Bursa Asia Dibuka Beragam di Tengah Memanasnya Perang AS-Iran

Bursa Asia bergerak beragam di tengah perang AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-Kanada.

Diterbitkan 08 September 2026, 08:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak beragam pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Investor mencermati perkembangan perang Amerika Serikat (AS) dan Iran, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada.

Pergerakan bursa Asia mengikuti sentimen negatif dari kontrak berjangka saham AS. Dow Jones Industrial Average futures turun 308 poin atau 0,6%. S&P 500 futures juga melemah 0,2%, sementara Nasdaq-100 futures justru naik 0,1%.

Pasar saham AS sendiri ditutup pada Senin karena libur Labor Day.

Mengutip CNBC, Selasa (8/9/2026), di Asia, indeks Kospi Korea Selatan naik 0,75% pada awal perdagangan. Sebaliknya, Nikkei 225 Jepang turun 0,95% dan S&P/ASX 200 Australia melemah 0,22%.

Sementara itu, harga minyak naik ke level tertinggi dalam enam pekan setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan.

Harga minyak Brent naik 1,1% menjadi US$ 97,31 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 1,3% menjadi US$ 92,66 per barel.

Kenaikan harga minyak dalam sebulan terakhir turut meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong imbal hasil obligasi AS.

 

Pertemuan The Fed

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian investor karena berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Kondisi tersebut juga mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury meningkat.

Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun pekan lalu mencapai level tertinggi sejak November 2023. Sementara imbal hasil surat utang tenor dua tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.

“Ada serangkaian pertemuan bank sentral dalam beberapa pekan mendatang yang akan menguji apakah ketenangan pasar saham dapat bertahan,” kata Presiden Yardeni Research Ed Yardeni.

“Imbal hasil obligasi juga meningkat di seluruh dunia. Pertanyaannya adalah apakah hal itu mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, dan/atau krisis utang fiskal yang akan segera terjadi.”

The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan moneter pada pekan depan. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai 60%.

Ekspektasi tersebut masih dapat berubah setelah data inflasi grosir dan konsumen AS dirilis masing-masing pada Kamis dan Jumat.

 

Ketegangan AS dan Kanada

Selain kebijakan The Fed, investor juga menghadapi meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada.

Kanada akan memberlakukan tarif balasan terhadap produk AS senilai sekitar US$ 20 miliar mulai Selasa. Kebijakan tersebut menambah tekanan terhadap hubungan dagang kedua negara.

Presiden AS Donald Trump juga kembali mengeluarkan pernyataan terkait produsen pesawat Kanada, Bombardier. Trump mengatakan perusahaan tersebut tidak dapat menjual produknya di AS kecuali Kanada mulai memproduksi produknya di AS.

“TAK ADA LAGI PENJUALAN BOMBARDIER DI AMERIKA SERIKAT!” tulis Trump melalui platform Truth Social.

Investor juga masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah. Eskalasi konflik AS-Iran berpotensi kembali mendorong harga minyak dan meningkatkan tekanan inflasi global.