Indeks MSCI Asia Melonjak 23% Ungguli Pasar AS hingga Eropa

Sektor teknologi mengangkat reli indeks saham MSCI Asia hingga Agustus 2026.

Diterbitkan 08 September 2026, 10:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lonjakan besar di sektor teknologi informasi mendorong indeks MSCI Asia mengungguli pasar global hingga Agustus 2026. Indeks MSCI Asia naik 23,01%.

Mengutip Anadolu, ditulis Selasa, (8/9/2026), indeks acuan Asia dari penyedia indeks global MSCI ini melampaui kenaikan indeks Amerika Serikat (AS) sebesar 12,21% dan indeks Eropa 8,87% pada periode sama.

Reli indeks saham Asia ini dipicu lonjakan sektor teknologi informasi sebesar 70,51% sejak awal tahun atau year-to-date (Ytd).

Permintaan yang kuat terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan investasi pusat data, serta kinerja laba positif dari raksasa teknologi seperti Nvidia, meredakan kekhawatiran jangka pendek mengenai persaingan pembuatan cip di kawasan tersebut.

Hasil keuangan Nvidia yang melampaui ekspektasi dan perkiraan pendapatan yang kuat meredakan kekhawatiran bahwa investasi AI dan pusat data mungkin melambat, sementara saham perusahaan pembuat cip tersebut naik 6,8%.

Laporan mengenai produksi mesin litografi deep ultraviolet buatan dalam negeri China meredakan tekanan jual pada saham peralatan cip menjelang Agustus. Kekhawatiran persaingan pun berkurang karena produksi mesin canggih tersebut kabarnya akan tetap terbatas pada tahap awal.

Salesforce dan CrowdStrike menaikkan proyeksi kinerja, yang turut menopang saham-saham teknologi, sementara permintaan cip dan AI yang kuat dari China, Jepang, dan Korea Selatan juga berkontribusi pada reli sektor teknologi di kawasan tersebut.

Sektor teknologi AS dan Eropa mencatat kenaikan yang lebih moderat, masing-masing sebesar 22,96% dan 31,63%.

Sementara itu, indeks layanan komunikasi naik 4,07% di Eropa pada Agustus, tetapi turun 0,71% di AS dan 1,17% di Asia, yang menunjukkan kenaikan saham teknologi informasi tidak tercermin pada tingkat yang sama di sektor layanan komunikasi.

 

 

Sektor Energi Mendominasi Pasar AS

 

Pada saat yang sama, sektor energi mendominasi di pasar Amerika Serikat dengan kenaikan 41,42%. Seiring harga minyak mentah Brent yang melampaui US$ 91 per barel pada Agustus akibat meningkatnya risiko di Timur Tengah dan kekhawatiran pasokan dari Rusia, dibandingkan dengan kenaikan 32,06% di Eropa dan penurunan 1,64% di Asia.

Selain itu, sektor material mencatat pertumbuhan di ketiga wilayah tersebut pada bulan lalu, dipimpin oleh kenaikan sebesar 7,85% di Asia; pertumbuhan sektor ini juga didukung oleh ekspektasi pengenaan tarif AS terhadap tembaga olahan serta aktivitas manufaktur zona euro yang mencapai level tertinggi dalam empat tahun.

Harga tembaga untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange naik menjadi US$ 14.343 per metrik ton, mendekati rekor tertinggi di angka US$ 14.527,5. Rendahnya tingkat persediaan di bursa tersebut juga mendorong harga seng ke level tertinggi dalam empat tahun.

 

Kekhawatiran Inflasi

Berdasarkan data awal, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur zona euro mencapai level tertinggi dalam lebih dari empat tahun di angka 52,8, sehingga memperkuat ekspektasi permintaan terhadap logam industri. Angka final tercatat sebesar 52,7.

Sektor real estat mengalami penurunan sebesar 4,18% di Eropa, 2,65% di Asia, dan 1,83% di AS pada bulan lalu di tengah tingginya imbal hasil obligasi akibat kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut secara global. Indeks utilitas turun 5,25% di AS dan 1,22% di Eropa, sementara di Asia indeks ini naik 0,4%.

Kekhawatiran mengenai inflasi dan utang publik menjaga imbal hasil obligasi tetap tinggi, sehingga menekan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.

Pernyataan bernada hawkish dari ketua Federal Reserve AS, Kevin Warsh, baru-baru ini meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan September dari 35% menjadi 60%, yang pada gilirannya mendorong kenaikan biaya pinjaman.

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor dua tahun naik 11 basis poin menjadi 4,34%. Tingginya biaya pinjaman berdampak pada perusahaan real estat yang sensitif terhadap pembiayaan, sementara kenaikan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik saham utilitas, yang sering dianggap sebagai alternatif obligasi karena pembayaran dividennya yang rutin.

 

Asia Memimpin di Sektor Kesehatan

Pada saat yang sama, Asia memimpin wilayah lain di sektor kesehatan dengan kenaikan 6,86% pada Agustus, diikuti oleh kenaikan 4,49% di AS akibat ekspektasi profitabilitas yang membaik dan peningkatan aktivitas merger, serta penurunan 0,29% di Eropa.

Saham sektor konsumen mencatat kinerja terlemah di ketiga wilayah tersebut, dengan hasil yang beragam atau negatif. Indeks Consumer Discretionary MSCI naik 0,73% di Eropa, sementara turun 0,11% di AS dan 0,56% di Asia. Indeks konsumsi inti naik 0,04% di Asia, sedangkan turun 0,8% di AS dan 2,82% di Eropa.

Penjualan ritel AS turun 0,6%, dan harga bahan bakar yang terus tinggi memicu kekhawatiran mengenai menyusutnya pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income), yang berdampak pada indeks consumer discretionary dan konsumsi inti di seluruh dunia.