Hari Aksara Internasional: Potret Literasi & Minat Baca Indonesia

Hari Aksara Internasional: Potret Literasi & Minat Baca Indonesia, tantangan dan pentingnya literasi saat ini.

Diterbitkan 07 September 2026, 17:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hari Aksara Internasional (Literacy Day) diperingati setiap 8 September di berbagai negara untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya literasi dalam kehidupan. UNESCO mencatat, peringatan tahunan ini telah berlangsung setiap 8 September sejak 1967. Sebelumnya, Hari Aksara Internasional diproklamasikan oleh UNESCO pada 1966 dalam Sidang Umum UNESCO ke-14.

Peringatan tersebut berakar dari Konferensi Dunia Menteri Pendidikan tentang Pemberantasan Buta Aksara yang berlangsung di Teheran, Iran pada 1965. Sejak pertama kali diperingati pada 1967, Hari Aksara Internasional terus dirayakan setiap tahun untuk mengingatkan masyarakat dunia mengenai pentingnya literasi sebagai bagian dari hak dasar manusia serta fondasi bagi pembelajaran dan pembangunan berkelanjutan.

Makna Hari Aksara Internasional

Hari Aksara Internasional menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat bahwa literasi merupakan bagian dari hak dasar manusia. UNESCO memandang literasi sebagai fondasi yang membantu seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam perkembangannya, literasi tidak lagi hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Di tengah perubahan teknologi dan derasnya arus informasi, seseorang juga perlu mampu memahami, menafsirkan, mengevaluasi, serta menggunakan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.

Karena itu, seseorang yang memiliki kemampuan literasi tidak hanya mampu membaca sebuah teks, tetapi juga dapat memahami konteks, membedakan informasi yang dapat dipercaya, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang relevan.

Mengapa Literasi Penting bagi Masyarakat?

Literasi berkaitan erat dengan kemampuan seseorang dalam memperoleh dan mengolah informasi. Kemampuan tersebut menjadi modal penting untuk belajar, mengembangkan pengetahuan, berkomunikasi, serta menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan antara literasi dan kemajuan masyarakat juga sangat erat. Masyarakat yang memiliki kemampuan literasi dapat lebih mudah mengakses berbagai sumber pengetahuan dan menggunakannya untuk mengambil keputusan. Sumber tersebut dapat berasal dari buku, media massa, perpustakaan, maupun berbagai sumber digital.

Namun, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru. Informasi kini dapat diperoleh dengan cepat melalui internet dan gawai, tetapi tidak seluruh informasi yang beredar memiliki sumber dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh sebab itu, budaya membaca perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis. Literasi di era digital juga mencakup kemampuan untuk memeriksa sumber, membandingkan informasi, mengenali informasi yang keliru, serta menggunakan teknologi secara bijak.

Hari Aksara Internasional 2026

Hari Aksara Internasional 2026 diperingati pada Selasa, 8 September 2026. Tahun ini menjadi momentum khusus karena menandai 60 tahun sejak Hari Aksara Internasional diproklamasikan oleh UNESCO pada 1966. UNESCO mengangkat tema “Literacy for people, the planet and prosperity” yang dalam bahasa Indonesia artinya “Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran.”

Tema tersebut menyoroti peran literasi dalam mendorong inklusi, mendukung masa depan yang berkelanjutan, serta memperluas kesempatan bagi penghidupan dan pembangunan ekonomi.

Pada 2026, perayaan global Hari Aksara Internasional diselenggarakan UNESCO bersama Pemerintah Meksiko pada 8–9 September 2026 di Chiapas, Meksiko. Meski acara global berlangsung selama dua hari, Hari Aksara Internasional tetap diperingati setiap tanggal 8 September.

Potret Literasi dan Minat Baca di Indonesia

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam membangun budaya membaca dan memperkuat literasi masyarakat. Salah satu angka yang kerap dikutip dalam pembahasan mengenai minat baca Indonesia adalah 0,001 persen. Laman resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut angka tersebut sebagai data UNESCO dan mengartikannya sebagai sekitar satu dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca.

