Abu Anak Krakatau Bikin Masker Langka, Pramono: Jangan Mainkan Harga

Pramono Anung meminta masker tetap tersedia dan harganya tidak dinaikkan di tengah meningkatnya kebutuhan warga akibat sebaran abu Anak Krakatau.

Diterbitkan 07 September 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gubernur DKI soroti kelangkaan dan kenaikan harga masker akibat abu vulkanik.
  • Pemprov DKI akan terus membagikan masker gratis di tempat umum untuk warga.
  • Warga diimbau waspada abu vulkanik, kurangi aktivitas luar, dan gunakan masker N95/setara.

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti kelangkaan dan kenaikan harga masker di tengah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Jakarta.

Pramono meminta masker sebagai kebutuhan perlindungan pernapasan tidak dipermainkan, terutama ketika masyarakat membutuhkannya untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik.

Dia juga menyinggung fenomena panic buying yang dikhawatirkan membuat masker semakin sulit ditemukan dan harganya melonjak hingga ratusan ribu rupiah.

“Saya minta untuk tidak menjadi kebutuhan publik, kebutuhan bersama. Jangan dipermainkan (harganya),” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (7/9/2026).

Untuk membantu warga mendapatkan masker, Pemprov DKI Jakarta akan melanjutkan pembagian masker di sejumlah tempat umum.

“Tetapi Pemerintah DKI Jakarta tetap akan melakukan pembagian masker di tempat-tempat umum untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Pramono mengatakan pembagian masker sebelumnya juga telah dilakukan sebagai bagian dari penanganan dampak sebaran abu vulkanik yang mengganggu aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah Jakarta.

Pemprov DKI memastikan pembagian masker tetap dilakukan untuk membantu warga yang membutuhkan perlindungan pernapasan selama kondisi tersebut berlangsung.

Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilawati saat dihubungi tim Regional Liputan6.com, Minggu (6/9/2026) mengatakan, warga perlu waspada terhadap sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, mengingat abu vulkanik mengandung partikel halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menyebabkan batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, serta kemungkinan bisa memperburuk asma atau penyakit paru.

"Masyarakat yang terdampak hujan abu diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker yang terpasang rapat, terutama N95, KN95, atau yang setara," katanya.

Jika masker-masker tersebut tidak tersedia, kata Rita, masyarakat bisa menggunakan masker bedah.

"Anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan perlu lebih berhati-hati. Untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat atau nyeri dada," katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6