Lima Klaster Budidaya Rumput Laut, Mesin Penggerak Ekonomi Pesisir NTT

Pemprov NTT menyiapkan lima klaster budidaya rumput laut untuk memperkuat ekonomi pesisir melalui industri rumput laut yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Diterbitkan 07 Agustus 2026, 08:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • NTT membentuk lima klaster budidaya rumput laut untuk integrasi industri hulu-hilir.
  • Pengembangan rumput laut NTT terhambat masalah hulu (bibit) dan hilir (nilai tambah).
  • Strategi ekonomi biru dan kolaborasi tingkatkan produksi, nilai tambah, dan kesejahteraan.

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah megembangkan lima klaster budidaya rumput laut untuk mempercepat pengembangan industri rumput laut guna membangun ekosistem usaha yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

Pelaksana Tugas Kadis Kelautan dan Perikanan NTT Stefania Tunga Boro menyebutkan, lima klaster budidaya meliputi penyediaan bibit unggul, pembangunan kebun bibit, penguatan kapasitas pembudidaya, hingga pengembangan industri pengolahan. 

Meski rumput laut menjadi komoditas unggulan pendorong ekonomi pesisir di NTT, Pemprov mencatat pengembangannya masih terhambat masalah di hulu dan hilir.

Budidaya Rumput Laut

Sektor hulu dihadapkan pada kelangkaan bibit unggul yang berkelanjutan, serangan penyakit ice-ice serta penurunan kualitas air akibat perubahan iklim.

Masalah makin kompleks akibat minimnya penerapan teknologi modern dan CBIB, serta optimalisasi lahan budidaya yang belum maksimal.

Sementara di sektor hilir, mayoritas hasil panen masih dijual dalam bentuk kering sebagai bahan baku. Sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati daerah pemroses industri pengolahan.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur logistik, akses pembiayaan, standarisasi mutu, sertifikasi produk, hingga akses pasar ekspor masih menjadi tantangan utama

"Melalui pengembangan lima klaster budidaya, pemerintah daerah berharap rantai pasok rumput laut dapat diperkuat sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan di NTT agar nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati masyarakat setempat,” ujar dia, seperti dilansir Antara.

Pemprov NTT Perkuat Budidaya Berkelanjutan

Pngembangan rumput laut diarahkan sejalan dengan prinsip ekonomi biru (blue economy) agar peningkatan produksi tetap menjaga kelestarian ekosistem pesisir dan laut.

Untuk mendukung langkah tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bersama Ditjen Perikanan Budidaya KKP dan para mitra terus mendampingi pembudidaya melalui penyuluh perikanan.

Pendampingan tersebut mencakup penerapan CBIB, mulai dari pemilihan lokasi sesuai daya dukung lingkungan, penggunaan bibit berkualitas, pengaturan jarak tanam, pemeliharaan ramah lingkungan, pengelolaan limbah, hingga teknik panen dan pascapanen.

Ketahanan Ekosistem Pesisir

Dia menambahkan, kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan investor terus diperkuat guna menghadirkan inovasi teknologi yang efisien, adaptif iklim, dan berkelanjutan.

Lewat strategi ini, Pemprov NTT menargetkan rumput laut menjadi penggerak ekonomi biru yang mampu meningkatkan daya saing, menciptakan nilai tambah, serta mendorong kesejahteraan warga pesisir.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6