Kuburan Massal Terbesar Menguak Tabir Hilangnya Ribuan Nyawa di Sri Lanka

Penemuan kuburan massal terbesar di Chemmani, Sri Lanka, mengungkap 572 kerangka, termasuk anak-anak.

Diterbitkan 21 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Sri Jayawardenapura Kotte- Sebuah kuburan massal ditemukan secara tidak sengaja di Chemmani, wilayah Jaffna, Sri Lanka utara. Para pekerja yang sedang memperluas area kremasi tiba-tiba menemukan sisa-sisa manusia.

Beberapa bulan kemudian, skala penemuan itu mulai terlihat.

Dikutip dari BBC, Senin (21/9/2026), hingga Agustus, para arkeolog telah menyelesaikan tahap ketiga penggalian dan menemukan kerangka 572 orang, termasuk anak-anak dan bayi. Di antara jasad tersebut ditemukan benda-benda yang mengingatkan pada kehidupan para korban yaitu gelang, tas sekolah, dan botol susu.

Lokasi itu diyakini sebagai kuburan massal terbesar yang pernah ditemukan di Sri Lanka.

Bagi keluarga ribuan orang yang hilang selama perang saudara, penemuan tersebut menghadirkan harapan sekaligus membuka kembali luka lama.

Mereka berharap jasad-jasad di Chemmani dapat memberikan jawaban tentang nasib orang-orang yang selama bertahun-tahun mereka cari.

Keberadaan kuburan massal di Chemmani sebenarnya bukan kabar baru.

Pada akhir 1990-an, seorang tentara yang diadili karena memperkosa dan membunuh seorang perempuan muda pernah memberikan kesaksian tentang kuburan yang disebut berisi ratusan jasad.

Kelompok hak asasi manusia saat itu mengatakan jasad-jasad tersebut merupakan warga sipil yang hilang.

Namun, tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan dugaan tersebut.

Kesaksian itu kemudian mendorong penggalian pertama di Chemmani. Lebih dari 10 kerangka manusia ditemukan. Aktivis hak asasi manusia meyakini jasad-jasad itu berkaitan dengan orang-orang yang menghilang selama perang saudara.

Namun, penyelidikan tidak berlanjut secara berarti.

Kini, penemuan 572 kerangka kembali menghidupkan pertanyaan lama yang belum terjawab.

Banyak warga Tamil meyakini lokasi tersebut menyimpan korban pembunuhan di luar proses hukum selama perang saudara. Mereka menyerukan penyelidikan menyeluruh dan keadilan.

2 Dekade Mencari Seorang Ayah

Bagi Jeyaruby Jayapalan, Chemmani bukan sekadar lokasi penemuan arkeologis.

Ayahnya, Kandaiah Jayapalan, menghilang pada September 1996. Saat itu Jeyaruby baru berusia 12 tahun.

"Saya berusia 12 tahun ketika ayah saya dibawa oleh tentara Sri Lanka di sebuah pos pemeriksaan dekat kawasan Chemmani pada September 1996. Kami masih tidak tahu apa yang terjadi padanya," katanya kepada BBC.

Setelah ayahnya menghilang, keluarganya mendatangi kamp militer dan kantor polisi di seluruh Jaffna untuk mencari informasi. Namun, pencarian itu tidak membuahkan hasil.

Kandaiah merupakan pegawai pemerintah yang juga menjalankan sebuah kafe di pinggir jalan, tidak jauh dari Chemmani.

Ketika kuburan massal kembali ditemukan, Jeyaruby datang ke lokasi bersama banyak orang lain dengan harapan mendapatkan jawaban.

Namun, ia tidak menemukan bukti yang dapat mengaitkan ayahnya dengan jasad yang ditemukan.

"Kami ingin analisis forensik yang mendetail terhadap jasad-jasad manusia tersebut," ujarnya.

 

Kasus yang Pernah Mengguncang Sri Lanka

Dua pekan sebelum Kandaiah menghilang, seorang siswi Tamil berusia 18 tahun, Krishanthi Kumaraswamy, juga menghilang di kawasan yang sama.

Pada 1998, pengadilan di Colombo menjatuhkan hukuman mati kepada lima tentara karena memperkosa dan membunuh Kumaraswamy serta membunuh tiga anggota keluarganya.

Kasus itu mendapat perhatian internasional. Jasad mereka kemudian ditemukan terkubur di kawasan Chemmani.

Lokasi kuburan massal yang kini sedang diselidiki berada kurang dari 100 meter dari tempat jasad Kumaraswamy dan anggota keluarganya ditemukan.

Dalam kesaksian di pengadilan, salah satu tentara yang dihukum, Somaratne Rajapakse, mengatakan bahwa antara 300 dan 400 orang yang dibunuh pada pertengahan 1990-an dikuburkan di Chemmani.

Kesaksian tersebut menjadi dasar penggalian pertama di kawasan itu setahun kemudian.

Namun, meski kerangka ditemukan, tidak ada tindak lanjut hukum yang berarti.

Cara Jasad Ditemukan Picu Pertanyaan

Pemeriksaan terbaru kembali menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana jasad-jasad tersebut dikuburkan.