Angka tersebut juga pernah dicantumkan dalam publikasi resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 2021 dengan interpretasi yang sama. Namun, angka tersebut merupakan data lama sehingga tidak tepat jika digunakan sebagai satu-satunya gambaran mengenai kondisi literasi atau minat baca masyarakat Indonesia pada 2026. Selain itu, minat baca tidak sama dengan kemampuan literasi. Minat baca lebih berkaitan dengan ketertarikan atau kebiasaan seseorang untuk membaca, sedangkan literasi mencakup kemampuan yang lebih luas dalam memahami dan menggunakan informasi.

Gambaran lain dapat dilihat dari pemeringkatan World's Most Literate Nations Ranked yang dilakukan Central Connecticut State University pada 2016. Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia berada di posisi ke-60 dari 61 negara. Namun, hasil tersebut tidak dapat diartikan semata-mata sebagai peringkat minat baca atau jumlah buku yang dibaca masyarakat karena pemeringkatannya menggunakan sejumlah indikator untuk menggambarkan lingkungan literasi.

Karena itu, berbagai data mengenai minat baca perlu ditempatkan sesuai tahun, sumber, metode, dan indikator yang digunakan. Data lama tetap dapat menjadi gambaran historis mengenai tantangan budaya membaca di Indonesia, tetapi tidak sebaiknya digunakan untuk menggambarkan kondisi literasi Indonesia pada 2026 secara keseluruhan.

Tantangan Literasi di Era Digital

Perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat Indonesia memperoleh dan mengonsumsi informasi. Buku dan perpustakaan kini bukan satu-satunya sumber pengetahuan karena masyarakat dapat mengakses artikel, jurnal, buku digital, video edukasi, dan berbagai sumber informasi lainnya melalui internet.

Perubahan tersebut sebenarnya membuka peluang besar untuk memperluas akses terhadap bahan bacaan. Bahkan, literasi tidak harus selalu dilakukan melalui buku fisik. Perpustakaan digital dan berbagai sumber belajar daring dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi modern.

Di sisi lain, kemudahan memperoleh informasi juga menghadirkan tantangan. Banyaknya konten yang tersedia membuat masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memilah informasi, memeriksa sumber, membandingkan berbagai sudut pandang, dan tidak langsung mempercayai atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Dengan demikian, tantangan literasi saat ini bukan hanya bagaimana meningkatkan kebiasaan membaca, tetapi juga bagaimana membangun kemampuan masyarakat untuk memahami dan menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.

Menjadikan Literasi sebagai Kebiasaan

Peringatan Hari Aksara Internasional sebaiknya tidak berhenti pada ucapan atau unggahan di media sosial. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan yang mendukung kemampuan literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca buku atau artikel secara rutin, mencari informasi dari sumber terpercaya, berdiskusi, menulis, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kebiasaan tersebut semakin penting. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca kata demi kata, tetapi juga kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.

Dengan menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, Hari Aksara Internasional tidak hanya menjadi peringatan tahunan. Momentum ini juga dapat menjadi pengingat bahwa kemampuan memahami informasi merupakan bekal penting untuk belajar, berpartisipasi dalam masyarakat, dan menghadapi perubahan di masa depan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hari Aksara Internasional: Potret Literasi & Minat Baca Indonesia

1. Kapan Hari Aksara Internasional diperingati?

Hari Aksara Internasional diperingati setiap 8 September setiap tahun. Pada 2026, peringatan ini jatuh pada Selasa, 8 September 2026.

2. Mengapa Hari Aksara Internasional diperingati setiap 8 September?

Tanggal 8 September berkaitan dengan peringatan yang diproklamasikan UNESCO pada 1966. Hari Aksara Internasional kemudian pertama kali diperingati pada 1967 sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya literasi.

3. Apa tema Hari Aksara Internasional 2026?

Tema Hari Aksara Internasional 2026 adalah “Literacy for people, the planet and prosperity” atau “Literasi untuk Manusia, Bumi, dan Kemakmuran.”

4. Apakah minat baca sama dengan literasi?

Tidak. Minat baca lebih berkaitan dengan ketertarikan atau kebiasaan seseorang untuk membaca, sedangkan literasi memiliki cakupan lebih luas, termasuk kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara tepat.

5. Bagaimana cara meningkatkan literasi dalam kehidupan sehari-hari?

Literasi dapat ditingkatkan dengan membiasakan membaca, mencari informasi dari sumber terpercaya, berdiskusi, menulis, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai atau membagikannya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6