Pertanian Hidroganik, Jurus Jitu Ketahanan Pangan dan Urban Farming di Palu

Pemkot Palu mengandalkan pertanian hidroganik sebagai solusi urban farming untuk memperkuat ketahanan pangan. Caranya dengan memanfaatkan lahan sempit

Diterbitkan 06 Agustus 2026, 17:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Pemerintah Kota Palu mengembangkan sistem hidroganik untuk pertanian perkotaan produktif.
  • Sistem ini mengintegrasikan tanaman dengan kolam ikan, mengurangi ketergantungan pupuk kimia.
  • Pelatihan masyarakat dan budidaya awal dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Kota Palu mengembangkan sistem pertanian Hidroganik demi mendongkrak produktivitas pertanian. Hidroganik cocok diterapkan di kawasan perkotaan karena memadukan sistem hidroponik organik dengan optimalisasi lahan sempit.

“Kami mengembangkan hidroganik sebagai salah satu bentuk penerapan Urban Farming yang dapat memanfaatkan lahan sempit secara lebih produktif,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu Lukman di Palu.

Integrasi ini menggabungkan tanaman bermedia tanah-bokashi dengan kolam ikan di bawah instalasi yang menyuplai nutrisi secara alami. Melalui proses metabolisme ikan tersebut, pasokan hara tanaman dapat terpenuhi sekaligus menekan ketergantungan pada pupuk kimia.

Sistem hidroganik cukup fleksibel untuk beragam jenis komoditas. Mulai dari sayuran daun, cabai, tomat, bawang, sampai padi.

Tahap awal pengembangan, Pemkot Palu menyebar 3.000 benih lele serta 1.000 benih nila di dua unit instalasi. Tak hanya sektor perikanan, penanaman bawang merah dan varietas khas Lembah Palu turut dimulakan sebagai komoditas perdana.

“Ini menjadi langkah awal pengembangan model pertanian perkotaan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan di Kota Palu,” ucapnya, seperti dilansir Antara.

Pelatihan Perkuat Penerapan Hidroganik di Masyarakat

Pengembangan hidroganik harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas masyarakat. DPKP Kota Palu menggelar pelatihan bagi 40 peserta dari unsur petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), dasawisma, hingga penyuluh pertanian.

Pembekalan materi dan praktik diberikan langsung oleh Owner Bengkel Mimpi asal Kabupaten Malang selaku pakar teknologi hidroganik.

Tak hanya budidaya hidroganik, para peserta juga dilatih membuat komposter untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk padat dan cair.

Lukman mengatakan, keterampilan tersebut direncanakan diterapkan dalam Program Kelurahan Menanam sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah organik di tingkat masyarakat.

Ia berharap penerapan hidroganik dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, menyediakan pangan sehat bagi warga, serta menciptakan kawasan perkotaan yang produktif dan berwawasan lingkungan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6