Dekan Biologi UGM: Riset Kelautan Perlu Diperkuat di Indonesia

Dekan Fakultas Biologi UGM menilai eksplorasi laut Indonesia masih minim yakni belum mencapai 15 persen, sehingga riset dan data kelautan perlu diperkuat.

Diterbitkan 10 Maret 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Eksplorasi laut Indonesia masih sangat terbatas (<15%) meski kaya keanekaragaman hayati.
  • Keanekaragaman hayati laut terancam; pendidikan dan riset krusial untuk keberlanjutan.
  • Pendanaan riset dan pemberdayaan masyarakat pesisir penting untuk potensi kelautan.

Liputan6.com, Jakarta - Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Budi Setiadi Daryono, menyatakan eksplorasi laut di Indonesia hingga saat ini masih sangat terbatas, yakni belum mencapai 15 persen dari keseluruhan potensi wilayah perairan nasional.

Ia menilai keberadaan data kemaritiman memiliki peran krusial untuk mengidentifikasi potensi sumber daya laut yang tersebar di berbagai kawasan perairan Indonesia.

"Data maritim ini sangat berharga. Laut Indonesia yang dieksplorasi juga belum ada 15 persen," kata Budi dalam keterangannya di Yogyakarta, melansir Antara, Minggu 8 Maret 2026.

Ia menjelaskan Indonesia dikenal sebagai salah satu negara megabiodiversity di dunia karena memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, sehingga menempatkannya pada peringkat kedua atau ketiga terbesar di tingkat global.

Dengan sekitar dua pertiga wilayah Indonesia berupa perairan, sebagian besar kekayaan keanekaragaman hayati tersebut berada di kawasan maritim, meskipun potensinya masih belum dimanfaatkan dan dieksplorasi sepenuhnya..

Menurut dia, sejumlah satwa laut kini menghadapi ancaman kepunahan akibat aktivitas perburuan serta menurunnya jumlah populasi di alam.

Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan perlindungan bagi beberapa satwa langka, di antaranya enam spesies penyu, duyung (dugong), hiu paus, pari manta, pari gergaji, lumba-lumba, kima, dan ikan napoleon.

Pentingnya Pendidikan dan Riset untuk Masa Depan Maritim Indonesia

Budi menyampaikan bahwa kehidupan satwa tidak hanya berada di ekosistem daratan, tetapi juga mencakup berbagai spesies yang hidup di kawasan perairan laut.

Keberadaan satwa liar di wilayah maritim tersebut juga berkaitan dengan kondisi pulau-pulau kecil yang relatif rentan, yang sekaligus menjadi habitat alami bagi berbagai jenis satwa tersebut.

"Pola pikir dalam melihat pembangunan sudah saatnya digeser dari yang berlandaskan target pendapatan per kapita, menjadi pemberdayaan bagi semua pihak dengan tetap mempertahankan kekayaan dan keanekaragaman alam," tutur Budi.

Menurutnya, budaya kemaritiman di Indonesia mengalami banyak kemunduran akibat pemusatan pendidikan di kawasan perkotaan. Padahal, laut memiliki peran penting sebagai sumber pangan, bagian dari mata rantai perekonomian, sekaligus menjadi masa depan bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

"Sebuah bangsa akan berhasil jika sistem pendidikannya maju. Mau itu levelnya keluarga, daerah, sampai negara. Bangsa yang maju, pasti bangsa yang menitikberatkan prioritasnya ke pendidikan, sehingga sains dan alam dapat beriringan," kata Budi.

Pendanaan Penelitian Kelautan Perlu Diperkuat

Budi menekankan pentingnya dukungan pendanaan penelitian guna untuk menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi potensi kelautan di suatu wilayah.

Lanjutnya, kata dia, pemanfaatan sumber daya laut sering kali dilakukan oleh pihak eksternal, yang berpotensi mengancam ketersediaan sumber pangan masyarakat setempat.

Oleh karenanya, ia menilai masyarakat pesisir perlu didorong untuk memperoleh akses terhadap pengetahuuan dan data agar mampu mengidentifikasi serta memetakan potensi laut di wilayahnya secara  mandiri.

"Itulah yang akan menjadi salah satu solusi," tutup Budi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6