Gehan Gunatilleke, komisaris Komisi Hak Asasi Manusia Sri Lanka, mengatakan pemeriksaan awal menunjukkan lokasi tersebut bukan tempat pemakaman biasa dan tidak sesuai dengan praktik pemakaman Hindu pada umumnya.

Para aktivis dan pakar juga mencatat kondisi jasad yang ditemukan.

Sebagian besar kerangka ditemukan tanpa pakaian, ditempatkan berdekatan dan, dalam beberapa kasus, ditumpuk satu di atas yang lain. Kuburan tersebut relatif dangkal, dengan jasad berada sekitar satu hingga dua meter di bawah permukaan tanah.

Dalam laporan tahun lalu, Komisi Hak Asasi Manusia Sri Lanka menyatakan terdapat kemungkinan yang masuk akal bahwa penguburan tersebut dilakukan secara melanggar hukum dan berkaitan dengan pembunuhan di luar proses hukum.

Keluarga korban kembali menungguPenemuan itu membuat keluarga orang-orang yang hilang kembali berkumpul dalam pertemuan dan upacara peringatan.

Suseela, 65 tahun, adalah salah satunya. Ia masih mencari putranya, Gnanaseelan Ravi, yang dibawa militer Sri Lanka pada 2007 ketika berusia 24 tahun.

"He was my only son, and I keep crying every day remembering him. My life is empty without him," katanya kepada BBC.

Suseela telah mendatangi Chemmani. Namun, ia tidak menemukan pakaian, perhiasan, atau benda pribadi lain yang dapat menunjukkan bahwa putranya berada di antara jasad yang ditemukan.

Tes DNA terhadap kerangka tersebut juga belum dilakukan.

Seluruh jasad yang telah ditemukan sejauh ini disimpan di Departemen Forensik Universitas Jaffna dalam pengawasan pengadilan.

Prof Raj Somadeva, arkeolog utama yang menangani penggalian, mengatakan laporan sementara akan diserahkan kepada pengadilan pada akhir September.

Sebagian sampel diperkirakan akan dikirim ke luar negeri untuk pemeriksaan lebih lanjut guna membantu menentukan usia jasad. Analisis medis juga diperlukan untuk mengetahui kemungkinan penyebab kematian.

 

Pengalaman Masa Lalu Membuat Keluarga Skeptis

Chemmani bukan satu-satunya lokasi kuburan massal di Sri Lanka.

Lebih dari 20 kuburan massal telah ditemukan di berbagai wilayah negara tersebut dalam beberapa dekade terakhir. Namun, tidak satu pun yang secara meyakinkan dikaitkan dengan penghilangan paksa atau dugaan pembunuhan di luar proses hukum di wilayah utara dan selatan. Tidak ada pula yang berujung pada penuntutan.

Kondisi itu membuat banyak warga Tamil meragukan hasil penyelidikan terbaru.

Mereka mengingat kasus di Mannar, Sri Lanka barat laut. Pada 2018, lebih dari 350 kerangka ditemukan di sebuah kuburan massal di kota tersebut. Namun, penyelidikan akhirnya tidak menghasilkan kesimpulan dan meninggalkan kekecewaan bagi banyak keluarga.

Kini, mereka meminta agar Sri Lanka dirujuk ke Mahkamah Pidana Internasional.

Pemerintah Janjikan Penyelidikan

Pemerintah Presiden Anura Kumara Dissanayake menyatakan akan bekerja sama sepenuhnya dalam penyelidikan Chemmani.

Setelah berkuasa pada September 2024, Dissanayake berjanji berupaya mewujudkan keadilan dan rekonsiliasi etnis. Namun, pemerintahannya menolak mekanisme internasional untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang selama konflik etnis.

Menteri Kehakiman Sri Lanka Harshana Nanayakkara mengatakan penggalian akan terus dilakukan.

"Kami perlu menganalisis kerangka dan mengetahui bagaimana orang-orang ini meninggal. Kemudian kami harus melakukan tes DNA," katanya kepada BBC.

Pemerintah juga telah meminta keluarga memberikan sampel DNA yang nantinya dapat dibandingkan dengan jasad yang ditemukan.

Saat mengunjungi Chemmani pada Juni, Nanayakkara menjanjikan penyelidikan untuk mencari keadilan dan kebenaran serta mengakhiri persoalan tersebut. Ia juga mengatakan pendanaan yang diperlukan untuk penggalian akan dialokasikan.

Namun, militer Sri Lanka membantah tuduhan bahwa pasukan keamanan menguburkan warga sipil setelah membantai mereka.

Juru bicara militer, Brigadir Waruna Gamage, mengatakan kepada BBC:

"Semua tuduhan harus dibuktikan di pengadilan."

Di Chemmani, penggalian masih berlanjut. Bagi keluarga yang telah menunggu selama bertahun-tahun, setiap kerangka yang ditemukan bukan hanya bagian dari masa lalu, tetapi kemungkinan jawaban atas pertanyaan yang selama puluhan tahun belum terjawab.