks. Belum ada teknologi yang dapat mengukur secara persis jumlah magma yang tersisa di dalam bumi.

Kondisi ini, menurut Daryono, serupa dengan gempa bumi yang hingga kini belum dapat diprediksi secara tepat karena mekanisme kejadiannya berlangsung jauh di bawah permukaan.

 

Ke Mana Abu Vulkanik Terbang?

Daryono mengatakan arah dan jarak sebaran abu vulkanik sangat bergantung pada dua faktor, yakni kekuatan letusan dan arah angin.

Saat letusan berlangsung kuat, abu berukuran halus dapat terlontar hingga lapisan udara yang lebih tinggi. Di sana, material tersebut dapat terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke permukaan.

"Angin kencang akan membawa debu-debu ringan ini melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan km sebelum akhirnya jatuh ke tanah," kata dia.

Abu Anak Krakatau Menjauhi Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Prakiraan tersebut berdasarkan pemantauan BMKG pada Selasa (8/9/2026) pukul 04.00 WIB.

"Sebaran abu vulkanik GAK (Gunung Anak Krakatau) diprakirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia," demikian seperti dikutip dari laman Instagram BMKG.

Berdasarkan informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 8 September 2026 pukul 04.00 WIB, teridentifikasi sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Sebaran abu vulkanik dari permukaan hingga ketinggian 6.000 ft (1,8 km) teramati bergerak ke arah selatan-barat daya, mencakup wilayah Samudera Hindia barat laut Banten.

Meski demikian, BMKG menyebut masih terdapat sebaran abu vulkanik yang menurunkan kualitas udara dan jarak pandang.

"Serta pada ketinggian tertentu dapat mengganggu aktivitas penerbangan," tulis BMKG.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6